Jumat Kliwon, Pesta Rakyat Desa Wiladeg Karangmojo

oleh -
iklan dispar

KARANGMOJO, kabarhandayani,– Kemeriahan bersih Desa (Rasulan) Desa Wiladeg terlihat ketika puluhan ancak diarak menuju balai Desa Wiladeg. Jumat siang tadi (29/08/2014).
Bersih Desa ini merupakan wujud ucap syukur masyarakat Desa Wiladeg kepada Tuhan yang sudah memberikan limpahan berkat kepada masyarakat Desa Wiladeg.
“Seluruh lapisan masyarakat ikut berpartisipasi pada acara Bersih Desa pada tahun ini,” kata Rakimin, Ketua Panitia Bersih Desa Wiladeg.
Ia juga menjelaskan, bahwa Bersih Desa ini dilakukan setiap tahun, sehabis musim panen dengan tujuan mengucap syukur atas hasil panen. “Mereka juga membuat ambengan dan mengadakan kenduri untuk tetap menjaga kelestarian adat kebudayaan yang ada,” paparnya.
Menurut Rakimin, Rasulan Desa Wiladeg sendiri selalu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon setelah musim panen, karena memang sudah menjadi tradisi untuk rasulan hanya dilakukan pada hari Jumat kliwon. “Selain dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon, sebelum rasulan berlangsung juga diselenggarakan tradisi bersih Kali Banteng. Baru setelah itu diselenggarakan rasulan,” ungkapnya.
Rangkaian acara Rasulan Desa Wiladeg dmulai dari Kamis malam diadakan uyon-uyon dan kenduri di Balai Padukuhan. Kemudian hari ini untuk mengarak ancak dan pentas kesenian, dan malamnya dilanjutkan dengan wayang kulit semalam suntuk. Masyarakat Wiladeg bersatu dalam pluralisme pada acara rasulan ini, karena memang tujuannya untuk melestarikan budaya peninggalan nenek moyang pada jaman dahulu dalam satu hati satu tujuan, yaitu membuat acara rasulan ini berjalan lancar.
Rakimin menambahkan, dahulu rasulan hanya dilakukan oleh para petani yang mengucap syukur akan hasil panennya. “Namun sejalan dengan berkembangnya jaman, sekarang rasulan diikuti oleh pedagang, pegawai negeri/swasta, maupun masyarakat biasa,” imbuhnya.
Sebanyak sepuluh padukuhan membuat ancak atau gunungan. Masing-masing padukuhan membuat dua buah ancak. Adapun isi dari ancak tersebut adalah hasil panen, buah-buahan, juga makanan tradisional yang di rangkai seperti sebuah gunung. “Setiap padukuhan membuat ancak lanang dan ancak wedok. Untuk ancak lanang adalah sebuah gulungan yang bersifat ciri khas dari setiap dusun, seperti gulungan yang berbentuk sapi dan ikan ini,” jelas Rakimin.
Lebih lanjut Rakimin berharap, agar kedepan tradisi rasulan ini tetap berlangsung karena tradisi ini adalah warisan yang diberikan nenek moyang kita dan sudah semestinya untuk kita¬† jaga dan lestarikan,” pungkasnya. (Atmaja/Jjw).

Komentar

Komentar