Forum Disabilitas dan Karang Taruna Kapanewon Nglipar Programkan Gerakan Peduli Sumber Air

oleh -
Resan
Pembuatan kebun bibit resan oleh FDTB, Karang Taruna dan Komunitas Resan Gunungkidul. (KH/ Edi Padmo)

NGLIPAR, (KH),– Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB), Karang Taruna Bagus Panuntun Padukuhan Nglipar Kidul, dan Komunitas Resan Gunungkidul, Sabtu (14/8/2021), membuat kebun bibit atau Rumah Bibit Resan (RBR). Kegiatan ini merupakan persiapan agenda penanaman pohon, sebagai upaya untuk melestarikan sumber air yang ada di Kapanewon Nglipar.

Bertempat di rumah ketua FDTB Gunungkidul, Hardiyo, di Padukuhan Nglipar Kidul, Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul, agenda pembuatan kebun bibit melibatkan puluhan pemuda dari Karang Taruna Bagus Panuntun. Mereka membuat sekitar 250 bibit pohon.

Diketahui, Kapanewon Nglipar sendiri termasuk daerah yang mempunyai sumber mata air yang sangat banyak. Hampir setiap Dusun atau Kalurahan mempunyai lebih dari lima sampai sepuluh sumber air. Akan tetapi sumber air yang masih digunakan atau masih hidup bisa dihitung dengan jari.

Hal tersebut disampaikan oleh Agung (25), anggota Karang Taruna Bagus Panuntun. Dari survey yang dia lakukan di beberapa tempat di Kapanewon Nglipar, dia banyak menemukan sumber sumber air yang sebetulnya masih hidup, tapi terbengkelai dan tertutup.

“Saat ini masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan air dengan PAM, karena lebih praktis, sehingga sumber-sumber air yang dulunya biasa digunakan menjadi tidak terawat,” terang Agung, Sabtu (14/8/2021).

Agung melanjutkan, jika masyarakat peduli dengan sumber-sumber air itu, sebetulnya masih memungkinkan dimanfaatkan untuk banyak hal, misalnya untuk perikanan atau pertanian.

“Sangat disayangkan memang, sumber air yang muncul ke permukaan, tinggal merawat dan menggunakan, tapi banyak yang memilih mengebor air dan membayar untuk berlangganan,” imbuh Agung.

Hal senada disampaikan oleh Hardiyo (60). Sebagai ketua Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB), dia berpandangan bahwa bencana tidak hanya identik dengan banjir, tanah longsor, gempa bumi, atau yang lainnya, tapi juga termasuk kekeringan dan konflik sosial soal air.

“Dengan batas fisik yang kami alami, kami berusaha tetap support untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat antisipasi bencana, persoalan air di Gunungkidul memang harus ada langkah antisipasi yang bersifat jangka panjang,” kata Hardiyo.

Hardiyo memang menfasilitasi tempat bagi Karang Taruna agar digunakan untuk membuat kebun bibit, harapannya edukasi mencintai lingkungan ini akan tertanam sejak dini. Agar ada generasi penerus yang ke depan sadar bersedia menjaga alam, menjaga lingkungan.

“Kami yang tua-tua ini bisanya memberi semangat, tanggung jawab menjaga lingkungan harus ditanamkan pada generasi muda,” lanjutnya.

Pada kesempatan ini, juga hadir Irsyad Mathias, Dosen Universitas Brawijaya Malang, yang memberikan bimbingan kepada Karang Taruna untuk memulai mendata sumber-sumber air yang ada di Kapanewon Nglipar.

“Kami mencoba membuat aplikasi sederhana guna pendataan sumber air yang ada di Gunungkidul, dimulai dari Kapanewon Nglipar,” terang Irsyad.

Dalam data ini, menurut Irsyad nantinya akan memuat foto keadaan sumber air, lokasi, keadaan sekarang dan cerita rakyat tentang sejarah sumber air.

“Data ini nantinya bisa digunakan untuk keperluan banyak hal, termasuk program Konservasi yang digalakkan teman-teman Komunitas Resan Gunungkidul. Jika nantinya pendataan ini bisa meliputi seluruh wilayah Gunungkidul, tentu program penanganan masalah air akan sangat terbantu,” tandas Irsyad. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar