Bikin Dua Bak PAH, Cara Ratimin Hadapi Musim Kemarau

oleh -
Ratimin menunjukkan salah satu Bak PAH miliknya masih terisi air. Dirinya memiliki dua Bak sehingga dapat menghemat pembelian air tangki. KH/ Kandar.
iklan dispar

PALIYAN, (KH),– Persoalan klasik yang dihadapi sebagian masyarakat Gunungkidul saat kemarau yakni terkait pemenuhan air. Kesulitan air melanda warga yang tinggal di lereng bukit dengan elevasi tanah yang tinggi sehingga tidak memungkinkan pembuatan sumur air serta tidak terjangkau pipa PDAM.

Umumnya, masyarakat mengandalkan pembelian air tangki dari jasa penjual air swasta untuk mencukupi kebutuhan air. Hal lain yang membantu biasanya ada jatah dropping air dari pemerintah datang sedikit membantu.

Selasa, Siang, (11/7/2017) KH berkesempatan bertemu warga Padukuhan Pengos, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, Ratimin, yang memiliki cara berbeda bagaimana menghadapi musim kemarau.

Puluhan menit berbincang dengan lelaki yang berprofesi sebagai tukang batu ini dapat digali beberapa hal terkait upaya menyelesaikan persoalan pemenuhan air. Apa yang dilakukan Ratimin bukan sesuatu yang baru. Yang dilakukan basisnya pada manajemen dan hitung-hitungan agar lebih hemat alokasi anggaran rumah tangga guna pemenuhan air ketika musim kemarau datang.

Cukup sederhana, Ratimin membikin dua bak Penampungan Air Hujan (PAH) sebagai tandon air. Akan tetapi bak PAH yang ia buat berukuran lebih besar dari ukuran pada umumnya. Jika volume bak yang dimiliki warga lain memiliki volume antara 7.500 liter hingga 9.000 liter maka ia membuat ukuran yang jauh lebih besar.

“Dua bak PAH, yang satu ukurannya biasa saja, yang satu lebih besar, yakni 2 meter x 1,5 meter dengan kedalaman 6 meter, atau seukuran 18 meter kubik. Dapat menampung sekitar 18.000 liter air,” terangnya.

Secara seksama ia mencoba hitung, biaya yang ia keluarkan untuk membuat bak yang besar itu diprediksi  hampir sama ketika membeli kebutuhan air tangki selama tiga musim kemarau. Dengan dua bak itu ia mampu menghemat pembelian air saat kemarau datang seperti sekarang ini.

“Bak PAH yang besar tergolong masih baru, karena baru kali ini penggunaannya menemui kemarau. Mudah-mudahan cukup hingga musim penghujan datang,” tuturnya.

Jika tidak demikian, rutinitas terulang. Dirinya memastikan tiap pertengahan Bulan Juli sudah membeli air tangki seharga Rp.120.000 tiap tangki. Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh tetangganya. Padahal, kebutuhan untuk minum, mandi, mencuci, serta memberi minum ternak selama musim kemarau dapat menghabiskan 8 hingga 10 tangki. Bahkan terkadang lebih.

Untuk menghemat biaya pembuatan bak PAH yang besar, ia tidak membangunnya di atas permukaan tanah, akan tetapi lebih memilih menggali tanah, atau ke dalam. Memang butuh waktu lama, akan tetapi cara tersebut dinilai mampu menghemat biaya pembelian material penyusun konstruksi bak daripada bangunan bak di atas permukaan tanah.

“Saya ambil air pakai mesin pompa karena air berada di bawah. Saya memilih menggali karena kebutuhan pembuatan tembok atau dinding bak lebih efisien, terlebih apabila dinding galian berupa batuan maka tinggal sedikit diperhalus pakai adonan pasir dan semen saja,” paparnya.

Dirinya juga belum memastikan apakah tahun ini akan membeli air tangki atau tidak, sebab hal tersebut sangat dipengaruhi lama tidaknya musim kemarau. Jika dihitung durasi lama rata-rata musim kemarau, maka jika terpaksa membeli air tangki, dirinya memastikan hanya akan melakukan pembelian satu kali saja. (Kandar)

Komentar

Komentar