Dari Tukang Stempel Menjadi Pengrajin Dolanan

oleh -
Wagiyo, pengrajin mainan tradisional. Foto: Jhody.
iklan dispar
Wagiyo, pengrajin mainan tradisional. Foto: Jhody.
Wagiyo, pengrajin mainan tradisional. Foto: Jhody.

SEMANU, (KH)— Banyak cara untuk menyambung hidup, termasuk menjadi pengrajin mainan tradisional. Pekerjaan sederhana ini sejatinya juga turut dalam upaya pelestarian permainan tradisional yang semakin pudar tergerus jaman.

Inilah Wagiyo (65), seorang pengrajin mainan tradisional yang sudah menjalani profesi ini sejak tahun 2001. Ia dan keluarganya tinggal di Desa Ngebrak Barat Kecamatan Semanu.

Wagiyo sebelumnya bekerja sebagai tukang membuat stempel cap. Ia telah menjalani pekerjaan yang telah menegakkan kehidupan keluarganya selama lebih dari 20 tahun.

“Sebagai tukang stempel yang masih menggunakan cara manual dengan dicukil menggunakan cutter dan pisau mulai ditinggalkan mas, karena sekarang banyak yang memilih membuat stempel menggunakan alat yang lebih canggih,” paparnya. Setelah pesanan pembuatan stampel mulai sepi, akhirnya Wagiyo banting stir beralih pekerjaan sebagai pengrajin mainan tradisional.

Usaha kerajinan mainan tradisional tersebut kini sudah menampakan hasilnya. Ia mengaku, hampir setiap bulan mendapatkan pesanan dari beberapa PAUD dan TK untuk membuatkan dolanan anak.

“Alhamdulilah, dengan pesanan dari PAUD dan TK, dengan modal antara Rp 700 ribu sampai dengan Rp 1 juta, bisa menghasilkan pendapatkan sekitar Ro 3 jutaan,” ujarnya.

Bapak dari 4 orang laki- laki dan 4 orang perempuan ini membuat beragam jenis mainan. Mulai dari jaran kepang, celeng, bedhil- bedhilan, truk-trukan, jaran goyang, pecut, topeng ganong, dan masih banyak lagi.

“Alhamdulilah bisa ikut melestarikan budaya tradisional dan dapat menopang ekonomi keluarga kami mas,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan dengan KH. (Jhody/Jjw)

Komentar

Komentar