Ribuan Warga Bejiharjo Menekuni Bisnis Jualan Bakso

oleh -
Supanto. (KH/Kandar)
iklan dispar

KARANGMOJO, (KH),— Bakso Telkom dan Bakso Baskom, merupakan dua diantara sederet warung bakso yang terbilang populer di Yogyakarta. Selain populer, dua nama warung bakso tersebut terbilang legendaris. Sebab telah dirintis dan didirikan sejak belasan hingga puluhan tahun silam.

Mungkin sedikit yang tahu, bahwa dua merek bakso tersebut dirintis warga Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Kalurahan Bejiharjo memang identik dengan bakso. Bukan hanya wilayah yang menelurkan pebisnis bakso yang kemudian populer, namun kalurahan yang hits dengan wisata Gua Pindul ini juga cukup banyak melahirkan banyak pedagang bakso.

Supanto (63) salah satu pengurus paguyuban bakso di Bejiharjo bahkan menyebut, jumlah pedagang bakso asal Bejiharjo baik yang berjualan di kampung halaman Gunungkidul, maupun menjadi perantau ke berbagai kota, mencapai ribuan.

“Pedangang bakso asal Bejiharjo mencapai ribuan. Selain Bejiharjo, Kalurahan Dadapayu, Semanu juga menjadi wilayah yang menjadi sumber pedagang bakso,” kata Supanto saat ditemui di kediamannya, Kamis (15/10/2020) siang.

Jumlah pedagang bakso yang tidak sedikit dari Kalurahan Bejiharjo itu bukan suatu kebetulan. Ada tokoh yang menjadi pionir atau mengawali. Menurut Supanto, dibalik munculnya ribuan pedagang Bakso salah satunya diawali Tris Tukiran (alm).

Supanto mengisahkan, Tris Tukiran pada tahun 1940-an bekerja di tempat usaha milik orang Cina di Yogyakarta. Menurut ingatannya juga, usaha warga Cina tersebut bergerak disektor pangan berupa olahan daging diantaranya menjadi bakso. Salah satunya berawal dari Tris Tukiran ini, banyak warga asal Bejiharjo kemudian ikut tergabung. Saat Tris Tukiran tak lagi bekerja, ia kemudian memulai jualan bakso sendiri. Begitu juga dengan warga yang lain. Meniru atau mengalami perjalanan yang sama. Tak lagi ikut bekerja dengan warga Cina, lantas buka usaha jualan bakso.

Dari masing-masing warga yang kemudian merintis usaha jualan bakso itu, praktis banyak menyedot sumber daya dari Bejiharjo. Dari satu warga yang merintis jualan bakso, ada saudara, keluarga dan tetangga yang kemudian ikut tergabung menjadi tenaga. Seiring waktu berjalan, banyak diantara para tenaga itu kemudian membuka warung bakso sendiri. Dari situ terus bermunculan pedagang bakso baru. Tak hanya membuka warung di seputar Yogyakarta, warga yang kemudian merantau ke kota-kota besar di Jawa juga merintis usaha yang sama.

Sekitar tahun 1970-an jumlah warga dari Bejiharjo yang menekuni usaha jualan bakso sudah terbilang cukup banyak. Baik mangkal maupun jualan secara keliling. Tak hanya di kota besar di Pulau Jawa, sebagian diantaranya sukses di Sumatera dan Sulawesi.

Warung Bakso Baskom milik warga Bejiharjo. Foto : Kandar

Peristiwa yang membuat Supanto heran seputar kisah ‘Bejiharjo dan bakso’ pernah dialami. Suatu ketika pernah digelar workshop skala nasional seputar wirausaha berbasis pangan oleh sebuah departemen/ kementerian. Dari perwakilan 32 propinsi yang hadir, banyak diantaranya merupakan warga Gunungkidul atau setidaknya dari Yogyakarta. Sebagian besar juga menggeluti usaha bakso di propinsi tempat merantau.

Lebih jauh Supanto bercerita, usaha jualan bakso juga dinilai kuat dengan terpaan krisis. Saat banyak sektor usaha terseok-seok atas krisis moneter 1998, para pedagang bakso tetap eksis. “Seolah tak terpengaruh,” ujar Supanto bangga.

Perkembangannya dalam waktu belakangan ini, Bejiharjo menjadi sasaran program Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur. Yakni program unggulan Gubernur dan Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang diadakan oleh Kementrian Pedesaan, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes RI). Selain Bejiharjo, kalurahan Putat, Patuk, Gunungkidul juga menjadi sasaran program tersebut. Bejiharjo dengan pengembangan produk bakso, sementara Putat dengan produk olahan Kakao.

Sebagaimana diketahui, G2R Tetrapreneur merupakan gerakan gotong royong wirausaha desa berbasis 4 pilar yaitu rantai (Tetra 1), pasar (Tetra 2), kualitas (Tetra 3), dan merek wirausaha (Tetra 4) yang bertujuan untuk mengangkat kemandirian dan kewibawaan produk desa menjadi ikon-ikon dunia.

“Kami sekarang punya produk ungulan Basreng, yakni Bakso Goreng. Basreng dibuat dan dikemas secara modern. Impian pemasarannya kelak laku hingga manca negara,” harap lelaki yang menjabat manajer budaya dalam kepengurusan di G2R Tetrapreneur Kalurahan Bejiharjo.

Bagi warga Bejiharjo, usaha jualan bakso tak berhenti pada urusan ekonomi domestik masing-masing rumah tangga. Bisnis bakso juga menjadi jalan pembangunan wilayah. Sudah sejak beberapa tahun lalu, warga perantau yang tergabung dalam Paguyuban Warga Rantau (PWR) yang sebagian besar berwirausaha jualan bakso memiliki agenda berderma bagi kampung halaman. Dana yang terkumpul dari PWR dialokasikan untuk ikut membangun fasilitas publik berupa jalan cor beton, pos ronda, tempat ibadah dan lain-lain.

[Kandar]

Komentar

Komentar