Setelah Budi menerangkan panjang lebar tentang proses pembuatan Pupuk Bokasi, lalu kami menuju ke sebuah tong besar. Di sana rupanya Budi memproses pupuk organik cair dan pestisida organik. Budi kembali menerangkan, “Ini proses pembuatan pupuk organik atau pestisida organik, di dalam karung itu clethong baru, Mas, atau bisa juga rumen sapi atau kambing (kotoran hewan yang masih ada di lambung, sehabis hewan disembelih). Saya masukkan karung dan saya rendam di dalam tong. Saya masukkan juga segala jenis buah-buahan busuk, atau berbagai jenis bunga/kembang, ini untuk pupuk organik cair.”
“Bagus juga di campur urin hewan, sapi, kambing, atau paling bagus kelinci. Urine mempunyai kadar N (nitrogen) tinggi, bagus untuk perkembangan daun tanaman,” Budi meneruskan dengan semangat. “Saat cairan ini diaplikasikan sebagai pestisida organik cair, maka bisa ditambahkan cabai busuk atau empon-empon, tergantung jenis hama yang menyerang.” Budi menjelaskan bahwa pestisida organik memang bersifat “mengusir” bukan “membunuh” hama. Yang selama ini dipelajari Budi bahwa ketika pestisida kimia membunuh satu hama, maka hama yang lain akan menyerang tanaman, karena bisa jadi hama yang dibunuh oleh satu pestisida merupakan predator untuk hama yang lain. Jadi, saat predatornya mati, hama akan berkembang dengan sangat cepat dan menyerang tanaman. Ia menceritakan bahwa ia selama ini berusaha mempraktekkan keseimbangan ekosistem alami di kebun pertaniannya.
![Selada.[foto:NR] Selada.[foto:NR]](https://i0.wp.com/kabarhandayani.com/wp-content/uploads/2020/08/8.jpg?resize=800%2C450&ssl=1)
![Gambas.[foto:NR] Gambas.[foto:NR]](https://i0.wp.com/kabarhandayani.com/wp-content/uploads/2020/08/12.jpg?resize=800%2C450&ssl=1)
“Keadaan pertanian khususnya lahan saat ini sudah sampai titik jenuh, Mas. Tanah sudah banyak kehilangan unsur haranya. Jika kita menanam tanpa diberi pupuk kimia yang cukup, tanaman tidak akan berkembang,” ujarnya amat prihatin. “Satu-satunya jalan ya kita harus segera mengkonservasi dan merehabilitasi lahan pertanian, dengan cara sistem bertani ramah lingkungan. Secara perlahan kita mulai mengurangi penggunaan pupuk dan bahan-bahan kimia, dan bersamaan dengan itu menambah penggunaan pupuk organik. Nanti setelah sekitar 5 tahun mendatang, tanah akan mulai bisa pulih unsur haranya,” harap Budi.
Ia juga berharap bahwa gerakan kesadaran tentang pertanian ramah lingkungan memang harus segera digaungkan. Kesadaran pertanian ramah lingkungan menjadi semangat dan gerakan bersama, karena tidak mungkin dengan kondisi lahan pertanian yang masih menjadi satu kawasan akan bisa menerapkan sistem pertanian organikjika hanya satu atau dua orang yang mengerjakan. Mengawali gerakan ini, Budi menceritakan bahwa beberapa tahun yang lalu dia dan beberapa temannya pernah membentuk Kelompok Petani Jejaring Rakyat Mandiri (JERAMI) Gunungkidul. Waktu itu, JERAMI bekerja sama dengan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta dan intens menggarap isu-isu pertanian ramah lingkungan.
![Budi Wibowo dan kebun organiknya.[foto:NR] Budi Wibowo dan kebun organiknya.[foto:NR]](https://i0.wp.com/kabarhandayani.com/wp-content/uploads/2020/08/3-1.jpg?resize=800%2C450&ssl=1)
Harapan ia jauh ke depan, akan terjalin satu jaringan petani organik se-Gunungkidul, yang nantinya bisa melebar ke jaringan kerja sama antar kelompok tani se-Gunungkidul. “Siapa tahu dengan fasilitasi program pemerintah, saya dan teman-teman yang peduli dengan pertanian organik ini, bisa mempunyai suatu kawasan terpadu yang di sana nantinya kita bisa belajar bareng-bareng tentang pertanian dan inovasi pertanian, sehingga kaum muda bisa tertarik untu belajar pertanian,” menutup obrolan kami sore itu.
Setelah itu KH pamit. Kemerdekaan petani yang mandiri adalah harapan dan pemikiran di saat ulang tahun ke-75 Kemerdekaan RI seperti sekarang ini. Tak lupa satu tas plastik besar sayur organik hasil budidaya Budi menjadi oleh-oleh yang dengan merdeka (bebas) KH bawa pulang.
[KH/Edi Padmo. Ini adalah tulisan tentang profil petani organik Gunungkidul, dalam rangka memeringati dan memaknai Ulang Tahun ke-75 Indonesia: merdeka di bidang Pertanian]
Curicullum Vitae
![Budi Wibowo.[foto:NR] Budi Wibowo.[foto:NR]](https://i0.wp.com/kabarhandayani.com/wp-content/uploads/2020/08/25.jpg?resize=800%2C450&ssl=1)
Budi Wibowo
Tempat, Tanggal Lahir:
Jakarta, 21 Mei 1975
Alamat:
Kerdon RT 03 RW 02 Kalurahan Karangsari Kapanewon Semin Kabupaten Gunungkidul
No. HP:
085228286728 – 085729091642
Agama:
Kristen
Hobi:
Olahraga dan Musik
Pendidikan Formal:
SD Negeri Payaman II Semin (1983-1989)
SMP Bopkri Semin (1989-1992)
SMA Negeri Semin (1992-1995)
Organisasi:
Gerakan Angkatan Muda Kristen Gunungkidul sebagai anggota (2008-Sekarang)
Search and Rescue Darat Kabupaten Gunungkidul sebagai anggota (2009-Sekarang)
ASB-World Bank untuk Anak Berkebutuhan Khusus sebagai Kader Desa (2011-Sekarang)
Pendidikan Non-Formal :
Pelatihan Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UEDSP) – (1997)
Pelatihan Pertanian Organik (1999)
Jaringan Kerja antar Kelompok Tani (JAKKET) se-Karesidenan Surakarta (1999)
Pelatihan Pertanian dan Peternakan (2000)
Pelatihan Pertanian Organik bagi Petugas dan Petani (2002)
Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Bidang UMKM dan Koperasi (2008)
Pendidikan dan Pelatihan Search dan Rescue Kabupaten Gunungkidul (2010)
Pengalaman Kerja:
Fasilitator Pupuk Organik pada Yayasan Sumber Sari di Semin (2001-2002)
Fasilitator Teknologi Pertanian Organik pada Yayasan Peduli Lingkungan “Lestari” di Kabupaten Rote Provinsi Nusa Tenggara Timur (2005)







