Menikmati Kuliner Legendaris Soto & Bakso Wariyun

oleh -
Warung Bakso dan Soto Wariyun. Foto : KH/Kandar
iklan dispar
Warung Bakso dan Soto Wariyun. Foto : KH/Kandar
Warung Bakso dan Soto Wariyun. Foto : KH/Kandar

WONOSARI, (KH) — Dua kios yang tidak begitu luas itu, jarang sekali terlihat sepi, apalagi pada jam-jam makan. Baik tua maupun muda silih berganti keluar masuk menikmati salah satu kuliner di Gunungkidul yang sudah tidak asing, yaitu Soto & Bakso Wariyun.

Sebutan kuliner Soto & Bakso Wariyun adalah nama panggilan spontanitas saja dari para pelanggannya. Karena memang pada awalnya si penjual tidak membuat nama dagang, maka pelanggan memberikan nama dagang atau merek sesuai nama pendirinya, Wariyun.

Saat KH bertemu di salah satu kiosnya di depan Pasar Argosari, tepatnya komplek Taman Parkir Wonosari, ia begitu sibuk melayani pengunjung. Pengunjungnya terdiri dari kalangan pegawai perkantoran pemerintahan, swasta, pedagang pasar. Masyarakat dari berbagai wilayah di Gunungkidul yang memiliki keperluan di Wonosari pun terkadang mampir di kiosnya.

Dwi Warsono, menantu Wariyun memberikan keterangan kepada KH. bahwa memiliki banyak pelanggan seperti sekarang ini bukanlah melalui proses yang singkat. Ia menceritakan, mertuanya Wariyun mengawali dagang bakso dengan berjualan bakso keliling dengan gerobak di wilayah Magelang sekitar tahun 1970-an.

Baru pada tahun 1987, Wariyun memilih berjualan menetap di kios pertamanya di komplek Taman Parkir Wonosari. Sebelumnya, sempat berjualan keliling di seputar kota Wonosari. Menurutnya, rasa yang tetap terjaga selama puluhan tahun, membuat orang yang pernah mencoba merasakan soto atau bakso akan kembali datang.

Selain masyarakat lokal, warga perantauan yang sedang mudik tidak sedikit yang langsung menuju warungnya. Mereka bernostalgia menikmati soto dan bakso. Sedangkan untuk rutinitas kunjungan bulanan, biasanya pada tanggal muda jumlah kunjungan mengalami peningkatan.

“Banyak yang bilang, kalau makan di sini selain rasa tidak berubah-ubah. Sensasi sambalnya bikin berkeringat, mantap, dan atau istilahnya gembrobyos, trengkes, pyar, (baca,red: bergairah),” ujar Dwi, Selasa, (8/4/2015).

Berkat rasa yang teruji itu, kini usahanya berkembang. Sekitar tiga tahun terakhir tiga cabang baru telah dibuka dua cabang di Wonosari, dan satu di Semanu. Wariyun, sang pemilik usaha ini mengakui, karena semakin banyaknya pilihan kuliner yang akhir-akhir ini marak, hasil usahanya agak mengalami penurunan.

“Ya memang sedikit menurun, itu hal biasa saja, soalnya banyak pesaingnya,” kata Wariyun sedikit menambahkan.

Terkait perkembangan kuliner di Gunungkidul yang tergolong pesat, sehingga sedikit berdampak pada usahanya, Wariyun memiliki kiat bahwa akan tetap setia melayani pelanggan sejak pagi hari dari pukul 06.00 WIB hingga malam pukul 19.30 WIB. (Kandar)

Komentar

Komentar