Novel “Luh..Aku Benci Sekolah” Memantik Pendidik Sembuhkan ‘Penyakit’ Perundungan di Sekolah

oleh -
novel
Aishworo Ang (Kusworo) berjaket hitam bersama Guru SMAN 2 Wonosari, Arifin. (dok. Kusworo)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Jelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-76, penulis asal Gunungkidul, Aishworo Ang menerbitkan novel tema pendidikan berjudul “Luh.. Aku Benci Sekolah”. Buku setebal 236 halaman ini dinilai berseberangan dengan karya sastra bertema pendidikan yang umum ada.

“Dia menulis sisi pahitnya, buku yang sangat berani,” demikian ulas penggemar sastra Maya Hilmarani.

Penulis dengan nama asli Kusworo ini pun mengakuinya. Dia memilih mengangkat cerita tokoh dengan kondisi miskin, tak rupawan bahkan berpenyakit kulit yang membuatnya mendapat perundungan hebat saat berada di sekolah.

“Buku-buku novel bertema pendidikan kebanyakan bercerita tentang semangat perjuangan siswa miskin lalu endingnya sukses. Nah, saya coba lihat dari perspektif lain, dari sudut pandang berseberangan. Dan belum ada satu pun novel di Indonesia yang angkat tema ini,” kata Kusworo baru-baru ini.

Pendidik di SMK Muhammadiyah Tepus ini menegaskan, tak ada pesan khusus yang ingin disampaikan olehnya. “Tidak ada, biar pembaca menyimpulkan sendiri,” lanjut dia.

Bapak satu anak ini menambahkan, Novel cetakan penerbit Elmatera Publisher ini merupakan karya ke 7. Sebelumnya ia menulis novel Janji Langit 1, Janji Langit 2, Janji Langit 3, Janji Langit 4, Lintang Lantip, lalu terlibat dalam penulisan buku bertema pertanian Argadumilah.

Adapun untuk terbitan pertama, novel dicetak seribu eksemplar. Selanjutnya, Kusworo akan melihat respon publik apakah cerita perlu disambung melalui karya baru atau tidak.

Lelaki yang tinggal di Hargosari, Kapanewon Tepus, Gunungkidul ini belakangan juga tengah menyiapkan karya baru yang akan digarap, diantaranya Jaman Gaber, Pulung Gantung, dan Kedung Rantai Emas.

Pembaca novel Luh, Arifin panjang lebar berkomentar. Pendidik sekaligus penikmat karya sastra ini menilai novel tersebut merupakan sebuah kritik pedagogis terhadap dunia pendidikan, khususnya dunia sekolah.

“Aishworo Ang mengungkap gunung es dosa pedagogis yang terjadi di masyarakat kita dan juga di sekolah, yang selama ini didiamkan, bahkan dianggap sebagai hal yang wajar. Dosa pedagogis itu berupa praktik perundungan yang dilakukan masyarakat, teman sekolah, bahkan oleh guru,” ujar guru di SMAN 2 Wonosari ini.

Siswa (Luh), lanjut dia, yang mestinya memiliki hak untuk belajar dengan penuh kegembiraan, ternyata iklim sekolah membuatnya seperti berada di neraka. Di sekolah, dia dikucilkan, dihina karena bentuk fisiknya yang jelek, diejek karena plonga-plongo, dipalak sehingga harus menahan lapar karena uang jajannya dirampas oleh temannya.

Menyitir cerita novel Arifin mengungkapkan, para guru, mungkin secara tidak sadar, juga melakukan perundungan dengan menumpahkan kemarahan dengan begitu mudahnya tanpa memahami keadaan siswa (Luh). Membebani siswa dengan tumpukan tugas yang merampas hak tubuh dan mental siswa untuk istirahat. Selain itu mudah memvonis siswa sebagai sosok malas, bodoh dan tidak disiplin.

“Padahal, sebenarnya yang terjadi adalah ketidakmampuan dunia sekolah membangun budaya belajar yang inspiratif, budaya belajar yang ramah anak,” tegas Arifin.

Baginya, novel Aishworo membantu membuka luka pedagogis dan mestinya mendorong insan pendidik dan pihak yang berkompeten mengakui secara terbuka, lalu bersama-sama menyembuhkan lingkungan sekolah dari penyakit perundungan.

“Novel ini, layak menjadi bacaan wajib bagi para guru, para pengambil kebijakan pendidikan, dan  orang tua. Mereka harus tahu bahwa perundungan itu bisa membunuh masa depan anak atau siswa,” tukas guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar