Mengenal Jenis Teknik Penanaman Sayur Sistem Hidroponik

oleh -
Budi Kuncoro SP dengan tanaman Hidroponiknya di BP3K Wonosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Budi Kuncoro SP dengan tanaman Hidroponiknya di BP3K Wonosari. KH/ Kandar
Budi Kuncoro SP dengan tanaman Hidroponiknya di BP3K Wonosari. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Sudah mulai berkembang beberapa waktu terakhir di Gunungkidul, cara penanaman sayuran dengan sistem Hidroponik. Pengertian umum system tanam ini ialah menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan konvensional atau tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas, dan media tanam atau lokasi yang terbatas pula.

Kepada KH, beberapa waktu lalu THL  Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wonosari, Budi Kuncoro, SP berbagi ilmu tentang Sistem penanaman Hidroponik ini. Penjelasannya, system Hidroponik diawali dengan cara penyemaian benih, lalu sekitar 10 hingga 15 hari setelah tumbuh, sayuran dipindah ke Modul Instalasi.

Tekniknya, Modul Instalasi berfungsi sebagai tempat tanam (dapat berupa pipa) dan membuat air nutrisi berputar mengalir dengan pompa aquarium. Perwatan kemudian, hanya dengan menjaga cairan atau nutrisi tumbuhan tidak habis pada wadah utama.

Kedengarannya memang simpel tetapi ada beberapa hal penting yang harus diketahui sebelum berniat mencoba menanam sayuran sendiri di pekarangan rumah. Dilihat dari bahan dan cara kerja Modul Instalasi ini ada beberapa macam teknik, berdasar jenis tersebut terdapat sedikit perbedaan mengenai kebutuhan bahan dan biayanya.

Pertama yakni Deep Fluida Teknik (DFT), pengertian teknik ini ialah bahwa cairan nutrisi tanaman menggenang sekitar separuh dari tempat air yang dibuat. “Ada rekayasa di Indonesia, meski tegangan listrik mati lantas pompa air tidak menyala, maka air dalam pipa masih menggenang, tidak langsung habis, kondisi demikian dapat bertahan 10 hingga 24 jam kemudian,” paparnya.

Caranya, jelas dia, membuat lubang saluran air pada ujung pipa terletak pada tengah diameter pipa, bebeda dengan cara pada umumnya yang dibuat pada sisi bawah diameter pipa. Teknik DFT untuk sayuran yang akan diambil daunnya saja, seperti slada, sawi, bawang merah, bayam, kangkung dan lainnya.

Kedua, yakni teknik Nutrient Film Teknik (NFT), yaitu pemberian nutrisi dengan teknik aliran air yang tipis saja, hanya sekitar 3 mm. cara ini mengacu pada jenis tanaman.

“Ke tiga disebut dengan Dutch bucket, cara ini lebih tepat diterapkan kepada jenis tanaman yang akan diambil buahnya, sehingga pipa atau tempat tanaman tidak hanya berisi air nutrisi saja tetapi ada bahan padatan lain sebagai pegangan akar,” imbuh dia.

Bahan padatan diantaranya; seperti kerikil hidrotone yaitu batu apung dilapisi pewarna untuk mendapatkannya kebanyakan masih impor, pecahan bata, genting diberi juga sekam bakar atau cocopeat (serbuk sabut kelapa).

Sistem lainnya lagi yakni Aeroponik yaitu dengan membuat tanaman menggantng, kemudian ada  sprayer yang berfungsi menyemprotkan nutrisi ke tumbuhan. Sistem ini agak lebih mahal dibanding yang lain.

Terakhir teknik paling mudah yaitu Wick System, cara ini membutuhkan media seperti pot diberi sumbu, lalu dibawahnya ada tempat nutrisi, sumbu umumnya berupa kain flannel, ini sebagai perantara penyerapan nutrisi tumbuhan oleh akar.

“Di Indonesia paling secara umum memakai sistem DFT, NFT serta yang paling terjangkau dari segi biaya yaitu Wick System,” (Kandar)

Komentar

Komentar