Mbah Mujiyah Mengakhiri Hidup di Dahan Pohon Nangka

oleh -
Tetangga pelaku mencari gelu tepat di bawah pelaku gantung diri, tetapi tidak ditemukani. KH/ Kandar.
iklan dispar
Warga Desa Siraman mencari gelu tepat di bawah pelaku gantung diri, tetapi tidak ditemukani. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Sabtu dini hari (11/2/2017), terjadi peristiwa bunuh diri di Desa Siraman Kecamatan Wonosari Gunungkidul. Seorang warga desa setempat yang telah berusia sepuh, Mujiyah (80) melakukan gantung diri di sebelah barat pekarangan rumahnya pada sebuah pohon nangka.

Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh cucunya sepulang dari main Sabtu, (11/2/2017) dini hari. Berdasar keterangan yang diberikan Polsek Wonosari, kejadian bunuh diri tersebut murni akibat gantung diri. Hal tersebut diperkuat melalui pemeriksaan petugas medis.

Peristiwa yang menyedihkan ini tercatat merupakan kejadian bunuh diri yang ke-3 di bulan Februari. Secara total di Gunungkidul, merupakan kejadian ke-9 pada tahun 2017.

Perbincangan tentang kematian jenazah menjadi hal biasa dilakukan para pelayat bercengkerama di rumah yang sedang berduka. Pembicaraan terkadang dilakukan hanya sebagai pelengkap perbincangan di samping kedatangannya melayat utamanya sebagai ungkapan bela sungkawa. Namun begitu berbeda saat pelayat menghadiri rumah duka kematian Mujiyah. Raut muka penuh tanya dan penasaran nampak jelas terlihat, kenapa gantung diri dilakukan.

KH mencoba menggali informasi dari para tetangga yang melayat. Mereka menyatakan, sakit sepertinya bukan menjadi alasan utama Mbah Mujiyah melakukan gantung diri. Daryono, Gito, dan tetangga lain menyebutkan, sakit yang diderita pelaku tidak begitu serius. Menurut mereka, sakit merupakan keluhan kesehatan yang tergolong wajar mengingat umur yang sudah tua.

Daryono mengungkapkan, beberapa kali ia mendengar, bahwa Mbah Mujiyah terlihat bingung, ia membawa tas berisi pakaian hendak pergi ke Jakarta. Katanya ingin menyusul anaknya.

“Kemarin sore juga, membawa tas berisi pakaian katanya hendak ke Jakarta menyusul anaknya,” Daryono menyahut pertanyaan di kerumunan para pelayat.

Diketahui, Mujiyah sehari-hari tinggal di rumah ditemani salah seorang cucu dari anaknya yang bekerja di perantauan. Sementara itu, bejejer di samping rumah yang ia diami juga tinggal anak kandung bersama keluarganya. Melihat bangunan rumah yang ditempati maupun milik anaknya yang berada di sampingnya, nampak bahwa kondisi ekonominya juga berkecukupan.

“Anak-anaknya sudah pada mapan kok ya begitu to, kurang apa coba?,” tanya salah satu pelayat yang penasaran dengan peristiwa yang dialami Mbah Mujiyah.

Dari obrolan dalam layatan tersebut diperoleh informasi, tetangga sekitar sebenarnya tahu akan kebingungan yang dialami Mujiyah, namun mereka sungkan untuk membantu karena nanti dipandang tidak elok.

Dalam suasana yang masih dilingkupi kebingunan misteri kematian gantung diri, ada pelayat yang hadir melontarkan pertimbangan untuk mencari gelu atau gumpalan tanah bulat persis di bawah lokasi pelaku gantung diri. Dalam keraguan pula tetangga mengeduk tanah di mana pelaku gantung diri.

Setelah cangkulan menembus tanah puluhan sentimeter, tidak juga ditemukan gelu. Warga lantas menyerukan agar dibuatkan saja dari tanah yang berada di bawah lokasi gantung diri tersebut. Gelu tersebut akan digunakan sebagai ganjal jasad jenazah di dasar liang kubur. (Kandar)

Komentar

Komentar