Harapan Petani di HUT Gunungkidul

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani.– Kemeriaahan perayaan Hari Ulang Tahun Gunungkidul ke-183 yang diselenggarakan hari Selasa (27/5/2014) ternyata tak seperti yang dirasakan para petani yang rata-rata hanya paham pekerjaan di ladang. Namun dengan kemeriahan perayaan yang hanya bisa mereka dengar dari cerita-cerita orang lain tanpa bisa menyaksikan secara langsung, ternyata mereka juga punya harapan dengan makna yang dalam.

Sunarto, seorang petani di Padukuhan Kamal, Desa Wunung, Kecamatan Wonosari menyatakan pengharapannya agar peredaran pupuk non organik yang tiap tahun dirasakannya sulit didapatkan di pasaran segera diatasi. Ia tak punya keinginan tinggi-tinggi dengan datangnya HUT Gunungkidul selain hasil pertaniannya nanti bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

“Kami tak perlu banyak permintaan, harapan kami semoga pupuk di tahun depan lebih mudah didapatkan dan segala fasilitas pertanian lainnya juga dipermudah. Apalagi kalau air untuk pertanian bisa diwujudkan, saya akan ucapkan beribu-ribu terima kasih pada Bupati Gunungkidul. Sayangnya kami ini hanya orang bodoh yang tak tahu tentang bagaimana cara mengajukan permohonan tentang hal ini,” harap Sunarto, Selasa (27/5/2014).

Selain pupuk dan air irigasi, Sunarto juga punya harapan agar harga-harga hasil pertanian mereka diatur oleh pemerintah sehingga mereka dapat menikmati hasil pertaniannya melalui penjualan yang menguntungkan.

“Coba kalau pemerintah ikut campur tangan dengan masalah harga, kemungkinan harga hasil pertanian kita tidak akan dipermainkan tengkulak dan pedagang seperti biasanya. Kami selalu merasa tiap kali panen, harga-harga itu seakan-akan dipermainkan oleh orang-orang bermodal,” lanjut Sunarto.

Masalah permainan harga hasil pertanian, lanjut Sunarto, merupakan hal yang paling menyakitkan baginya. Menurutnya, hal ini ia rasakan tidak adil. Setelah berbulan berpanas-panasan di ladang ia menaruh harapan keuntungan besar. Namun setelah panen, hasilnya justru dipermainkan para pedagang.

“Ini sangat menyakitkan bagi kami, kami benar-benar nelangsa disaat hasil pertanian terpaksa kami jual murah karena ketidaktahuan harus dijual ke mana selain ke mereka (tengkulak dan pedagang),” pungkasnya. (Sumaryanto/Hfs)

Komentar

Komentar