Keliling Kampung Naik Andong, Alternatif Refreshing Di Seputar Ponjong

oleh -
Giyarto bersama kuda dan andongnya, melayani sewa dan jalan-jalan keliling kampung. KH/ Kandar
iklan dispar
Giyarto bersama kuda dan andongnya, melayani sewa dan jalan-jalan keliling kampung. KH/ Kandar
Giyarto bersama kuda dan andongnya, melayani sewa dan jalan-jalan keliling kampung. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Cukup kreatif apa yang dilakukan Giyarto (33) warga Padukuhan Kerjo II, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong ini, ia memanfaatkan kuda miliknya melayani keperluan berbagai kegiatan masyarakat.

Menggunakan Andong ada beberapa layanan yang ia sediakan, diantaranya sewa untuk kegiatan karnaval atau kirab rasulan, pernikahan, dan wisata alternatif keliling kampung. Usaha yang ia jalankan sejak 3 tahun lalu ini dapat menopang kebutuhan perawatan kuda bahkan menjadi tambahan pemasukan bagi dirinya.

“Bisa juga kuda dinaiki tanpa andong, awalnya sekitar 7 tahun lalu saya iseng beli dua kuda saat masih kecil di wilayah Magelang,” ujarnya beberapa waktu lalu. Kemudian ia merawatnya hingga besar, mengenai seluk beluk bagaimana merawat serta mengendalikan kuda ia mengaku mencari berbagai informasi di internet.

Semenjak ia melayani jasa tersebut, prospek wisata alternatif dirasa memberikan hasil yang lumayan. Banyak anak-anak tertarik berkeliling di perkampungan sambil menikmati indahnya hamparan sawah yang hijau.

“Untuk rute dengan jarak antara 2 hingga 3 kilometer tiap anak cukup membayar Rp. 5 ribu. Sewa kirab dengan durasi satu hari kita patok Rp. 800 ribu,” terangnya.

Hasil yang ia peroleh setiap bulan tidak tentu, jika memasuki bulan-bulan baik, atau banyak hajatan yang digelar masyarakat maka baik pula hasil yang diperoleh. Sepertihalnya adanya agenda rasulan di wilayah Ponjong dan Kecamatan sekitarnya, hal tersebut meningkatkan pemasukan hingga mampu meraup hasil berkisar antara Rp. 4 hingga 5 juta per bulan, lantas apabila sedang sepi, hasil yang diperoleh sekitar Rp. 800 ribuan tiap bulannya.

Selain mengupayakan untuk kebutuhan wisata dan melayani sewa, Giyarto juga menjual keturunan dari pasangan kuda yang diberi nama panggilan Panutan dan Jaklin ini. Selama memelihara ia sendiri mengaku telah menjual keturunan kuda sebanyak 3 kali, dari setiap menjual ia memperoleh Rp. 8 hingga Rp. 12 juta tiap ekor.

“Masa kebuntingan kuda selama 11 bulan, setelah melahirkan selang sekitar 1,5 bulan, kuda sudah minta atau siap kawin lagi,” imbuh dia.

Menurutnya, perawatan kuda lebih mudah daripada sapi dari sisi kebutuhan pakannya, dua kuda itu selain membutuhkan satu karung rumput selama dua hari, biaya operasional perawatan kuda yakni terletak pada campuran minumnya, dalam dua minggu sekali dua kuda dewasa menghabiskan 1 sak polar.

“Menurut saya tidak susah, selain harus paham bagaimana mengatur kebutuhan pakan serta rutin membersihkan atau memandikan kuda, tidak kalah penting kita tahu bagaimana karakteristik kuda. Kuda lebih peka dan memiliki insting yang baik dibanding hewan lain,” pungkas Giyarto. (Kandar)

Komentar

Komentar