Kenangan Warung Jerman: Kantin SKJ Alias ‘Sega Krupuk Jangan’ Yang Murah Meriah

oleh -
Bekas kantin warung Jerman SKJ di Trimulyo, Kepak, Wonosari, Gunungkidul. (KH//Kandar)
kadhung tresno

WONOSARI, (KH),– Pelajar SMA era 1980-an hingga awal 2000-an banyak yang mengenal kantin atau warung makan anak sekolah yang bernama Warung Jerman. Lebih-lebih pelajar SMAN 2 Wonosari dan MAN 1 Gunungkidul.

Warung makan di Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari ini boleh dibilang favorit. Bukan karena menunya yang istimewa, namun karena harga menu sederhana yang disajikan tergolong murah meriah.

Sebagaimana yang disematkan pada papan nama, ‘Sedia Menu: SKJ’. SKJ maksudnya Sega Krupuk Jangan, atau dalam bahasa Indonesia berarti nasi, kerupuk dan sayur.

Tiga menu tersebut merupakan sajian andalan. Sesekali pemiliknya juga menambahkan gorengan tempe.

Kesederhanaan warung makan juga tampak dari bangunannya. Pemilik, Sugiyem (95) memanfaatkan kediamannya yang bertipe kampung untuk melayani pelanggan.

Menantu Sugiyem, Sofyan (66) mengatakan, sejak awal buka sekitar tahun 1980-an, pendiri sengaja memilih nama warung yang unik serta mudah diingat. Banyak orang boleh mengatakan pemilihan namanya asal-asalan saja. Namun, pemilik sepertinya cukup paham bagaimana membangun brand, seperti banyak diterapkan dalam dunia bisnis modern. Pemilihannya telah diasosiasikan dengan situasi dan produk yang dijajakan.

“Warung ‘Jerman’, artinya jejere Mbah Iman. Maksudnya di sebelah rumah Mbah Iman. Kalau SKJ ya Sega Krupuk Jangan,” kata Sofyan menegaskan ulang saat ditemui belum lama ini.

Sofyan membenarkan, pelajar suka makan di warung Jerman lantaran murah. Dengan uang saku mulai Rp 1.500 hingga 2.000 saja, telah mampu mengisi penuh perut yang keroncongan. Nasi dan sayur kluwih atau melinjo serta minum es teh mampu menjaga stamina pelajar hingga jam pulang tiba.

“Sebelum dituangi sayur, ibu mengambilkan nasi ke piring dengan porsi besar, kalau pelajar merasa kebanyakan biasanya minta dikurangi, baru nasi di piring dikurangi,” kenang Sofyan melihat Sugiyem melayani pelajar.

Sesekali Sofyan mengamati rutinitas ibu mertuanya melayani pelajar saat sedang mudik. Dalam kurun waktu warung masih ramai, ia lebih banyak berada di perantauan sebagai pedagang kaki lima.

Semenjak ibu mertuanya menginjak usia lanjut, tak ada anak atau saudara yang meneruskan usaha menjual menu olahan yang dimasak menggunakan kayu bakar itu. Keturunan Sugiyem memilih merantau dan bekerja pada sektor-sektor lain.

Saat dihubungi, alumni pelanggan warung Jerman, Dwi H menyatakan, jajan di warung Jerman menjadi pilihan saat perut benar-benar lapar, semisal habis jam praktek olah raga. Seingat Dwi, harga sepiring nasi lengkap dengan sayur awal tahun 2000-an sekitar Rp 800, es teh Rp 300 serta rokok Djarum sebatang Rp 250.

Seingat lulusan MAN ini juga, awal tahun 2.000-an warung Jerman tak lagi melayani pelanggan. Meski tak lagi berjualan nasi kerupuk dan sayur, papan nama masih awet terpampang di bagian depan rumah. Tak kalah awet dengan kenangan suasana jajan di warung Jerman.(Kandar)

Komentar

Komentar