Dukun versus Dokter

oleh -
Mbah Dukun sedang melakukan terapi pijat pada anak balita. KH/Klepu
iklan dispar
Mbah Dukun sedang melakukan terapi pijat pada anak balita. KH/Klepu
Mbah Dukun sedang melakukan terapi pijat pada anak balita. KH/Klepu

Bagi kebanyakan orang, mendengar, melihat, membaca kata atau profesi ‘dukun’ atau ‘dhukun’ memunculkan makna negatif. Jelek, peyoratif. Sama halnya yang dilekatkan pada kata/hal: klenik, mistik, paranormal. Yang ditempatkan selalu bermusuhan secara langsung dengan terma-terma dalam doksa beberapa agama yang sebenarnya sangat dukunologif, klenik, mistik, dan penuh tokoh ‘para’.

Herannya, ketika banyak orang mendengar, melihat, membaca kata atau hal ‘dokter, kedokteran, medisin’, maknanya selalu positif. Hingga ketika anak-anak masuk ke lembaga sekolah pun, profesi yang berhubungan dengan kedokteran dan farmasi sangat-sangat bermakna positif. Bervisi, menjadi cita-cita wajib. Berada pada lajur yang ‘benar’.

Seperti halnya istilah-istilah dalam agama yang selalu positif meskipun di dalam dirinya kontra-produktif, karena memang sangat lekat dengan empat kata di muka: ‘dukun’ atau ‘dhukun’, klenik, mistik, dan paranormal, yang para tokoh suci/tercerahkan dalam banyak kitab ‘dimaknakan’ bermusuhan dengan empat kategori kata ini.

Bukan maksud tulisan ini mau mempertentangkan antara yang tradisional dengan modern berhadapan langsung. Berperang, antara yang suci, murni, dengan yang tercampur. Tulisan ini hanya bermaksud mengatakan bahwa kategorisasi yang orang ciptakan, dalam dirinya, selalu berada pada situasi ambang: tak jelas batasnya. Yang satu berada di yang lain. Melingkupi yang lain.

Kembali ke topik ‘dukun’ atau ‘dhukun’ ini. Psikologi analisis, pola-pola seperti yang digunakan orang pribumi Amerika, Australia, Afrika, atau Jepang untuk penyembuhan misalnya (oleh dukun lokal pribumi seperti ‘shaman’, ‘shinto’, dll.) mengungkapkan bahwa kesadaran manusia berada pada ambang antara: kesadaran awal dan kesadaran kini, atau kesadaran dan ketidaksadaran. Bahasa kesadaran dekat dengan bahasa roh, atau psike.

Terapi musik, sebagai salah satu teknik penyembuhan rohani, untuk menyentuh kesadaran awal, kemudian digunakan. Musik semacam kompleks pesan, kelompok nada, kode, yang diulang-ulang. Berfrekwensi tertentu. Sementara semesta diciptakan dengan kode, matriks, kompleks tertentu pula.

Partitur musik, orang Nusantara juga punya: gamelan, merupakan pabrik gelombang semesta. Dengan kode tertentu. Genta. Gong. Kenong. Bendhe. Yang kala digunakan, merupakan wahana aktifasi kesadaran. Baik purwa maupun kini. Artinya, musik sebagai suatu cabang seni, memang dekat sekali dengan kesadaran awal manusia: tentang psike(ologi)-nya. Orang yang memahami dan menguasai kode-kode dalam musik, tentu mampu sebagai perantara.

Linier dengan fisikawan yang memahami bahwa ada jalan metafisika yang menghubungkan antar materi, atau sang alkemis yang sangat paham tentang bagaimana merubah materi, atau sejarawan yang memahami bahasa lembut suatu tempat hingga tahu ‘sejarah’ yang sebenarnya, atau seorang budhis yang paham bahwa yang ia tunjuk dengan telunjuk sebagai bulan itu sebenarnya bukan, atau yang lain.

Orang modern, yang mencoba memahami perilaku dukun pribumi melalui psike(ologi), menggunakan semacam hipnoterapi untuk menggiring pasien kepada suatu medan kesadaran. Tentu yang diinginkan atau dimaksudkan oleh Sang Hipnoterapis. Teknik yang diceritakan Dream Theatre dalam lirik lagunya, ‘regresi’ misalnya. Atau ‘finally free’. Suatu laku pembebasan, dari ketertutupan Sang Diri. Kebingungan. Pembiasan.

Suatu teknik ‘pengembalian’ kepada roh/psike natur; awali. Dalam level yang lebih rendah adalah seorang Diri yang memohon-mohon motivasi dari seorang motivator agar termotivasi, sementara sebagai manusia dia telah penuh motif sedari awal. Namun bagaimanapun, sanh motivator adalah penggiring kesadaran.

Istilah-istilah psikologi modern (sebagai anti kutub psikologi tradisional) seperti hipnoterapis, psikolog, psikiater, motivator, sebenarnya hanya meniru istilah di dunia tradisional yang memang lebih purwa dan hidup di dalam kosmologi manusia tradisional. Tak bisa dipungkiri. Yang dianggap ‘penemuan’ bagi dunia modern sebenarnya bukan melahirkan, menciptakan, namun menemukan yang telah terserak, kemudian mencoba menggali (eksplor), menghidupkan kembali (revive), lantas memformulakannya.

Dalam bentuk, kemasan, bungkus, yang ‘tampaknya’ baru dan tentu dipuja-puja sebagai lebih canggih dan lebih sebagai logos/ilmu. Manusia tradisional memiliki banyak teknik penyembuhan, baik teknologis, medis, psikologis, totemis, atau spiritual (animis).

Di masa kini, tiruan-tiruan ini masih tampak, yang sangat wajar jika ada yang cenderung dekat dengan yang lebih murni, atau cenderung terdeviasi. Banyak pula kepentingan di sebaliknya.

Maka, kemudian, ada dokter yang lebih ngibul, apoteker yang ngawur, ustad(zah) yang asal komat-kamit membaca mantra yang ia hafal, toh ‘para pasien’ juga merasa sembuh. Ilmuwan yang sok canggih logika, silogisme, mahasiswanya merasa pinter. Ahli tata negara yang ‘pura-pura’ melaksanakan UUD atau UU, rakyat patuh. Sama halnya dukun atau dhukun, paranormal, yang nyari duit, dengan ngibuli pasiennya. Toh mereka semua, yang tersubordinasi, tetap saja percaya. Dan sembuh. Dan tetap kaya.

Psike, atau sebut saja roh, dalam batas yang lebih sempit: kesadaran terdalam manusia, begitu luar biasa tak terduganya. Misterius. Namun hadir sebagai presentasi (supra)logos yang mengatasi logika manusia umum. Seperti aksi beberapa dhukun bayi di Gunungkidul yang masih eksis hingga kini: menyembuhkan sakit, juga kecemasan sang bayi. Tentang tak jelasnya kehidupan. Tentang bagaimana cara orang tua si bayi memaknai ‘sakit’.

Sang dhukun bayi mengucap mantra; bahasa Jawa. Ia komat-kamitkan. Ia tiupkan ke ubun-ubun si anak. Si Anak menangis. Dipijat beberapa bagian tubuhnya, terutama perut. Tak hingga 5 menit. Usai. Si Anak diam. Si Dhukun Bayi diantar pulang. Umurnya 80 tahun. Ia mengatakan, dengan penuh keimanan (baca: keyakinan): “Sudah, sudah sembuh!”

Ah, dia, sang dukun atau dhukun. Ia dokter: yang karena keilmuan dan pengalaman diagnosa pasiennya, dilanjutkan sedikit aksion, yakin bahwa pasien sembuh. Telah sembuh semenjak tangan sang dukun atau dhukun menyentuh. Sementara sang dokter sibuk seminar dan menghindar dari tudingan malpraktik. Ia: ‘dukun’.

Ah, tenang saja, pengamatan ini yang salah kok. Keliru memaknai. Kebanyakan anggapan orang lah yang benar. Tentang ‘dukun’ atau ‘dhukun’ dan dokter itu.

Jadi, kata “dokter” tetap lebih positif. Dibanding “dukun”.

 

(Klepu)

Komentar

Komentar