Belajar Menjadi Pintar Ala Pos Kamling Tegalsari Siraman

oleh -
Pos Kamling Pintar Tegalsari Siraman, wahana pengembangang budaya masyarakat gemar membaca. KH/Sarwo.
iklan dispar
Pos Kamling Pintar Tegalsari Siraman, wahana pengembangang budaya masyarakat gemar membaca. KH/Sarwo.
Pos Kamling Pintar Tegalsari Siraman, wahana pengembangang budaya masyarakat gemar membaca. KH/Sarwo.

WONOSARI, (KH) — Ada yang menarik di Pos Kamling Pintar RT 09 RW 08 Tegalsari Siraman Wonosari. Adanya atmosfir untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari semula budaya ngobrol menjadi budaya literasi atau budaya membaca sembari menjaga keamanan lingkungan. Di Pos Kamling ini tersedia beraneka buku, semacam perpustakaan mini untuk petugas siskamling, maka itu Pos Kamling ini diberi tambahan kata “Pintar”.

Dengan membaca mampu membuat petugas siskamling bertambah pintar atau pandai. Buku perpustakaan yang tersedia merupakan kerjasama dengan Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Gunungkidul. Secara berkala buku diganti yang baru, yang sudah dibaca dikembalikan ke Perpustakaan Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Wasiran, Ketua Pos Kamling Tegalsari, pos kamling ini berdiri pada tanggal 1 Muharam/Sura tahun 1976, dengan bangunan sederhana. Orang menyebut “cakruk” terbuat dari kayu, sebagai pusat kendali menjaga keamanan di wilayah Tegalsari. Pos Kamling dibangun di atas tanah bekas petilasan prajurit P Diponegoro.

Ada catatan sejarah tersendiri berdirinya Pos Kamling Tegalsari ini. Pada tahun 1823, Hamengku Buwono (HB) IV Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dibunuh oleh agen Pemerintahan Hindia Belanda, sehingga putra mahkota yang masih berusia  3 tahun secara otomatis Menjadi HB V menggantikan ayahnya. Dalam masa pemerintahannya, HB V dibantu oleh Dewan Perwakilan  yang dipimpin oleh Ibu Suri Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Diponegoro, yang selalu menentang pemerintahan Hindia Belanda.

Tahun 1825-1830 pecah perang Diponegoro, dan pasukan Pangeran Diponegoro kalah pernag melawan Belanda. Semua pasukan ditangkap Belanda, tetapi ada 1 anggota pasukan P Diponegoro yang lolos, melarikan diri ke Gunungkidul. Sampailah ia di sebuah lokasi, karena lelah anggota pasukan tertidur di bawah pohon Garli. Masyarakat memberikan bantuan makan dan minum, setelah beberapa hari istirahat, anggota pasukan P Diponegoro melanjutkan perjalanannya menuju ke timur, dengan pesan kalau sudah ada rejaning jaman, tempat tersebut diberi nama Tegalsari dari nama pohon Galri.

Pos Kamling  Tegalsari dipugar, karena kayunya mulai rapuh, dibangun menjadi Pos Kamling Pintar RT 09 RW o8. Peletakan batu pertama 6 Juni 2012 dan selesai direhab akhir Agustus 2012. Pos ini menghabiskan dana Rp 16 juta swadaya masyarakat berupa besi bantuan kelompok Malam Senin,  kayu dan genteng kelompok malam Selasa, tenaga tukang  kelompok malam Rabu, semen dan keramik kelompok malam Kamis.  pasir dan cat Kelompok malam Jumat, eternit dan konsumsi tukang kelompok malam Sabtu, dan Malam Minggu membantu batu pondasi dan batu bata.

Kegiatan Pos Kamling Tegalsari, dengan kegiatan jimpitan, hasilnya untuk pembangunan Logo Galri di simpang empat Jalan Baron, sebagai tanda wilayah Tegalsari, bukan perematan Karangrejek. Untuk pengadaan bendera, umbul-umbul sebagai inventaris. Cor blok Gang Gendam dan Gang Keong Mas.

Menurut beberapa warga, lokasi Pos Kamling sebelumnya masih gawat, satu orang tak berani di Pos Kamling. Harus ada teman apabila tugas di Poskamling, tetapi sekarang sudah aman. Selain ada TV dan Buku Perpustakaan, Pos Kamling RT 09 RW 08 Tegalsari saat ini tak pernah sepi dari orang yang berkunjung untuk membaca buku. (Sarwo)

Komentar

Komentar