Tupon Warga Tepus Rajin Pasok Lempeng dan Pathilo ke Pasar Argosari

oleh -
iklan dispar
Tupon warga Sidoharjo Tepus sedang menjemur produk lempeng dan pathilo. KH/Atmaja.
Tupon warga Sidoharjo Tepus sedang menjemur produk lempeng dan pathilo. KH/Atmaja.

TEPUS, (KH) — Ketela selain terkenal sebagai bahan baku pembuatan tiwul, juga dapat dijadikan makanan khas lain seperti lempeng dan patilo. Makanan berbahan baku ketela tersebut diolah secara tradisional oleh warga. Adapun pembuatan harus melalui beberapa tahap untuk menghasilkan makanan sejenis kerupuk tersebut.

Desa Sidoharjo Kecamatan Tepus dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin produk lempeng dan patilo di Gunungkidul. Tupon (40), salah satu pengrajin lempeng dan patilo mengaku, ia telah menekuni pekerjaan ini sejak lulus Sekolah Dasar. Berbekal ketrampilan yang diturunkan oleh kedua orang tuanya, ia sampai saat ini menekuni usaha tersebut sebagai pekerjaan pokok.

“Dipasarkan di pusat oleh-oleh, kadang juga ada pesanan dari tetangga yang ada di kota-kota besar,” ujar Tupon kepada KH.

Dengan dibantu suaminya, dalam waktu seminggu keluarga ini dapat memasok antara 10 – 15 kilogram produk lempeng dan patilo ke pasaran. Satu kilogram lempeng dan patilo dijual Rp 12-15 ribu. Tupon juga selalu memasok dagangannya ke Pasar Argosari Wonosari.

“Karena jika ketela dijual dalam bentuk gaplek harganya sangat rendah. Memang membutuhkan proses agak lama untuk membuat lempeng dan patilo namun harganya lebih tinggi dibanding gaplek,” jelasnya.

Menurut Tupon, sekali proses pembuatan lempeng dan patilo memerlukan waktu sekitar 2 hari. “Proses pembuatan pertama ketela yang sudah dibersihkan direndam dengan air garam, kemudian digiling, baru dijemur kurang lebih 1 hari jika cuaca baik,” tandasnya. (Atmaja).

Komentar

Komentar