Dalang Muda Kombinasikan Musik Hardcore dengan Gamelan

oleh -
iklan dispar
WONOSARI, kabarhandayani.– Dalang, gamelan dan wayang identik dengan orang tua sebagai pelaku dan penikmatnya, namun ada salah satu pemuda warga Padukuhan Trimulyo 1, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul yang sangat mencintai seni tradisional yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2003 sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia.
Albertus Juang Perkasa (19) salah satu dalang muda ini sudah mendalang sejak ia di bangku taman kanak-kanak. Menurut Juang, wayang merupakan kesenian yang semua jenis seni masuk di dalamnya seperti seni rupa, seni musik dan teather. Uniknya, keahliannya mendalang dan kecintaannya terhadap musik karawitan dan wayang ia kombinasikan dengan musik hardcore atau musik rock.
Juang memilih musik rock untuk dipadukan dengan gamelan karena alasan musik rock merupakan musik yang digandrungi para pemuda pada umumnya. “Musik rock identik dengan anak muda dan karena kecintaan saya terhadap budaya ini saya mengajak teman-teman untuk mengkolaborasikan musik hardcore dengan gamelan,” ujarnya kepada Kabarhandayani pada Senin (1/7/2014).
Bersama rekan grup bandnya yang berjumlah 7 orang, permainan musik rock tersebut dipadukan dengan demung dan rebab. Berdasarkan keterangan Juang, awalnya cukup sulit untuk mengajak rekan-rekan band-nya namun setelah dicoba ternyata hardcore dan gamelan sangat menarik dan rekan-rekannya pun penasaran untuk belajar memainkan gamelan dan menciptakan lagu dengan iringan musik kombinasi tersebut.

Salah satu lagu ciptaannya yang diiringi dengan paduan gamelan dan hardcord berjudul Kalki Awatara. Lagu ini menceritakan Awatara Dewa Wisnu yang muncul di akhir zaman Kaliyuga. Bersama rekan-rekan yang tergabung dalam Handayani City Hardcore, Ia pun berkeinginan untuk menggelar pagelaran wayang dengan iringan musik gamelan dikombinasi dengan musik hardcore.

“Dengan kreativitas seperti ini diharapkan mampu mengajak para pemuda untuk tidak hanya suka dengan musik-musik yang sedang ngetrend tetapi juga mencintai musik tradisional yang merupakan budaya kita sendiri. Selain itu juga untuk melestarikan musik gamelan dan dunia wayang,” ungkapnya. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar