Melihat Pentas Wayang Beber, Warisan Seni Eksentrik Di Gunungkidul

Pertunjukan Wayang Beber Remeng Mangun Jaya di Padukuhan Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. KH/ Kandar.

Dalam satu kotak terdapat delapan gulungan. Empat gulungan berisi cerita perjalanan cinta Panji Asmara Bangun dan Galuh Candrakirana yang berasal dari kisah Babad Kediri. Pada salah satu gulungan lain, diperkirakan merupakan penggalan cerita Joko Tarub. Satu gulungan lagi tidak diketahui, sedangkan dua gulungan sisanya tidak boleh dibuka atas wasiat leluhur dengan alasan yang belum diketahui.

“Sampai saat ini kami bersama Ibu Rubiyem tidak berani membukanya,” imbuh Wisto. Sebab, Wayang beber tak hanya peninggalan benda seni semata, namun merupakan benda pusaka yang dianggap keramat. Karena usia yang cukup tua beberapa bagian wayang beber mengalami kerusakan, sedikit sobek dan rapuh. Untuk menjaga keutuhannya, dibuatlah duplikasinya oleh seniman sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Duplikasi dibuat sama persis dengan aslinya. Wayang beber duplikasi juga dipakai untuk pentas. Dengan beberapa pertimbangan agar tidak selalu wayang beber asli yang dipertunjukkan. Sehingga wayang beber asli dapat lebih awet.

Bacaan Lainnya

Wayang beber telah terkenal baik di dalam negeri maupun manca negara. Para pecinta seni kebudayaan, peneliti, institusi pendidikan, maupun lembaga yang berkepentingan dibidang sejarah telah mengunjungi untuk melakukan penelitian, peliputan, dan menyaksikan pertunjukkannya secara langsung. Tamu yang datang ada dari Kroasia, Jepang, Inggris dan Australia.

Rubiyem mengisahkan, sebelum ia terima, wayang dipegang atau dimiliki orang tuanya, Ki Sapartono. Ki Sapartono merupakan pengikut dalang. Oleh karena dalang tidak memiliki keturunan maka wayang diberikan kepada Ki Sapartono.

“Dahulu bapak sering diundang ke Solo, setiap pergi antara dua hingga tiga bulan lamanya. Ia biasa diundang untuk memainkan wayang. Buku pakem memainkan wayang tertinggal di Solo. Ada yang cerita buku dibawa orang Belanda,” kenang Rubiyem.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait