Dua Simbah Ini, Semakin Sepuh Semakin Ampuh

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani,– Terlihat asap mengepul dari pojokan Pasar Burung Kepek Wonosari setiap pasaran Pon. Asap membumbung tinggi, namun itu bukanlah sebuah kebakaran ataupun asap dari orang yang membakar sampah. Terlihat dua simbah yang meneteskan bulir-bulir keringat saat mereka menekuni pekerjaannya. Mereka adalah sang pembuat asap yang membumbung tinggi di pasar Burung Kepek setiap pasaran Pon.
Mbah Pariyo dan Mbah Kuntoro, dua orang kakek berusia 80-an. Dalam masa tua, mereka tetap bersemangat mencari nafkah dan menekuni pekerjaan yang sudah mereka lakukan sejak 47 tahun yang lalu. Pekerjaan yang mereka lakukan juga terbilang pekerjaan yang berat dan membutuhkan tenaga ekstra sebagai seorang pande besi.
Mereka melakukan pekerjaan sebagai tukang pande besi yang banyak orang mungkin berfikir pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang hanya memerlukan kekuatan otot saja, karena pande besi identik dengan menempa besi. Namun, profesi sebagai pande besi sejatinya merupakan pekerjaan yang memerlukan kepiawaian otak kanan dan otak kiri. Tenaga otot yang mereka keluarkan sejatinya adalah pancaran kecerdasan dan penjiwaan dalam menempa besi menjadi perkakas atau alat yang berdayaguna. Dibalik usia mereka yang sudah semakin sepuh, justru keahlian mereka semakin mumpuni.
“Yang dibuat adalah besi-besi bekas, nantinya didaur ulang menjadi arit, wadung dan pacul dan lainya,” kata salah satu penempa besi yang akrab di panggil Mbah Pariyo.
Pariyo dan Kuntoro mengaku tetap bekerja karena mereka masih diberi kesehatan. Mereka bisa berjalan ke sana kemari dan keahlian mereka dalam menempa besipun tidak memudar seiring bertambahnya usia. “Dari hasil bekerja kan masih bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga, seperti: jagong, beli gula, teh, dan yang lainnya,” sahut Kuntoro.
Kedua kakek tersebut adalah warga Desa Karang Tengah Wonosari. Desa tersebut memang sudah terkenal sejak dahulu sebagian besar warganya mempunyai keahlian dan ketrampilan di bidang pande besi. Dalam penuturannya kepada KH, kedua kakek tersebut ternyata tidak hanya menempa besi di Pasar Burung Kepek, namun mereka juga melakukan pekerjaan di Pasar Wage Paliyan. “Setiap Wage berangkat dari rumah jam 04.00 WIB sampai di Paliyan jam 05.00 WIB,” kata Kuntoro.
Dengan alat yang sederhana seperti tungku dan ububan, mereka tetap bersemangat dalam pekerjaan tersebut. Ububan sendiri adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan angin, dimana berbentuk seperti pompa yang di bawahnya terdapat sambungan paralon yang berfungsi sebagai penyalur angin. Untuk tingkat kesulitannya sendiri mereka mengaku paling sulit saat membuat wadung (kampak) dan pacul, karena harus menempa besi seberat 2 kilogram.
Untuk ongkos, Mbah Kuntoro mematok harga Rp 15.000,- untuk perbaikan arit dan Rp 35.000,- untuk pembuatan arit. Itu juga tergantung jenis besi yang akan digunakan. “Jika pesennya besi yang baik, ya harganya agak mahal,” tandasnya.
Kepada KH, mereka mengungkapkan untuk penghasilan yang diperoleh selama satu hari berkisar antara Rp 100.000 -200.000,-. “Hasilnya dibagi dua, tetapi setelah dibelanjakan keperluan seperti arang dan besi bekas, baru sisanya dibagi menjadi dua,” ujar Mbah Pariyo.
Ketika ditanyakan kesan mereka terhadap anak muda saat ini, mereka berharap agar para pemuda yang masih mempunyai tenaga dan kesehatan yang lebih baik mampu berkarya secara maksimal disertai dengan kegigihan dalam bekerja. Usia bukanlah menjadi alasan untuk dapat terus berkarya bahkan mencari nafkah.
“Selagi masih diberi umur panjang dan diberi kesehatan mengapa tidak dipergunakan sebaik mungkin, agar waktu tidak hanya terbuang sia-sia,” pungkas Pariyo. (Atmaja/Jjw).

Komentar

Komentar