Budidaya Sayur Hidroponik, dari Sekedar Hobi Menjadi Pilihan Bisnis

oleh -
hidroponik
Said Gunawan, warga Wonosari, Gunungkidul yang menekuni bisnis budidaya sayuran sistem hidroponik. (KH/ Edi Padmo)

WONOSARI, (KH),– Pertanian sistem Hidroponik dikenal sebagai sebuah inovasi di bidang pertanian. Hal mendasar yang membedakan antara sistem Hidroponik dengan sistem pertanian konvensional adalah pada media tanam. Pertanian Konvensional menggunakan media tanah, sementara Hidroponik menggunakan media tanam air.

Semua zat dan Nutrisi yang dibutuhkan tanaman, dengan dosis tertentu akan diberikan melalui media air. Ada banyak keunggulan produk dari sayur Hidroponik ini, diantaranya tidak terlalu membutuhkan lahan yang luas, sehingga cocok dikembangkan di wilayah perkotaan, atau Urban Farming.

Produk yang dihasilkan juga secara kuantitas dan kualitas akan mudah dijaga, dan ketersediaan produk untuk memenuhi permintaan pasar bisa kontinyu, karena sistem pertanian Holtikultur Hidroponik tidak terpengaruh musim.

Saat ini, pertanian dengan sistem Hidroponik telah banyak dikembangkan menjadi bisnis Agroculture yang menjanjikan. Di daerah perkotaan, lahan pertanian sangat terbatas akibat kebutuhan lahan untuk pemukiman. Untuk itu, pilihan sistem pertanian Hidroponik yang semula sekedar hobi serta alternatif saja kini menjadi bisnis yang semakin berkembang.

Adalah Said Gunawan, pria kelahiran Gunungkidul, 19 Mei 1977 ini memilih budidaya sayuran sistem Hidroponik sebagai bisnis baru.

Pandemi yang membuat usaha jual beli motor mengalami penurunan omset menjadi salah satu alasan merintis bisnis Hidroponik.

Pemilik Showroom Mulya Motor yang berada di Jalan KH. Agus Salim, Wonosari ini mengaku sepinya bisnis jual beli sepeda motor terjadi akibat daya beli masyarakat umum yang menurun akibat Pandemi. Hobi berkebun kemudian ia wujudkan dengan merintis budidaya sayuran Hidroponik.

“Awalnya saya iseng, mencoba menanam Kangkung di beberapa kolam ikan, saya memang hobi berkebun,” ujar Said saat ditemui KH di kebun Hidroponiknya di Padukuhan Besari, Senin (5/4/2021).

Menurut Said, awalnya dia tertarik dunia tanam-menanam sayuran. Di samping sekedar hobi, juga hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

“Rasanya lebih mantab, jika memasak dengan hasil kebun sendiri, kita bisa memilih jenis sayur dan langsung petik di kebun,” lanjutnya.

Usaha Said bisnis jual beli Sepeda Motor yang menurun drastis omsetnya sejak Pandemi melanda, memaksanya harus banyak berada di rumah. Untuk mengisi waktu luangnya, dia meneruskan hobinya berkebun di tanah pekarangan miliknya di Padukuhan Besari.

“Sekitar bulan Mei tahun lalu, oleh adik, saya dikenalkan dengan Bondan. Seseorang yang ahli dalam membuat instalasi Budidaya Holtikultur Hidroponik,” Said meneruskan cerita awal dia berbisnis Hidroponik.

Di bulan Mei itu, Said memesan 3 instalasi Hidroponik kepada Bondan. 3 instalasi ini berkapasitas tanam 1500 lubang. Instalasi terbuat dari paralon-paralon yang diatur sedemikian rupa, sehingga sistem pertanian Hidroponik dapat berjalan.

“Modal awal 3 instalasi ini, saya merogoh kocek sekitar Rp 7 jutaan,” terang pria asli Padukuhan Besari, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari ini.

Setelah Instalasi siap, Said mulai asik menekuni bisnis barunya, yaitu bertanam sayur Hidroponik. Awalnya dia menanam banyak sekali jenis sayuran, mulai dari Kangkung, Bayam, Sawi, Selada dan lainnya.

“Dengan menanam banyak jenis sayuran, saya mencoba menjajaki kemauan pasar. Komoditi apa yang paling punya peluang,” sambungnya.

Setelah berjalan beberapa kali panen, Said bisa mempelajari pasar. Untuk saat ini, dia memutuskan untuk serius budidaya jenis sayuran Selada Hijau.

“Selada Hijau, harga di pasaran stabil, berkisar di-angka Rp 20 ribu. Serapan pasar terhadap komoditi ini bagus, karena para petani belum banyak yang budidaya,” terang Said.

Dengan kegigihan Said dalam memasarkan produknya, perlahan produk sayur Hidroponik Said mulai mendapat tempat di pasaran. Saat itu dia memutuskan untuk lebih serius menekuni bisnis barunya ini. Hal ini dia buktikan dengan menambah jumlah Instalasi Hidroponiknya. Ddari semula hanya 1500 lubang, saat ini sudah mencapai 7500 lubang tanam.

Menurut Said, awal dia menawarkan produk sayur Selada Hidroponiknya memang sangat sulit, karena harganya mencapai Rp 20 ribu per Kilogramnya. Sementara jika bukan hidroponik Selada per Kilogram harganya Rp 10-15 ribu.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar