Angrem

oleh -
Babon angrem, indukan ayam sedang mengerami telurnya. KH/WG.
iklan dispar
Babon angrem, indukan ayam sedang mengerami telurnya. KH/WG.
Babon angrem, indukan ayam sedang mengerami telurnya. KH/WG.

Waktu ketika Rem-Bulan (bulan yang tak begitu terang juga tak begitu gelap cahayanya. Tertutupi? Sebuah paralambang tentang kematian [pucat-mayat], kegelapan, sekaligus ‘reborn‘ [kelahiran-kembali]; seumpama para wanita yang melakoni siklus ‘datang-bulan’, yaitu ‘refine‘ atau penyucian siklik) menggantikan peran Mata-Ari (matanya hari; apakah pusat Sang Diri, atau secara material tubuh, adalah mata?) seekor indung ayam atau babon mengerami telur-telurnya. Para telur, di kemudian hari setelah pecah lalu menjadi ‘kuthuk‘, dengan gembira menyambut terangnya Mata-Ari.

Pyik pyik pyik . . suaranya berlatar sorot Mata-Ari pagi, juga sinar lembut rembulan malam.

Rembulan, sejak purwa, toh bermakna indung atau indu(k) pula (Ibu kedua setelah Bumi? Landep? Sang Ayah adalah Ra atau Radite; Mata-Ari), yang temara(e)m cahayanya menyamarkan laku-suci seekor indu (‘indhu’, ‘hindhu’, ‘indhuk’, ‘indhu’, adalah kata-kata yang berhubungan dengan Hindu, Indo-nesia [‘indu‘ atau ‘indus‘ dan ‘nusa‘ atau ‘nesos‘], juga Ibu Pertiwi; berakar sama) ayam itu. Indung atau induk ayam ‘ngarip-arip‘ para telur: dalam kondisi kantuk.

Liyep-liyep‘, ‘alayap‘, ‘aluyup‘: perbauran kondisi prasadar-sadar-taksadar. Siang-malam.

Mengerami para telur itu (laku ayam) berhubungan dengan ‘pakareman‘, atau ‘arem-arem‘, yaitu hal-hal yang menjadikan ‘panca-driya‘ diam, tak bergerak (ada jenis makanan ‘arem-arem‘, nasi yang dibungkus-dikukus di tengahnya sambel tempe, membuat terdiam-puas bagi yang memakannya: sebagai produk olahan budaya ‘pari’; Sri). ‘Arem‘ dan ‘arem-arem‘ memunculkan kondisi ‘marem‘ (diam yang bahagia; penuh rasa asih).

Diamnya indera untuk menciptakan kondisi hening (dalam sistem peralatan rumah tangga di dusun ditemui “Babon Angrem“; kursi kayu-rotan-penjalin; gambaran babon yang sedang mengerami; berbentuk rahim (ruang) di kanan kirinya; kita betah duduk berlama-lama). Dengan ‘(m)eneng‘. Sesekali keluar kandang, sebentar. Siang-malam berada di tempat ‘angrem‘; berada di kandang. Terkadang, kemudian, laku ‘angrem‘ adalah metafor bagi orang dusun yang siang malam tak beranjak ke luar rumah, atau keluar kamar, diam, tidur di ruangan pribadinya. Diam. Mencoba meraih kekosongan.

Meneng‘, kosong.

Orang Jawa, yang sering menggunakan perlambangan satwa atau ‘sato‘ termasuk di antaranya ayam untuk ‘nyemoni‘ manusia beserta perilakunya (paribasan, bebasan, isbat, dll), mencoba membiasakan tubuhnya dalam kondisi ‘arip‘, ‘rem-rem ayam‘; yaitu sebentuk kantuk tapi bukan. Mata tertutup namun tak sampai tertidur. Kosong namun terisi. ‘Tubuh’ masih bisa merasakan sinar Matahari, gelapnya malam. Masih mendengar orang berbicara, burung mengoceh. Tujuan pembiasaan ini untuk melatih ketajaman indera. Gerak angin. Nafas.

Demi ‘kembali’ ke kemurnian (‘maha-sattwa‘). Kelahiran suci.

Murninya jagad di waktu purwa berbentuk material telur (sel). Telur purwa (ovum) ditetaskan bersama sperma menjadi telur baru (novum). Tri Tunggal: Antiga, Ismaya, Guru. Dari ‘tigan‘ menjelma kehidupan. Kehidupan menemukan tempat yang ‘tepat’ sebagai presentasi (‘origin‘; apakah berhubungan dengan “Origin of Spesies“-nya Darwin yang lahir dari kehangatan babon tropis yang mengerami flora-fauna Nusantara?) di tempat bersuhu hangat. Wilayah tropika. Cukup sinar. Sedang-sedang panasnya. Merata hangatnya (induk ayam akan membolak-balik posisi telurnya agar merata kehangatannya; juga agar sesuai dengan kondisi luar).

Jika kehidupan mampu bergerak sebagai akibat dari dorongan energi yang hangat, maka kehidupan di dalam cangkang telur akan muncul lewat kehangatan cangkangnya. Kehangatan Sang Indu(k). Kehangatan Indung (Ibu Pertiwi) pula yang menelorkan (memecahkan cangkang telor) suku bangsa suku bangsa di Nusantara. Menyebar di puncak-puncak, di plato-plato, lereng-lereng gunung. Gunung api (gunungan). Gunung Sewu. Lembah sungai dan sebagainya. Kehangatan menumbuhkan kesuburan. Kesuburan adalah kesurgaan. Kesurgaan yang nyata melahirkan kehidupan; melalui telur-jagad.

Telur merupakan alat bantu ingat bagi ‘mimpi‘ (kondisi parasadar, sadar, dan tak sadar kala tidur ‘rep-rep ayam‘) komunal yang amat purwa. Cerita mahapurwa tentang kehidupan. Yang menurun (emanasi). Tetas menetas. Titis menitis. Gen-unggul (eugen) yang diturunkan. Dikopi. Diduplikasi. Diklonisasi. Diimitasi. Gen plasma dan inti. Setelah gen menetas dan menitis, menjelma ‘kuthuk‘ kemudian ayam, lantas mereka mengembara, menyebar, membiakkan wangsa-wangsa. Ke hutan. Ke Kali. Gunung. Tepi laut.

Pengembaraan, penjelajahan, penyebaran wangsa manusia adalah laku suci kehidupan. Seperti gerak ayam. Suatu saat mereka (wangsa ayam) akan didomestifikasi menjadi ayam ‘buras‘, bukan ras; alih ubah ayam hutan ke pekarangan manusia. Geraknya disebut gerak kembali. Begitu pun halnya wangsa manusia, Para Kuthuk (para tokoh di cerita suci) pada suatu waktu-mitis akan kembali: kepada indungnya/babonnya; tanah yang menetaskannya (manusia masuk golongan yang bertelur sekaligus beranak). Kepulangan wangsa manusia ini ibarat mimpi-bersama dalam kondisi: 1) kesadaran purwa sekaligus visi masa depan, 2) kesadaran kini, atau 3) ketaksadaran.

Oleh karena itu, ada di antara wangsa para Kuthuk ketika telah menjelma ayam jago yang: 1) memiliki kesadaran purwa sehingga bervisi pulang untuk memuliakan tanah kelahirannya, 2) sadar bahwa wangsanya adalah ‘tetesan‘ dan ‘titisan‘ suatu tanah indung (babon) lantas hormat dan meninggikannya di mana pun berada, dan 3) seekor Jago (kelaki-lakian, seringnya berbentuk Tokoh Lelaki sebanding Watu Gunung, Oedipus, Sangkuriang, Malinkundang, dst.) yang ‘lupa‘ (atau bahkan bukan lupa, namun bermotif menyimpan hasrat-purwa; Adam kepada Hawa sebagai variannya) pada Babonnya (tanah tumpah darahnya; tempat Si Induk dulu pernah ‘anggrem‘ atau ‘angrem‘: menetaskannya.

Para Jago ‘mengawini‘ Indungnya. Sebagai: wanita cantik; tanah surga.

Persatuan ada yang berupa perkawinan, ada yang kesetaraan (mitra-satata), ada yang agresi-koloni. Babon (tanah tumpah darah) terlihat sebagai perempuan atau wanita yang sangat cantik. Kerinduan (mimpi) pada wanita cantik (sumber daya makanan yang melimpah; yang memudahkan para Kuthuk ceker-ceker mencari makanan) memunculkan agresi: penyerangan, penguasaan (teori kekuasaan terlalu sering dekat dengan lambang wanita cantik dan sumber daya alam). ‘Swanitta‘, kemurnian, adalah ‘hayu‘ (cantik). Kelaki-lakian yang mala rindu berusaha untuk melakukan kerja ‘mamayu‘ (mempercantik). Terhadap Si Cantik. Hasilnya, ‘karahayon‘ (kebahagiaan, kemakmuran). Namun ada juga yang hasilnya berupa kerusakan, eksploitasi, monopoli, kolonisasi, kastanisasi, feodalisasi, dsb.

Jika ini yang terjadi, Mata-Ari ‘sirep‘ (redup; menggelap). ‘Surup‘ (petang-remang).

Sang Mata-Ari ‘rem‘ (meredup) di barat. Para Kuthuk berjajar di latar, ‘merem-melek‘ (gundah), berharap Sang Indu(k) segera unjuk-hati (Ayam Babon yang berada pada kondisi ‘ngarak‘/mengerami mudah berekspresi ‘petak-petok‘ kepada liyan dalam rangka melindungi yang sedang ia-erami). Rem-Bulan ‘angrem‘: sembunyi tak menunjukkan diri. Sesiang hingga malam hari. Lagi tak peduli. Namun tiada matanya ‘merem‘, sukmanya ‘erem‘. Sementara ‘para-mimis’ (para Jago) dari negeri entah asik-asik ‘angrem‘ di dalam tubuh Sang Indung; Sang Babon. Tampak ‘marem‘ hatinya. Begitu ria menemukan ‘pangarem-arem‘ (kesenangan yang dicari-cari hingga ujung bumi).

Tetanah tempat Si Induk ayam ‘angrem‘ (mengeram): ‘surem‘ (suram). Mereka tak bisa lelap. Kalap karena Babonnya dialap (dimakan, diserang). Jago berbulu Alap-Alap. (W0ng Gunung).

Komentar

Komentar