LPKA di Rutan Wonosari Diresmikan

oleh -
Peresmian LPKA di Rutan Wonosari. Foto : KH/Dwianjani
iklan dispar
Peresmian LPKA di Rutan Wonosari. Foto : KH/Dwianjani
Peresmian LPKA di Rutan Wonosari. Foto : KH/Dwianjani

WONOSARI, (KH) — Kepala Kantor Wilayah Kanwil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DIY, Dwi Prasetyo Santoso meresmikan langsung Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Rutan Kelas II B Wonosari, Rabu (05/08).

Dengan cara simbolis, Dwi Prasetyo membuka tirai plang nama sekolah filial, dan dirobohkannya teralis besi di kompleks LPKA Rutan Kelas II B Wonosari. Dwi Prasetyo didampingi segenap Muspida Gunungkidul, seperti Assek 1 Bidang Pemerintahan, Tomy Harahap; Kepala DPRD Gunungkidul, Kepala Kejari, dan Kepala Bapas.

Dwi Prasetyo menjelaskan, peresmian LPKA dilakukan serentak di seluruh Indonesia dengan dipusatkan di Kota Bandung. Dari 33 LPKA yang diresmikan tersebut, 7 merupakan LPKA Klas I dan 26 LPKA Klas IIB. Salah satunya LPKA di Rutan Kelas II B Wonosari yang menampung 19 anak yang terikat kasus hukum di DIY.

Ia menambahkan, di LPKA, anak akan mendapatkan pendidikan, latihan keterampilan, dan pembinaan sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan di LPKA akan diberikan pendidikan formal yang terdiri dari pendidikan wajib belajar 9 tahun (SD-SMP), SMA atau SMK. Untuk LPKA Wonosari, sekolah filial tersebut diberi nama Ksatrian Prenggondani.

“LPKA dan LPAS diresmikan sebagai komitmen pemerintah atas pemberlakuan UU Sistem Peradilan Pidana Anak No 11 Tahun 2011. UU baru ini mengedepankan keadilan restoratif dan proses diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan yang kerap menimbulkan stigmasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum, sehingga diharapkan mereka dapat kembali ke lingkungan sosialnya secara wajar,” ucapnya.

Ia berharap dari 19 anak yang ditangani saat ini, ke depannya tidak akan bertambah lagi. Penanganan diversi sebelum anak menjalani proses hukum, selalu diutamakan oleh para penegak hukum.

“Semoga tidak terus bertambah,” pungkasnya. (Maria Dwianjani)

Komentar

Komentar