Ngatono, Seorang Difabel Berusia Lanjut Yang Setia Merawat Ibunya

oleh -
Ngatono setia merawat ibunya yang sudah berusia 100 tahun. Foto: Atmaja.
iklan dispar
Ngatono setia merawat ibunya yang sudah berusia 100 tahun.  Foto: Atmaja.
Ngatono setia merawat ibunya yang sudah berusia 100 tahun. Foto: Atmaja.

PLAYEN, (KH) —  Keterbatasan fisik bukan suatu halangan seorang anak untuk mencurahkan cinta kasih dan merawat orangtuanya. Ngatono (65), pria yang telah berusia laniut dan mengalami tuna rungu dan tuna wicara ini tetap gigih merawat ibunya.

“Ia menderita tuna wicara dan tuna rungu sejak kecil, namun tetap gigih dalam bekerja maupun merawat saya,” ucap Sepi, ibu Ngatono yang telah berusia 100 tahun ini..

Sepi menjalani kehidupan sehari-hari bersama Ngatono anak semata wayangnya dalam sebuah kebersahajaan di Wiyoko Tengah, Playen. Rumah dinding bambu yang ditempatinya menunjukkan keterbatasan mereka secara materi, namun kepada rombongan wartawan yang datang ke rumahnya mereka tetap memancarkan rasa syukur atas kehidupan lewat bahasa tubuh dan juga pembicaraannya.

Rasa penuh syukur ibunya Ngatono tersebut terucap dalam pembicaraan yang masih lancar kepada KH yang turut berkunjung ke rumahnya, Senin (13/4/2015). Saat ini, Bu Sepi memang sudah tidak mampu lagi untuk berjalan. Dalam menjalani masa tuanya tersebut, Ngatono lah yang setia menemani dan merawatnya.

Ngatono memang tidak berkeluarga. Saat pagi hari, ia pergi ke ladang untuk mencari pakan dua kambing miliknya. Ngatono memang tidak sempurna seperti orang lain pada umumnya, tetapi kegigihannya dalam bekerja mungkin mengalahkan seseorang yang mempunyai fisik yang sempurna.

Bu Sepi mengungkapkan, Ngatono bahkan menjual kambing peliharaannya untuk membayar sewa sawah lungguh milik desa. Dari tanah garapan itu, mereka mendapatkan hasil pertanian untuk mencukupi sebagian kebutuhan hidupnya. Setelah selesai menggarap ladang, setiap hari Ngatono pulang untuk membuatkan makanan dan memandikan Sepi.

“Yang membuatkan masakan ya anak saya itu. Meski tidak bisa berbicara dan sulit mendengar, tetapi ia sangat menyayangi saya dan merawat saya,” ungkap Sepi.

Saat ditemui KH, Ngatono tampak ingin menyampaikan sebuah pesan, namun terkendala karena ia tidak bisa berbicara. Dengan bahasa tubuh ia ingin menyampaikan, bahwa Sepi tidak lagi bisa berjalan akibat terjatuh. Tampak Ngatono meneteskan air mata sambil memeluk Sepi ibundanya. (Atmaja).

Komentar

Komentar