Kasus Bunuh Diri Tinggi, Pemkab Bentuk Satgas Berani Hidup

oleh -
Gantung diri. dok. KH
iklan dispar
Gantung diri. dok. KH
Gantung diri. dok. KH

WONOSARI, (KH)— Hari Sabtu, (10/9/2016) kemarin adalah hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang dicanangkan oleh IASP (International Association for Suicide Prevention) dan WHO (World Health Organization) yang telah mendeklarasikan di Stockholm pada tanggal 10 September 2003.

Bertepatan dengan tanggal tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul membentuk Satuan Tugas Penanggulangan Bunuh Diri di Gunungkidul yang dinamakan “Satgas Berani Hidup”.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengatakan, tujuan dibentuknya satgas tersebut adalah untuk merespon realita sosial tentang relatif tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul. Satgas tersebut terdiri atas wakil wakil dari lembaga kedinasan (pemerintah) dan unsur masyarakat baik kelembagaan maupun individual.

“Satgas tersebut akan membuat program tersetruktur, terorganisir dan terintegrasi untuk bersama sama mengatasi  problematika sosial yang menjadi faktor risiko bunuh diri di Gunungkidul,” jelasnya, Sabtu, (10/9/2016).

Lebih jauh disampaikan, pembentukan Satgas Berani Hidup ini merupakan suatu momentum untuk menyatakan bahwa masyarakat Gunungkidul pada dasarnya adalah masyarakat yang memiliki etos kerja yang tinggi, guyub rukun dan mempunyai tanggung jawab sosial yang luar biasa dalam wujud swadaya masyarakat yang  sangat besar.

Oleh sebab itu, sambungnya, kasus bunuh diri merupakan gambaran yang antagonis dari karakter masyarakat Gunungkidul secara umum. Realita ini harus disikapi dengan bijaksana.

“Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja hanya dengan memegangi kredo sosial masyarakat Gunungkidul secara umum.  Sebaliknya kita harus berupaya menanggulangi,  mengurangi, bila dimungkinkan bisa meniadakan kasus bunuh diri,” kata Immawan selaku Penasehat Satgas dengan optimis.

Harapannya, dengan terbentuknya Satgas tersebut, pemerintah bersama masyrakat dapat bergandeng tangan mengubah cara pandang, perilaku, dan pemikiran negatif menjadi lebih berpikir positif, optimis dan bersyukur dalam suka maupun duka.

Data yang ada memang memprihatinkan. Dalam rentang waktu 2009 hingga 2015, Polres Gunungkidul mencatat terdapat 174 kasus bunuh diri. Sebarannya sesuai tabel di bawah ini;

Tabel Kasus Bunuh Diri Di Gunungkidul

TahunJumlah Kasus Bunuh DiriJenis Kelamin

Sebaran umur pelaku (tahun)

LP17-2526-3536-4546-5556-6565-
20092821734712
20102720711787
201128161125512
201230246634512
201325205141610
2014191361311310
2015179812248

 Sumber: Polres Gunungkidul.

Dari tabel di atas, Wakil Ketua Satgas, dr. Ida Rochmawati, MSc., Sp.KJ (K) menjelaskan, bahwa pelaku bunuh diri paling banyak terdapat pada kelompok usia lebih dari 65 tahun, dan disusul oleh kelompok usia 56 – 65 tahun. Apabila ditinjau dari jenis kelamin, pelaku bunuh diri dalam 7 tahun terakhir kebanyakan adalah laki-laki.

“Sebagian besar pelaku bunuh diri menggunakan metode gantung diri untuk mewujudkan niat untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Belum diketahui secara pasti, mengapa cara itu menjadi metode paling dipilih,” ungkap Ida Rochmawati. (Kandar)

Komentar

Komentar