GUNUNGKIDUL, (KH),– Masyarakat Kapanewon Ngawen, khususnya warga Padukuhan Gudang, Kelurahan Kampung, kembali menggelar ritual adat tahunan Grebeg Besar Gunung Wijil pada Kamis, 28 Mei 2026 lalu. Tradisi yang sarat nilai sejarah dan spiritual ini menjadi momentum penting bagi warga untuk memohon berkah sekaligus memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama di Kabupaten Gunungkidul.
Grebeg Besar gunung Wijil bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk penghormatan dan pengingat atas jasa para leluhur. Salah satu tokoh penting yang dihormati adalah Raden Ngabehi Djoyowikrama yang dimakamkan di kawasan tersebut. Raden Ngabehi Djoyowikrama dikenal sebagai bagian dari Bergada Kawandasa, pasukan berjumlah 40 dengan sebutan Alap-alap Pangeran Sambernyawa yang gigih berjuang melawan penjajah.
Ungkapan yang senantiasa jadi pegangan yaitu rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkepi, mulat sarira hangrasa wani. Adapun pesananya, masyarakat diajak untuk terus melestarikan warisan sejarah ini. Filosofi ini menjadi landasan warga untuk merasa memiliki, wajib ikut mempertahankan, dan berani mawas diri dalam menjaga kebudayaan Jawa agar tidak punah ditelan zaman.
Prosesi upacara dimulai dengan pasrah lan tampi atau serah terima gunungan. Dalam prosesi ini, ada perwakilan warga menyerahkan sarana upacara kepada Agus Sumaryana selaku perwakilan tokoh masyarakat. Penyerahan gunungan ini menjadi simbol permohonan kolektif agar masyarakat Ngawen senantiasa diberkahi keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Harmoni Lintas Agama dan Dukungan Nyata untuk Kelestarian Tradisi
Salah satu poin penting Grebeg Besar Gunung Wijil tahun ini adalah keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang keyakinan. Peserta upacara di antarnya merupakan umat Islam, Hindu, Kristen Jawa, Katolik, warga Muhammadiyah, hingga para pelajar dari tingkat SD hingga SMK.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat hadir memberi apresiasi sekaligus kagum dengan kreativitas dan semangat gotong-royong masyarakat. Demi meriah dan lancarnya kegiatan sebelumnya warga bahu-membahu membuat hiasan janur serta penjor hingga dini hari.
Bupati Endah menegaskan bahwa kebudayaan adalah alat pemersatu bangsa, di mana perbedaan suku, agama, dan ras dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika. Dia juga mengingatkan pentingnya memiliki kepribadian dalam kebudayaan, sejalan dengan ajaran Tri Sakti yang digaungkan oleh Bung Karno.
Endah menyatakan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berkomitmen nyata dalam mendukung kelestarian situs budaya Gunung Wijil. Melalui Dinas Pekerjaan Umum, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp300 juta untuk rehabilitasi jalan menuju kawasan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah akses bagi para wisatawan dan peziarah yang ingin berkunjung. Selain itu, upacara adat ini kini telah resmi masuk ke dalam kalender event tahunan Kabupaten Gunungkidul.
Terhadap upacara adat ini, dukungan finansial dan moral juga mengalir dari berbagai pihak, termasuk donasi dari KGPAA Mangkunegara, kontribusi dari Ikatan Keluarga Gunungkidul, serta dukungan dari pelaku usaha lokal. Pernak-pernik kemeriahan juga tersaji, mulai dari penampilan seni Jathilan, reog. ogoh-ogoh, hingga pentas kreativitas dari sekolah-sekolah di wilayah Ngawen.
Melalui penyelenggaraan Grebeg Besar Gunung Wijil ini masyarakat berharap agar wilayah Ngawen dan Gunungkidul pada umumnya dijauhkan dari segala malapetaka atau nir ing sambikala. Diharapkan pula agar semangat golong gilig atau persatuan yang utuh terus terjaga demi mewujudkan masyarakat yang tenteram dan raharja.





