Beras Dari Singkong, Solusi Makanan Sehat Untuk Diet Dan Diabetes

oleh -
Lasono (47), pembuat olahan pangan bahan singkong dengan branding ISAKU. Produknya kini sudah merambah ke luar daerah. (KH/Edi Padmo)
iklan dispar

PANGGANG, (KH),– Sebagian besar penduduk yang mendiami wilayah Gunungkidul dengan luas mencakup 48 persen dari seluruh wilayah D.I Yogyakarta ini merupakan petani. Hasil pertanian Singkong atau Gaplek sangat identik sekali dengan Gunungkidul. Sebab, sebagian besar petani di Gunungkidul menanam ketela atau singkong di  lahan pertanian mereka. Walaupun penanamannya masih menggunakan sistem tumpang sari, ribuan ton singkong basah mampu di hasilkan dari bumi Handayani.

Sayangnya hasil pertanian ini masih belum maksimal di olah menjadi sebuah produk jadi yang punya nilai jual lebih. Olahan ketela umumnya masih konvensional. Hanya sebatas menjadi singkong kering atau gaplek dengan harga jual yang masih sangat rendah.

“Harga gaplek kemarin sempat hanya seribu rupiah per kilo gram,” ujar Lasono (47), warga Dusun Bedug, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Dari pemikiran untuk  mengolah hasil pertanian  Singkong ini agar mempunyai nilai lebih, di tahun 2017, Lasono mulai uji coba dan berinovasi mengolah produk makanan berbahan dasar Singkong.

“Awalnya saya tertantang untuk mengolah Singkong ini menjadi bahan makanan pokok seperti beras,”. Lasono melanjutkan ceritanya dengan bersemangat. “Sejak dulu, orang-orang hanya tahu, bahwa ketela hanya bisa dijadikan gaplek, Thiwul, Manggleng, atau Gathot. Makanan-makanan itu kelasnya kalah dengan produk-produk makanan dari Padi atau Beras,” lanjutnya.

Pria yang awalnya berprofesi sebagai tukang servis elektronik dan mesin kendaraan bermotor ini mengaku hanya tamatan SMP, tapi dengan ketekunan dan semangat yang tidak kenal lelah melalui beberapa kali kegagalan dan uji coba, akhirnya menemukan formula dan cara mengolah Singkong menjadi berwujud butiran-butiran yang dari bentuk, warna dan rasanya sangat mirip dengan beras dari Padi.

“Sebelum ketemu cara dan tahapannya, awalnya sering gagal, tapi saya tidak menyerah, satu persatu saya pelajari, dan Alhamdulillah angan-angan saya untuk membuat beras Singkong bisa terwujud,” kata Lasono bangga.

“Semua produk olahan makanan saya ini tanpa kimia sama sekali, garam pun tidak, jadi saya jamin ini semua sehat,” ujarnya.

Dari cerita Lasono, satu kwintal singkong basah bisa dijadikan 17 kg beras singkong, bahan-bahan lain yang tidak menjadi beras oleh Lasono di buat produk lain yaitu Mutiara thiwul, tepung Soccer, dan tepung Gaplek. Produk tepung Soccer ini bisa digunakan untuk bahan dasar membuat kue dan kerupuk.

“Tepung soccer, tidak memakai pengembang, tapi bisa untuk bahan dasar membuat kue, hasilnya bisa mengembang dua kali lipat dibanding tepung yang menggunakan zat pengembang,” ujar Lasono meyakinkan.

Ada tiga faktor kunci yang diterangkan Lasono dalam proses pembuatan oalahan makanan ini, yaitu faktor angin, sinar matahari dan air. Tiga hal ini nantinya akan sangat berpengaruh di hasil akhir, meliputi warna dan rasa.

“Karena saya sama sekali tidak menggunakan zat pewarna atau kimia, pertimbangan tiga faktor ini saya harus cermat dan teliti, karena ini sangat menentukan hasil akhir produk,” ujarnya lagi.

Produk olahan makanan berbahan dasar singkong ini lambat laun mulai dikenal oleh masyarakat, selain dipasarkan lewat online, Lasono aktif mengikuti beberapa pameran produk makanan yang di selenggarakan oleh Dinas. Untuk itu akhirnya Lasono berpikiran untuk membuat sebuah merk atau branding untuk produknya, ketemulah branding ISAKU (Inisiatif Seorang Anak Kepengin Untung).

Komentar

Komentar