Beruntung, Di Tengah Ancaman Coronavirus, Hasil Panenan Padi Melegakan Petani

oleh -
Panen padi di Gunungkidul. Foto: Tugi/KH.
iklan dispar

WONOSARI, (KH),– Para petani Gunungkidul saat ini sedang memasuki masa panenan padi hasil musim tanam pertama (MT1). Jumirah (65), petani sepuh dari Dusun Glodogan, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul mengungkapkan kegembiraannya atas hasil panenan padi dari ladang tadah hujan yang digarapnya.

Sembari “mengerek” gabah di halaman rumahnya, Jumirah menuturkan bahwa panenan padi jenis Ciherang tahun ini melegakan dirinya. Terlihat tumpukan padi yang baru saja diangkut dari ladang  langsung dirontokkan dan dijemur di halaman rumah.

Kula pikantuk berkah, panenan kalebet sae. Kula mboten nyangka, sebabipun kebon tetanggi sempat kenging wereng. Menawi panen pantun sae, ati kula tentrem. Gadhah cadangan gabah niku langkung ayem timbang gadhah emas napa yatra. Saya mendapatkan berkah, panenan tergolong baik. Saya tidak mengira, karena kebun tetangga sempat terkena hama wereng. Kalau panen padi bagus itu hati saya tenteram. Punya cadangan gabah membuat tenang, daripada menyimpan emas atau uang,” ungkap Jumirah, Minggu (29/3/20).

Dalam memanen padi, Jumirah dibantu 4 orang, termasuk anak dan menantunya yang rumahnya berdekatan. Pada saat ini, memanen padi di Gunungkidul sudah jarang dilakukan dengan sistem “ani-ani”. Dirinya mengolah ladang sebanyak 3 petak. Salah satu petak dengan ukuran 20 m x 50 m, ia mengaku mendapatkan panenan sekitar 120 bongkok panenan siap “dierek”.

Memanen padi varitas batang pendek di ladang tadah hujan pada umumnya dimulai dari membabat padi di ladang, mengangkut dalam bentuk bongkokan-bongkokan batang panenan, kemudian “mengerek” di rumah, menjemur di halaman rumah, dan setelah kering menyimpan di gudang masing-masing rumah. (Tugi).

 

Komentar

Komentar