Beberapa Tempat di Gunungkidul Panen Padi 3 kali Dalam Setahun

oleh -
Warga Wilayah Kecamatan Gedangsari sedang melakukan Panen Padi. KH/Atmaja
iklan dispar
Warga Wilayah Kecamatan Gedangsari sedang melakukan Panen Padi. KH/Atmaja
Warga Wilayah Kecamatan Gedangsari sedang melakukan Panen Padi. KH/Atmaja

GEDANGSARI, (KH) — Musim panen padi di sebagian wilayah selatan Gunungkidul sudah selesai beberapa bulan lalu. Hal berbeda justru ditemui di beberapa wilayah Gunungkidul yang baru mulai memanen hasil tanaman padi.

Beberapa wilayah di Gunungkidul memang mempunyai sumber air untuk keperluan warga maupun pertanian. Beberapa daerah yang mempunyai musim panen lebih dari satu kali antara lain, Kecamatan Ponjong, Gedangsari dan Patuk.

Air yang melimpah dimanfaatkan warga untuk mengolah sawah. Hal ini membuat hasil panen di tiga tempat tersebut berbeda dengan tempat lain di Gunungkidul.

Seperti yang terpantau di desa Ngalang, Gedangsari, masyarakat terlihat sibuk untuk memulangkan hasil panenan. Musim panen yang bisa dilakukan tiga kali dalam setahun ini menggunakan sistem pengairan.

Paiyo (60) warga Ngalang, Gedangsari mengaku setahun bisa melakukan panen sebanyak 3 kali.  Sumber air yang didapat oleh petani di Ngalang merupakan sumber mata air yang berada di desa Ngalang.

“Air dari sumber tersebut juga digunakan warga untuk keperluan sehari-hari. Selain itu adanya sungai juga sering dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci saat musim kemarau,” katanya.

Ia menambahkan, untuk hasil panenan sebagian dijual dan sebagian lagi digunakan cadangan makanan ketika masa tanam. “Padi yang sudah kering disimpan di Gledeg (tempat penyimpanan padi), untuk cadangan makanan ,” imbuhnya.

Sementara itu Partiyem (58) warga Ngalang Gedangsari mengaku pada musim tanam yang kedua mencoba untuk menanam padi mentik wangi. Dijelaskan olehnya panenan kali ini cukup baik hanya terdapat beberapa tanaman yang terserang hama.

Menurutnya, beras hasil tanam sendiri lebih aman dan nikmat saat dimakan. “Jadi tidak was-was terhadap isue beras plastik karena saya memakan beras hasil tanaman sendiri,” terang Partiyem.(Atmaja)

Komentar

Komentar