Keajaiban Nasi yang Dieleri: Asal-Usul Nama Desa Ngleri Playen

oleh -
Pohon asem, salah satu pohon dan lokasi yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Ngleri. KH/Kandar.
kadhung tresno

Jumlah penduduk Desa Ngleri pada tahun 2017 tercatat sebanyak 2.757 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.361 jiwa dan perempuan 1.396 jiwa. Sebagian besar penduduk berkarya petani, buruh tani, pekerja sektor swasta, dan sebagian kecil berkarya sebagai pegawai negara dan pamong desa. Dalam perjalanan waktu, terdapat juga warga Desa Ngleri yang merantau dan bekerja di berbagai kota besar.

Tingkat pendidikan warga Desa Ngleri cukup beragam, mulai dari tidak sempat bersekolah, tidak tamat SD, tamat SD/sederajat, tamat SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, tamat Diploma-3, tamat Sarjana/D-4, dan terdapat beberapa warga yang tamat pendidikan Strata-2.

Balai Desa Ngleri Playen, simbol keberadaan Pemerintahan Desa Ngleri. KH/Kandar.

Adat kebiasaan, tata-cara dan tradisi perdesaan di Desa Ngleri terjaga dengan baik. Sebagai contoh, beberapa adat dan tradisi perdesaan yang masih dilaksanakan: rasulan atau bersih desa, nyadran (di Kalilara, Pesarean, dan Ngasem), ruwatan, upacara pager desa, suran/muludan, rejeban, ruwahan/selikuran/riyaya/besaran, upacara panyuwunan pertanian (ngocor, among rajakaya, tetanen), labuhan, metik (boyong Dewi Sri), gumbregan, dan memule balegriya. Demikian pula, berbagai tata cara tradisi perdesaan juga masih dilaksanakan, seperti tingkeban, brokohan bayu, tindikan, sunatan, mantenan, wilujengan tiyang seda, dan lain sebagainya.

Kegiatan kesenian perdesaan di Desa Ngleri juga masih berlangsung dengan baik. Desa Ngleri pada saat ini juga memiliki dalang pewayangan yang sering diminta masyarakat untuk menyuguhkan pergelaran wayang kulit, yaitu Mas Penewu Ki Simun Cermojoyo. Ki Simun Cermojoyo juga dikenal sebagai dalang yang sering diminta masyarakat untuk memimpin penyelenggaraan upacara ruwatan.

Pandangan Penulis

“Menulis sejarah desa itu sesungguhnya pekerjaan berat. Karena menulis sejarah desa tentu pasti ada kekurangan dan juga kelebihan di sana-sini. Ada pihak yang setuju, dan tentu ada pihak yang tidak setuju itu wajar. Oleh karena itu, pedoman kami dalam menulis sejarah desa adalah prinsip mikul dhuwur mendhem jero,” ungkap Supardal Projo Wirosaputro, ketua tim penulis kepada KH, Jumat (20 April 2018).

Kepala Desa Ngleri Drs Supardal Projo Wirosaputro, ketua tim Penulis Buku Dumadine Desa Ngleri. KH/Kandar.

Supardal yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Ngleri itu menerangkan beberapa kesulitan yang dihadapi tim penulis. Berbekal dengan catatan dan buku edisi terbatas yang telah disusun oleh para tokoh dan kepala desa terdahulu, tim penulis kemudian menyusun ulang sejarah terbentuknya Ngleri. Wawancara kepada para tokoh dan sesepuh desa/padhukuhan juga dilakukan untuk melengkapi keterangan-keterangan yang kurang.

Supardal juga berpandangan, menulis sejarah desa sesungguhnya menulis kejadian-kejadian di masa lampau dengan sumber-sumber lisan dari para sesepuh desa dan sumber-sumber tertulis yang ada. Menurutnya, menulis sejarah desa juga bersinggungan dengan cerita tutur atau cerita lisan dari masyarakat yang  tentunya terkandung hal-hal subjektif sesuai dengan keperluan hidup masyarakat pada jamannya.

“Kami berharap, sejarah Dumadine Desa Ngleri ini utamanya dapat menjadi penyemangat bagi warga Desa Ngleri dan para perantau dari Desa Ngleri agar mampu menjadi warga yang berguna bagi nusa dan bangsa,” pungkasnya.

Catatan Akhir Proses Penulisan Ulang:

Sumber utama penulisan ulang secara singkat oleh Kabar Handayani: Buku Dumadine Desa Ngleri, 2018. Buku tersebut disusun oleh Supardal Projo Wirosaputro, Dwi Yuswanto, dan Trigarto; ketiganya merupakan warga Desa Ngleri. Dalam proses penulisan ini para penulis juga mengikutsertakan Tulus Djoko Sarwono, seorang pensiunan guru dan wartawan sebagai pendamping. Karya tulis ini ditetapkan sebagai juara pertama lomba penulisan sejarah desa dalam Bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2018.

Metode yang digunakan para penulis dalam menyusun sejarah desa adalah dengan melakukan penulisan bersumber pada buku-buku catatan riwayat desa yang disusun para pinisepuh desa dan melakukan wawancara kepada para narasumber (para pinisepih desa yang masih sugeng sampai saat ini).

Acuan sumber-sumber tertulis yang digunakan para penulis: 1) S. Atmojo, Prawiro, dkk. 1984. Sujarah Ngleri. Buku cetakan terbatas. 2) Kyai Khalil Amat, Kyai Iman Dimedjo, dkk. 1983. Cathetan Pribadi lan Carita Rakyat Asal-Usul Ngleri. 3) Darmodjo, Sastro, R. 1983. Babad Ngleri: Klempakan Cathetan Saking Para Sepuh Desa Ngleri 1938-1983. Buku terbatas. 4) Marjono, Harjo. 1984. Pratelan Kepala Desa Ngleri Pengesahan Buku Sujarah Ngleri. Buku cetakan terbatas. 5) Monografi Desa Ngleri Tahun 2007. 6) Sumber-sumber tertulis lainnya adalah peraturan-peraturan terkait mulai dari UU, PP, Peraturan Pemerintah DIY, Maklumat Pemerintah DIY, Perda Kabupaten Gunungkidul, Peraturan Bupati Gunungkidul, dan Peraturan Desa Ngleri.

Para narasumber yang menjadi informan para penulis: Tugiyen (93) sesepuh Ngleri Lor, Ust Muhsin Alimi (46) tokoh agama Ngleri Lor, Radiyo (86) sesepuh Ngluweng, Suminto (48) Kepala Desa Banaran, dan H Muhari (70) tokoh masyarakat Ngleri Kulon.

****

Penulis ulang: Kandar. Penyelaras Akhir: Tugi Widi.

Komentar

Komentar