Jawaban UGM Tentang Munculnya Cahaya Misterius Di Wediombo

oleh -

WONOSARI,(KH)–Munculnya cahaya misterius di perairan pantai Wediombo, Gunungkidul  yang terjadi hampir sepekan lalu, mendapat tanggapan dari pakar Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pakar Geofisika UGM, Kabul Basah Suryolelono seperti yang dilansir dari http://www.harianjogja.com/, Jumat (14/11/2014) menyebutkan, ada dua kemungkinan yang mendasari munculnya pancaran cahaya di Pantai Wediombo yang disaksikan oleh masyarakat tanggal 9-10 November 2014 lalu.

Menurutnya, fenomena pancaran cahaya laut sebenarnya biasa terjadi di wilayah Pantai. Kemungkinan cahaya itu muncul dari hewan laut yang berkumpul yang jumlahnya bisa mencapai jutaan.

“Dalam suatu waktu, hewan laut kerap berkumpul di area dekat bibir pantai. Karakter hewan laut selalu bergerombol, dengan jumlah sangat banyak  ini maka sinar dari fosfor yang memantul ke atas bisa seperti lampu yang memancar di kegelapan,” terang Kabul, Kamis (13/11/2014) kemarin.

Kabul mengaku, memerlukan data visual untuk mengungkap fakta lebih jelas dan detail mengenai fenomena ini. Harus ada penelitian lebih lanjut dan tidak bisa hanya dengan mengandalkan sumber-sember yang melihat. “Untuk jawaban yang sebenarnya, peneliti butuh gambar visualnya,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, dari keterangan yang berhasil dihimpun, pihaknya yakin, cahaya yang memancar berwarna putih itu berasal dari posfor hewan  laut. Karena hal itu relevan dengan pergerakan hewan pantai di kala tertentu untuk mendekati ke bibir pantai.

“Apalagi pancaran sinar berada di 500 meter dari bibir pantai, itu sangat relevan dengan pergerakan hewan,”paparnya.

Kabul menambahkan, faktor kedua munculnya cahaya itu akibat fenomena alam, tetapi peluang munculnya cahaya akibat fenomena alam kemungkinan terjadi sangat kecil. Fenomena itu adalah cahaya akibat awan gempa. Hal serupa sempat terjadi di Pantai Parangtritis beberapa saat sebelum terjadi gempa dahsyat, tahun 2006 lalu.

Awan gempa kala itu terlihat berwarna orange, karena munculnya menjelang pagi. Matahari membuat warnanya berubah, dari putih menjadi orange. Selang tiga jam setelah itu terjadi gempa berkekuatan 5,6 skala richter. Hal yang sama juga terjadi sebelum gempa Kobe Jepang.“ Cuma kalau yang di Gunungkidul saya kira tidak,” tandasnya.

Sementara Kirbani, Pakar Geofisika lain dari UGM menerangkan, biasanya cahaya yang muncul di laut itu adalah sebuah aurora. Cuma aurora selama ini munculnya di lautan belahan bumi utara.”Kilatan aurora juga bisa,”kata Kirbani.(Juju/Bara)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar