Menjaga Warisan Kaki Anggawangsa, Warga Nglebak Gelar Nyadran Sendang Tunjungsari

Warga Nglebak khidmat mengikuti prosesi Nyadran. (KH)

NGLIPAR, (KH),– Tradisi tahunan Nyadran Sendang Tunjungsari kembali digelar oleh warga Padukuhan Nglebak, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Sesuai adat turun-temurun, ritual budaya ini dilaksanakan bertepatan pada hari Senin Wage (1/6/2026).

Sejak pagi hari, puluhan warga dari berbagai usia tampak berbondong-bondong memadati kawasan sendang yang terletak persis di sebelah timur Balai Padukuhan Nglebak. Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, bersemangat hadir dengan membawa aneka rupa hidangan khas kenduri. Mulai dari nasi, tahu, tempe, serundeng, sambal, hingga olahan ikan hasil budi daya sungai setempat. Namun, di antara melimpahnya hidangan tersebut, terdapat satu menu wajib yang menjadi syarat utama, yaitu ayam panggang.

Bacaan Lainnya

Juru Kunci Nyadran Sendang Tunjungsari, Suparjo, menjelaskan bahwa adat tradisi ini merupakan simbol rasa syukur atas kelestarian alam dan melimpahnya hasil panen dari sektor pertanian. Tidak sekadar meluapkan rasa syukur atas apa yang telah didapat, warga juga memanjatkan doa dan harapan agar usaha pertanian di masa yang akan datang senantiasa memberikan hasil melimpah.

“Kami memanjatkan doa, semoga warga masyarakat senantiasa diberi kemudahan dalam mengarungi kehidupan. Senantiasa sehat, serta pekerjaan dan usahanya berjalan lancar,” ujar Suparjo dengan khidmat seusai pelaksanaan ritual Nyadran.

Sentuhan Karawitan dan Makna Kuliner Tradisional

Guna memeriahkan suasana Nyadran Sendang Tunjungsari, alunan gending dari kelompok karawitan wilayah Nglebak turut mengiringi prosesi pembagian makanan. Di sudut lain, kaum ibu sibuk membagikan nasi, lauk-pauk, serta potongan ayam panggang ke dalam wadah-wadah kecil yang berbahan alami, yakni bungkus daun jati dan daun kelapa.

Suparjo menambahkan, penggunaan ayam panggang ini memiliki aturan adat tersendiri yang membedakannya dengan upacara adat lainnya.

“Tradisi Nyadran selalu menggunakan ayam panggang, kalau Rasul (bersih desa) baru mengolahnya menjadi ayam ingkung,” imbuhnya secara detail.

Menariknya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, ada hidangan tambahan yang turut memperkaya menu kenduri, yaitu olahan ikan segar dari Sungai Oya. Keberadaan ikan ini tidak lepas dari peran aktif generasi muda. Ikan-ikan tersebut merupakan hasil budi daya yang diinisiasi oleh Karang Taruna Padukuhan Nglebak. Hasil panen ikan tersebut kemudian dimanfaatkan secara kolektif untuk mendukung berbagai kegiatan sosial warga, termasuk untuk kelancaran acara Nyadran dan Rasulan.

Suasana kebersamaan begitu kental terasa saat kenduri berakhir. Siapa saja yang hadir dalam ritual tersebut berhak mendapatkan bagian hidangan. Sebagian warga memilih menyantapnya langsung di lokasi sendang, dan sebagian lainnya membawa pulang sebagai nasi berkat untuk keluarga di rumah.

modin atau juru kunci memimpin doa Nyadran. (KH)

Menelusuri Sejarah Sendang Anggawangsa Sejak Era 1800-an

Berdasarkan penuturan tokoh adat Sumardi Purwo Warsito, Nyadran Sendang Tunjungsari sudah rutin terlaksana sejak ia masih kanak-kanak. Tradisi leluhur ini diperkirakan lahir bersamaan dengan awal mula kawasan tersebut dibuka sebagai area permukiman warga.

Ia memaparkan bahwa Sendang Tunjungsari pada mulanya memiliki nama asli Sendang Anggawangsa. Nama tersebut diambil dari sosok tokoh legendaris yang memelopori pembukaan lahan (babat alas) di wilayah Nglebak.

“Sendang ini merupakan petilasan Kaki Anggawangsa. Tempat tinggal beliau saat pertama kali melakukan babat alas di Nglebak,” terang Sumardi.

Secara historis, konon tradisi Nyadran di tempat ini sudah eksis sejak kurun waktu tahun 1800-an. Sejarah mencatat bahwa tokoh cikal bakal Nglebak merupakan sekumpulan warga yang bermigrasi dari wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pihaknya mengaku sangat bersyukur karena warisan budaya ini tetap lestari dan terjaga kemurniannya hingga hari ini. Terlebih, proses regenerasi berjalan dengan sangat baik. Dalam pelaksanaan Nyadran kali ini, tidak hanya kaum tua dan dewasa saja yang khidmat mengikuti jalannya prosesi. Sejumlah pelajar sekolah dasar (SD) juga turut serta, duduk melingkar, ikut melantunkan doa, dan menyimak setiap tahapan ritual dengan penuh takzim. Kehadiran generasi muda ini menjadi secercah harapan bahwa Nyadran Sendang Tunjungsari tidak akan punah tergerus oleh perkembangan zaman.

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar

Pos terkait