Mengabdi di Bidang yang Jarang Dilirik Anak Muda

oleh -
Triwik dan siswa ekskul seni tari SMAN 2 Playen bersiap pentas. KH/Triwik.
iklan dispar
Triwik dan siswa ekskul seni tari SMAN 2 Playen bersiap pentas. KH/Triwik.
Triwik Wahyuni (tengah) bersama siswa ekskul seni tari SMAN 2 Playen bersiap pentas. KH/Triwik.

WONOSARI, (KH) – Pilihan berkarya perempuan muda dari Dusun Kropak Desa Candirejo Semanu ini terbilang langka. Triwik Wahyuni (33) mantap menekuni pengabdian sebagai Guru Ekstrakurikuler Seni Tari.  Jam mengajar Triwik terbilang cukup padat, karena ia menjadi pengampu Ekskul Seni Tari pada 12 sekolah di Wonosari dan sekitarnya.

Sekolah tersebut antara lain: SMAN 2 Playen, SMA dan SMK Dominikus Wonosari, SD Mulo Baru, SD Gupakan 1 Tepus, SD Gupakan 2 Tepus, TK PKK 2 Candirejo Semanu, TK PKK 1 Candirejo Semanu, TK Masyitoh Nangsri Semanu, TK ABA Pule Gundes Tepus, TK ABA Ndloka Tepus, PAUD Permatahati Tepus, PAUD Matahari Nangsri Semanu, TK ABA Wonosari 4.

“Menjadi kepuasan tersendiri ketika mampu membimbing dan melatih anak-anak menari. Apalagi anak-anak memiliki kemauan dan gembira belajar tari klasik atau tari tradisional. Itu membuat saya makin bersemangat melatih mereka. Belajar tari klasik pada dasarnya merupakan dasar ketrampilan beragam rupa seni tari,” ujar Triwik kepada KH, Jumat (13/5/2016).

Dalam pergelaran Krida Budaya yang diselenggarakan SMAN 2 Playen, Minggu (8/5/2016) lalu, Triwik secara khusus membimbing kelas IPA 2. Kelas tersebut berhasil menyajikan pertunjukan Sendratari Panji Asmara Bangun yang mampu memikat penonton. “Apa yang disajikan anak-anak IPA 2 dengan sendratari klasik berbeda dengan penampilan kelas lainnya yang bercorak tarian modern,” kata Triwik.

Menurutnya, anak-anak antusias mempelajari skenario cerita sendratari tersebut. “Mereka penuh semangat belajar mulai dari dasar-dasar gerak tarian sampai bagaimana mewujudkan penjiwaan sesuai skenario cerita. Itu yang membuat saya bangga dan makin bersemangat menjadi pengajar,” tambahnya.

Kecintaan Triwik terhadap dunia seni tari memang tumbuh dan berkembang sejak usia belia. Sewaktu masih duduk di bangku SD, ia telah rajin berguru seni tari klasik kepada Yohanes Sutopo, budayawan dan seniman tari senior Gunungkidul. Ketika melanjutkan sekolah di SMPN 2 Semanu dan SMEA Muhammadiyah Wonosari, ia terus mendalami dan mengasah ketrampilannya berolah seni tari. Kemampuannya makin terasah melalui pentas-pentas di sekolah maupun event-event yang diadakan dalam lingkup wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Saat ini, Triwik juga mendirikan Sanggar Seni Selendang Kinanthi di rumahnya di Dusun Kropak Desa Candirejo Semanu. Anak-anak dan siapa saja yang mau belajar seni tari klasik bisa belajar di sanggarnya. “Tari klasik menjadi dasar pembelajaran di tempat kami. Karena dengan menguasai tari klasik, murid akan mampu berkembang berolah seni tari apa saja,” urai Triwik. Karena itu, tarian klasik seperti Gambyong dan Golek menjadi menu pelajaran wajib di sanggar tari yang didirikannya.

Di tengah-tengah aktivitasnya mengajar ekskul di berbagai sekolah, Triwik juga terus mengasah diri dengan mengikuti berbagai event pertunjukan dan latihan rutin. Berbagai workshop tari dan tata rias juga diikutinya. Ia juga aktif dalam kegiatan seni drama melalui perkumpulan Dewan Teater Yogyakarta.

Ibu dua anak ini mengaku bersyukur, siswa-siswa yang didampinginya dapat mengikuti pembelajarannya dengan penuh kegembiraan. Ia berkisah, selain pemahaman dan ketrampilan, diperlukan kesabaran saat mengajar, terutama pada siswa TK dan SD. Menurutnya, melatih tari anak SMA/SMK sebenarnya lebih mudah, hanya kesabaran lebih diperlukan saat-saat siswa sedang ogah-ogahan berlatih, karena belum merasakan kepuasan saat berhasil dalam pementasan. “Bagi saya, kegembiraan yang sangat memuaskan adalah siswa dapat tampil penuh percaya diri dan memuaskan penonton saat pentas,” timpalnya.

Pengalaman yang sangat berharga dan mengesankan bagi Triwik adalah saat ia pertama kali diminta oleh SMA YAPPI Wonosari untuk turut menggarap tarian kolosal kurang lebih 300 siswa pada suatu event yang digelar di Stadion Jeruksari Wonosari. Pengalaman menarik lainnya yang diungkapkan kepada KH adalah, saat mempersiapkan lomba tari anak TK. “Ini salah satu contoh kasus. Juknis dari panitia lomba mensyaratkan tarian tunggal dengan lama waktu 7-10 menit. Lha ini khan sebenarnya kurang klop diterapkan untuk usia anak-anak TK,” jelasnya. Ia berharap, dalam event-event pertunjukan atau perlombaan, penyenggara mengikutsertakan para guru tari, sehingga apa yang diharapkan penyelenggara sejalan dengan kondisi pembelajaran seni tari dalam tingkatan usia.

Di tengah kesibukannya sebagai guru ekskul seni tari, Triwik terus berusaha meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Saat ini ia juga sedang menempuh tahap akhir kuliah jurusan Pendidikah Guru PAUD di Universitas Terbuka.

Berbagai kesempatan pelatihan dan workshop seni tari dan drama juga ia ikuti. “Bulan September yang akan datang, saya terpilih mewakili DIY untuk mengikuti Workshop Tari se-Indonesia selama 17 hari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo Yogyakarta. Semoga kesempatan baik ini makin memperkaya pengalaman saya,” pungkasnya. (A. Widyaningtyas).

Komentar

Komentar