Cahyono, Bocah SD Ini cari Daun Pembungkus Tempe Untuk Kurangi Beban Keluarga

oleh -
Kiri : Milyasari yang dirawat nenek Cahyono, Kanan: Cahyono.
kadhung tresno

TEPUS, (KH)— Dilahirkan ditengah keluarga serba terbatas membuat Cahyono pelajar SD kelas 6 ini terpaksa harus ikut berjuang mengurangi beban ekonomi keluarga. Apabila anak seusiannya menghabiskan waktu lebih banyak dengan bermain, tetapi tidak dengan anak pertama dari tiga bersaudara keturunan Ngatiyem ini.

Di rumah sederhana yang berada di Padukuhan Singkil, Desa Tepus itu terdapat jumlah anggota keluarga yang cukup banyak, selain ada nenek buyut Cahyono yang sudah renta, ada pula neneknya, Sutini dan ibunya serta kedua adiknya, terdapat pula paman yang mengalami gangguan mental.

Yang lebih membuat iba, terdapat pula anak dari adik ibu cahyono, Milyasari yang mengalami kelumpuhan sejak bayi. Orang tuanya yang tak lain adalah paman Cahyono yang lain tega meninggalkannya di rumah itu sejak umur 16 bulan. Hingga Milyasari, kini berumur 7 tahun tak sekalipun di tengok oleh ayahnya.

“Kalau sore biasa mencari daun jati pembungkus tempe dan daun pembuat ragi tempe. Apabila sudah terkumpul Cahyono menyerahkannya ke adik saya yang membuat tempe,” terang nenek Cahyono, Sutini, Rabu, (19/10/2016). Saat ditemui, Ibu Cahyono sedang ke ladang, sementara Cahyono sendiri masih berada di sekolah.

Memang tak seberapa yang diperoleh Cahyono, tetapi paling tidak ia mampu mencari uang saku sekolah sendiri. Semenjak Ayahnya tiada, beban ekonomi keluarga yang berjumlah delapan jiwa tersebut terbilang berat.

Terlebih perawatan Milyasari cukup menyita waktu dan biaya. Dahulu, gadis cilik ini sering sakit-sakitan. Sebentar-sebentar harus ke rumah sakit, riwayat gizi buruk dan polio membuatnya tak dapat tumbuh dengan baik. Selain hanya bisa berbaring di kamar yang sangat sederhana, ukuran tubuhnya juga sangat kecil, tidak sesuai anak seusiannya. Tak hanya itu ia juga tak dapat berbicara.

“Kalau saat ini terkadang kejang-kejang dan kaku, biasanya saya kasih minyak telon. Semenjak sakit paru-parunya sembuh jarang saya bawa ke dokter,” tutur Sutini.

Lanjut dia, mengenai hasil mencari daun, Cahyono akan mendapat uang setelah tempe yang dijual secara berkeliling dari rumah ke rumah di kampung itu telah laku. Tidak tentu, terkadang dalam seminggu Cahyono diberi imbalan sebanyak dua kali. Terkadang hanya sekali saja. Tergantung hasil penjualan tempe oleh sepupu nenek.

“Biasanya Rp. 5 ribu atau Rp. 10 ribu, utamanya untuk uang saku Cahyono sendiri dan jajan adik-adiknya,” imbuh Sutini.

Selain mencari daun Cahyono mempunyai kewajiban lain, jika nenek dan ibunya sibuk bekerja ia harus mengasuh dua adiknya, bahkan terkadang harus sambil menunggu Milyasari. Sesekali Milyasari dibaringkan di dipan rumah bagian tengah. (Kandar)

Komentar

Komentar