Masyarakat Minta Totalitas Semangat Dalam Mengabdi Kepada Gunungkidul

oleh -
Pintu Gerbang menuju Gunungkidul di Wilayah Patuk. KH/ Kandar.
kadhung tresno
Pintu Gerbang menuju Gunungkidul di Wilayah Patuk. KH/ Kandar.
Pintu Gerbang menuju Gunungkidul di Wilayah Patuk. KH/ Kandar.

WONOSARI, (KH)— Masih soal momentum hari jadi Gunungkidul, umur yang telah mencapai 185 tahun ini masyarakat menginginkan serta bersama-sama untuk mempertegas dan mempertajam kinerja para pemangku kepentingan dalam pengabdiannya kepada Gunungkidul.

Seperti yang disampaikan Kades Gari, Widodo, momentum ini sebaiknya lebih dijadikan titik introspeksi semua pihak, apa yang sudah dilakukan dan apa yang seharusnya segera lakukan tetapi belum direalisasikan.

“Semoga euforia yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peringatan dapat menambah semangat,” katanya singkat saat dihubungi, Minggu, (22/5/2016).

Pedagang sayur di Pasar, Mardi ikut menyampaikan, meski bukan asli kelahiran Gunungkidul, selama bergadang kurang lebih 40-an tahun ia mengakui kemajuan Gunungkidul dari waktu ke waktu. Mengenai Infrastruktur, kondisi ekonomi masyarakat, serta diketahui secara umum terkait wisatanya.

“Peningkatan ekonomi para pelaku wisata terhitung signifikan ya, harapan kami, profesi pedagang di pasar tradisional juga mendapat perhatian dan perlingdungan agar tidak semakin kalah dengan sistem pasar modern yang bermodal besar,” harap Mardi.

Aktivis dari komunitas Rumah Belajar Rakyat, Retnoningsih juga menyatakan perasaan bangganya atas kemajuan semua sektor pembangunan Gunungkidul. Terlebih sekarang ini kabupaten dengan sebutan kota gaplek telah menjadi primadona terkait parawisatanya.

“Tentunya sebagai pemuda harus menyiapkan diri untuk memperbaiki sumber daya manusianya,  jangan sebatas menjadi pramu wisata, tetapi dengan segala potensi bisa mengoptimalkan pengelolaan pariwisata sebagai pendongkrak pendapatan daerah, sehingga mampu mengubah image sebagai daerah dan kaum marjinal,” ungkapnya.

Sebagai pemuda, lanjutnya, harus lebih waspada terhadap ancaman dan pengaruh buruk dari kemajuan teknologi digital, dan ikut bersama menangkis segala penyimpangan kaum pemuda, seperti narkoba, radikalisme, sex bebas, minuman keras, dan lainnya.

Ikut menyampaikan harapan, ia menyebut wahana berekspresi bagi pemuda untuk mengakomodir hobi dan bakat di Gunungkidul ini dinilai masih kurang. Contoh kecilnya, terkadang masih ditemukan balapan liar yang sangat membahayakan.

Pelaku Wisata asal Patuk, Sudiyono ikut memberikan komentar, sektor pariwisata diakui mengalami peningkatan signifikan, ia merasakan sendiri hal itu di Kecamatan Patuk, yang semula hanya Gunung Api Purba, seiring bertambahnya tingkat kunjungan,  membuat hampir setiap  desa muncul destinasi baru, dari 11 desa yang ada, masing-masing punya potensi unggulan kepariwisataan yang ditawarkan.

“Begitu juga dengan kecamatan lain se-Kabupaten Gunungkidul. Secara keseluruhan rata-rata meningkat,” sambungnya.

Pengamatan Sudiyono, kekurangan masih ada di sektor kesehatan masyarakat, hal ini dinilai menurun perihal fasilitas yang diberikan, kalau dulu cakupan yang mendapat Jamkesta lebih luas, sekarang ia anggap tidak menyeluruh, namun hanya berdasar pada beberapa kriteia saja, bahkan terkesan tidak pas.

Pendapatnya, jajaran birokrasi perlu ditempatkan  orang yang betul-betul memiliki keahlian  dibidangnya serta punya semangat pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian kepada Gunungkidul perlu dipertegas dan dipertajam oleh pemangku kepentingan dari akar rumput sampai pucuk pimpinan.

“Visi misi bupati jangan hanya menjadi slogan perlu dukungan dari berbagai pihak disemua tingkatan lembaga pemerintahan dan non pemerintah,” pungkas dia. (Kandar)

Komentar

Komentar