Guru Australia Belajar Budaya Gunungkidul

oleh -
Dua pengajar dari Australia menjadi guru tamu di SD Wonosari Baru dalam rangka program BRIDGE. Foto: Juju.
iklan dispar
Dua pengajar dari Australia menjadi guru tamu di SD Wonosari Baru dalam rangka program BRIDGE. Foto: Juju.
Dua pengajar dari Australia menjadi guru tamu di SD Wonosari Baru dalam rangka program BRIDGE. Foto: Juju.

WONOSARI,(KH)—  Ada yang menarik dari SD Wonosari Baru hari ini. Tidak seperti biasa, sekolah  yang berada di JL Veteran No. 26, Kepek, Wonosari ini kedatangan dua guru dari Garran Primary School dan ACT Public School Cannbera, Australia.

Selama lima hari  Shelle Young dan Sharon Fellows akan menjadi guru tamu di SD Wonosari baru. Selain mengajarkan Bahasa Inggris, mereka juga akan belajar tentang budaya yang ada di Gunungkidul dan Yogyakarta.

Kepala Sekolah SD Wonosari Baru, Jiman SAg mengatakan, dua guru tamu tersebut sedang mengikuti Program Building Relationship Through Interculture Dialoge And Growing Engagement (BRIDGE). Selama beberapa hari mereka akan memberikan materi kepada siswa.

“Dua guru kita pernah dikirim ke Australia, sekarang gantian, mereka akan memberikan materi, observasi kelas mengenai kebudayaan yang ada di sana,” katanya saat ditemui di SD Wonosari Baru, Selasa (14/4/2015).

Untuk memperkenalkan budaya yang ada di Gunungkidul, SD Wonosari Baru telah mempersiapkan beberapa acara pertunjukan kesenian, di antaranya pagelaran wayang kulit serta tari-tari. Acara tersebut diharapkan dapat dinikmati para turis sekaligus sebagai pengenalan budaya.

“Pertunjukan pakaian adat juga akan kita gelar, tetapi nanti bertepatan dengan hari Kartini,” kata Jiman.

Sementara itu menurut  Sharon Fellows, sistem belajar mengajar yang ada di Australia dengan Indonesia tidak berbeda jauh. Dia mengatakan, ada tujuh mata pelajaran yang menurutnya sama. Dia mengaku tidak menemukan kesulitan dalam memberikan materi kepada seluruh siswa.

“Kendala bagi saya masalah bahasa, saya kurang begitu bisa berbicara menggunakan Bahasa Indonesia,” terangnya.

Sementara Shelle Young mengaku, tidak mengalami kesulitan menggunakan Bahasa Indonesia, sebab, dia mengaku sudah pernah tinggal di Yogyakarta selama dua tahun. Selain itu, kesibukan Shelle di Australia adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Di Indonesia panas dan lembab, tetapi kita mengakui orangnya ramah, kebudayaannya sangat beragam, dan kita betah tinggal di sini,” katanya.

Pihak sekolah berharap, program pertukaran guru ini berdampak positif baik untuk guru maupun siswa di SD Wonosari Baru. (Juju)

Komentar

Komentar