“Belajar Saja Terus, Arum!” Kata Pisah Mangun Suwito Kepada Cucu

oleh -
Tetangga dan kerabat berkumpul di Kediaman Mangun Suwito. Mereka menyaksikan dan mendengarkan hasil pemeriksaan petugas medis bersama kepolisian terkait kejadian bunuh diri yang dilakukan Mangun. KH.
iklan dispar
Tetangga dan kerabat berkumpul di Kediaman Mangun Suwito. Mereka menyaksikan dan mendengarkan hasil pemeriksaan petugas medis bersama kepolisian terkait kejadian bunuh diri yang dilakukan Mangun. KH.

NGLIPAR, (KH)— Akhir Maret lalu, tepatnya Kamis, (30/3/2017), seorang kakek, Mangun Suwito (70) mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Banyak menimbulkan pertanyaan, seperti tidak percaya bahwa ia mati gantung diri di pohon pisang. Namun fakta demikian adanya, tragedi itu menjawab keraguan dan pertanyaan dibenak orang-orang yang tinggal di Padukuhan Kebonjero, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar setelah datang melihatnya.

Ironis memang, Mangun Suwito yang menjadi perbincangan di tetangga dan dusun sebelah bahwa ia merupakan warga dengan ukuran materi cukup kuat, minimal untuk wilayah di kampung ia tinggal, memilih sengaja mati.

“Anaknya Sukses pada bekerja di bank. Hewan ternak sapi juga banyak, kurang apa coba?” kata seorang ibu paruh baya yang bercakap-cakap di warung kelontong sehari setelah kejadian.

Memang, kondisi ekonomi tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Mangun Suwito yang tidak wajar. Kepala Padukuhan Kebon Jero, Wasidi juga meyakinkan bahwa bukan persoalan ekonomi yang menjadi pemicunya.

Wasidi membeberkan, setumpuk tabungan hari tua milik Mangun Suwito tersedia, diantaranya kepemilikan aset tanah yang luas dan cadangan pangan di rumah melimpah. Tak hanya itu, menurut keterangan beberapa warga ia juga memiliki tabungan puluhan juta di bank.

Paska kejadian, petugas kepolisian wilayah hukum Nglipar melaporkan, faktor kesehatan atau adanya penyakit yang diderita telah berlangsung lama menjadi salah satu pemicu kuat. Menurut penelusuran, Mangun Suwito mengidap sakit asma dan gatal-gatal.

Selain itu, adanya konflik batin yang dialami atas sesuatu hal yang bertentangan dengan keinginannya tak kunjung menemui jalan keluar. Wasidi dan tetangga lain menganggap, Mangun Suwito menyimpan pergolakan batin sendiri, tak pernah diceritakan kepada siapapun.

Hal tersebut mengenai rencana menantu Mangun Suwito akan mengambil anak yang diasuh Mangun selama bertahun-tahun menjadi faktor kuat tindakan Mangun mengakhiri hidup.

“Arum, cucu pelaku sudah diasuhnya sejak usia sekitar setahun. Sementara orang tua Arum, yakni anak dan menantu Mangun Suwito merantau ke kota,” terang Wasidi belum lama ini.

Wasidi bercerita kisah Arum, selama diasuh ia mendapat kasih sayang dari Mangun Suwito. Lebih-lebih Arum saat balita menderita sakit Lempung dan paru-paru. Sebagai seorang kakek, Mangun Suwito mengerahkan segenap daya dan upaya agar cucunya sembuh.

Tak menghiraukan berapa jumlah materi yang harus dikeluarkan, yang paling penting cucu kesayangan sembuh. Suka duka merawat cucu dijalani. Setumpuk harapan ingin digapai, kelak ia akan melihat cucu kesayangan tumbuh dewasa dalam kondisi sehat. Beberapa tahun berjalan, ikhtiar Mangun membuahkan hasil. Kesehatan cucu kesayangan semakin membaik.

“Beberapa hari sebelum kejadian Mangun bunuh diri menantunya pulang, ia menyampaikan hendak mengajak anaknya pulang ke Madiun selepas lebaran nanti,” jelas Wasidi.

Tampaknya hal tersebut menjadi prahara batin bagi Mangun, keinginan menikmati bahagia bersama cucu terancam pupus. Sayangnya, hal ini diluar sepengetahuan menantunya, karena saat meminta ijin hendak mengambil anak dengan dilakukan dengan cara baik-baik. Mangunpun juga tak menunjukkan penolakan atas hal itu. Tetanggapun juga tak menganggap bahwa perihal tersebut menjadi beban fikiran Mangun Suwito.

Puncak kebingungan terjadi kamis siang. Wasidi menurutkan, sebelumnya tetangga sekitar dan istri pelaku merasa aneh dengan gerak gerik Mangun, ia sempat menengok ladang serta mondar-mandir di kandang.

“Setelah cucunya pulang dari sekolah, Mangun sempat menunggui belajar. Saat Mangun hendak keluar Arum bertanya kepada kakeknya, mau kemana?” tambah Wasidi.

Jawaban yang keluar sekaligus menjadi pesan terakhir kepada Arum, cucu kesayangannya, Mangun memintanya untuk terus belajar, dirinya hanya akan keluar sebentar. Sejak beberapa waktu sebelumnya rupanya Mangun mencari kelengahan keluarga termasuk istrinya yang secara diam-diam melakukan pengawasan terhadapnya.

Disaat Arum sedang belajar, sementara istri Mangun sibuk memasak di dapur, Mangun mengakhiri hidup dengan seutas tali menggantung di pohon pisang. Kejadian tersebut diketahui oleh istrinya hanya hitungan menit saja sejak Mangun keluar dari rumah.

“Istri Pak Mangun mencari hendak mengajak makan siang, tetapi malah mendapati suami telah meninggal dibelakang rumah,” ulas Wasidi. Penemuan Mangun disusul histeris dan tangisan istri. Tetangga dibuat gempar lalu berdatangan.

Wasidi dan beberapa tetangga lain menganggap, bahwa keinginan Mangun untuk menikmati hari melihat cucunya sehat pupus. Merasakan hasil perjuangan mengasuh dan berupaya mencari kesembuhan Arum terancam hilang. Dugaan ini yang kemudian menjadi kesimpulan warga mengenai tindakan Mangun meninggalkan Arum selama-lamanya, sebelum Arum lebih dahulu pergi ke Madiun. (Kandar)

Komentar

Komentar