Karsiyem: Saat Saya Duduk, Tiba-Tiba Tebing Berbunyi Kretaaaak!

oleh -
Karsiyem (40), korban runtuhan tebing Pantai Sadranan yang lolos dari maut. KH/Juju.
iklan dispar
Karsiyem (40), korban runtuhan tebing Pantai Sadranan yang lolos dari maut. KH/Juju.
Karsiyem (40), korban runtuhan tebing Pantai Sadranan yang lolos dari maut. KH/Juju.

WONOSARI,(KH) — Karsiyem (40), salah satu korban selamat dalam musibah ambrolnya tebing di Pantai Sadranan Gunungkidul pada Rabu (27 /6/2015) lalu masih terbaring di ruang perawatan di RSUD Wonosari.

Siang tadi, Jumat (19/6/2015) kabarhandayani.com menyempatkan diri mengunjungi ibu tersebut yang masih mendapatkan perawatan intensif di ruang Angrek. Ibu dua orang putra ini terlihat sedang tertidur pulas dengan kaki kanan yang terbalut perban.

Tidak selang beberapa waktu, warga Bulu Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo ini pun bangun. “Silahkan masuk mas,” ujar Sikwa Dewi Novitasari (19),anak kedua Kasiyem yang menunggui orang tuanya.

Dengan mata berbinar, Kasiyem yang merupakan korban selamat mengaku masih ingat betul, bagaimana detik-detik tebing setinggi 15 meter dan tebal 10 meter tersebut runtuh dan menimpa kakiknya. Saat kejadian berlangsung, Karsiyem sedang duduk-duduk santai tepat di depan tebing.

“Saya duduk di depan tebing dengan jarak hanya 3 meter, saat itu memang tidak ikut mainan air. Saya nunggu cucu yang sedang bermain,” ungkap Kasiyem.

Dia mengaku, kejadian ambrolnya tebing sebelah barat pantai Sadranan itu berlangsung sangat cepat. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya, tebing tersebut akan runtuh.

“Saat saya duduk, tiba-tiba tebing berbunyi kretaaaaak. Saya ditarik sama ponakan saya si Putri, tetapi karena badan saya berat, saya tetap tertindih batu yang jatuh,” ungkapnya.

Perjuangan Kasiyem untuk melepaskan diri dari batu yang menindih kaki dan tubuhnya terus dilakukan. Istri dari Sugiyo ini mengeruk-keruk pasir agar bisa terlepas dari batu yang menindih kakinya.

“Saya keruk pasir agar bisa lolos, tetapi karena batunya besar, saat itu juga saya sudah tidak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah berada di rumah sakit,” katanya.

Lebih lanjut Kasiyem menjelaskan, kedatangannya ke Pantai Sadranan dalam rangka mengikuti tradisi padusan. Dia berangkat menuju pantai sekitar pukul 12.30 WIB dengan 13 orang yang tergabung dalam satu rombongan.

Usai sadar dan mengetahui dirinya lolos dari maut, isti dari Sugiyo ini tidak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan hidup dan menghabiskan waktu bersama suami anak dan para cucu.

Sementara, Direktur RSUD Wonosari Isti Indriyani mengungkapkan, dua korban yang selamat, yakni Karsiyem warga Karangmojo dan Ahmad Taufik kondisinya berangsur membaik. Pihaknya juga telah melakukan tindakan medis melakukan operasi pada kaki kanan Karsiyem.

“Untuk korban Ahmad Taufik sudah kita rujuk ke RSUD Magelang untuk operasi tulang. Yang bersangkutan meminta dirujuk ke Magelang agar dekat dengan keluarga,” papar Isti.

Dia menambahkan, untuk memulihkan trauma Kasiyem, perawatan intensif di RSUD Wonosari masih akan dilakukan hingga 3 – 7 hari kedepan.

“Untuk luka memang sudah ditangani dokter khusus, tetapi saat ini kita masih menstabilkan psikologi agar trauma tidak berkelanjutan,” tandas Isti. (Juju)

Komentar

Komentar