“Resan” sebagai Penjaga Sumber Air

oleh -
iklan hut ri multazam

Apakah makna resan adalah pohon atau tempat dimana ana kang ngreksa, ada yang menjaga? “Manut le arep negeske jane”, menurut saya.

Resan, sekali lagi menurut saya, kira-kira adalah pohon-pohon besar berumur ratusan tahun. Biasanya resan berupa tumbuhan dari keluarga ficus atau beringin. Keluarga jenis pohon ficus bersifat menangkap air hujan dan menyimpannya di bawah rimbunnya. Ficus hanya menggunakan air secukupnya saja untuk kebutuhan fotosintesis, selebihnnya ficus akan menyimpan air hujan hasil tangkapannya itu. Air hujan yang disimpan akan menyembul keluar dalam bentuk tuk atau mata air. Air dari mata air digunakan oleh masyarakat desa untuk berbagai keperluan seperti untuk mencukupi kebutuhan minum, untuk hewan, untuk pertanian, untuk ritual upacara, untuk pariwisata, dan lain-lain.

Resan-resan penjaga telaga. Foto: Padmo
“Resan-resan” penjaga telaga. Foto: Padmo

Bumi Gunungkidul mempunyai ratusan pohon resan yang menjaga suatu mata air. Melihat data jumlah dusun yang ribuan, sangat mungkin jumlah resan pun ribuan. Jumlahnya sekitaran berapa belum didata secara pasti. Resan lazim tumbuh di pinggir-pinggir tuk, kali, telaga, atau tempat-tempat wingit atau sakral tertentu.Tidak ada yg tahu siapa penanam pohon resan pertama kali. Usia resan rata-rata di atas ratusan tahun. Dalam konteks “pengetahuan” yang dimiliki oleh simbah-simbah jaman dulu, resan seringkali diidentikkan sebagai tempat bersemayamnya dhanyang atau penunggu wilayah awal, yaitu cikal-bakal atau leluhur penjaga desa. Dengan lestarinya pengetahuan ini di kalangan simbah-simbah, keberadaan resan sangat eksklusif bagi masyarakat desa dan justru terjaga kelestariannya sehingga mampu bertahan hingga sekarang.

Dalam konteks jaman sekarang, pemahaman resan sebagai tempat bersemayamnya dhanyang penunggu atau penjaga desa (cikal-bakal desa) justru masih relevan. Hal ini karena konteks resan di jaman sekarang menyimpan pengetahuan bahwa atas keberadaan resan-resan lah tuk atau sumber air masih terjaga. Pohon-pohon resan berumur ratusan tahun seperti beringin, bulu, klumpit, dan lain-lain adalah penjaga kehidupan desa. Resan menjaga tuk dan sumber. Resan menjaga sumur. Resan menjaga kali atau sungai. Resan menjaga lahan pertanian. Resan juga menjaga telaga. Para leluhur menitipkan pesan lewat keberadaan resan, terkadang lewat upacara sakral yang dilakukan oleh masyarakat desa di lingkungan resan berada. Para leluhur menitipkan wewaler kepada anak cucunya.

Namun demikian, wewaler yang dititipkan oleh para leluhur kita untuk bagaimana selalu menjaga resan dan tidak merusaknya sedikit demi sedikit luntur. Gampang sekali berbagai bentuk wewaler itu kita terabas atas dasar alasan tertentu. Ada yang ingin mengoleksi pohon kuno dan khas. Ada yang memiliki alasan berburu binatang liar yang hidup di lingkungan resan sehingga tidak memperdulikan keutuhannya. Sering pula kehidupan resan kalah dengan kepentingan ekonomi. Pemahaman leluhur tentang menanam dan menjaga resan mulai luntur oleh penanaman pohon-pohon keras seperti jati dan mahoni. Bahkan yang lebih cepat mematikan resan adalah adanya kepentingan “spiritual”, yaitu adanya pemahaman beragama di jaman sekarang yang tidah utuh karena dengan serampangan memusrikkan keberadaan resan dan ritual-ritual di sekitarnya. Akhirnya, bisa kita saksikan banyak resan di Gunungkidul yang bertumbangan. Kadang daun-daunnya dipronggoli semua tanpa sisa, dengan maksud agar bersemi kembali dan tak banyak ulatnya, namun hal ini justru menjadikan resan dimakan jamur dan lama kelamaan mati.

Oleh karena itu, pandangan dan pemikiran tentang keberadaan resan dalam konteks “pengetahuan” kekinian perlu digaungkan lebih keras. Pemikiran kekinian tentang resan adalah bahwa resan akan menangkap dan menyimpan air untuk kehidupan masyarakat. Resan mencukupi kebutuhan hidup kita. Persepsi bahwa resan adalah omah dhemit harus diganti dengan resan adalah omah banyu. Jika pandangan bahwa resan mencukupi kebutuhan kita karena resan adalah omah banyu telah ada, maka perlu dilakukan gerakan pengembangan ficus dan dilanjutkan penanaman kembali resan-resan yang mulai mati.

Penanaman resan di Daerah Aliran Sungai. Foto: Padmo
Penanaman “resan” di Daerah Aliran Sungai. Foto: Padmo

Kita harus menjadi resan bagi pohon-pohon dan lingkungan sumber air, dalam arti kita harus menjaga keadaan dan kelestarian mereka. Memang, langkah yang paling efektif dalam aksi bersama ini adalah jika Pemerintah Kabupaten Gunungkidul segera mengambil kebijakan strategis berhubungan dengan program perlindungan, penyelamatan, dan penanaman resan seluruh Gunungkidul. Langkah ini bisa diawali dengan inventarisasi resan se-Gunungkidul. Oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebaiknya resan dan lingkungan hidupnya segera dinyatakan sebagai heritage alam. Siapa tahu kelak, Gunungkidul benar-benar akan menuju ke geosite bumi berbarengan dengan gerakan besar-besaran penanaman para calon resan baru. Pemerintah dan masyarakat Gunungkidul secara luas semakin memiliki kesadaran dan bertanggung-jawab menjaga resan atau menjadi penjaga bagi kelangsungan hidup pohon-pohon resan di Gunungkidul.

Meskipun kecil, saya yakin penanaman satu resan di suatu tuk atau sumber dapat menginspirasi saudara yang lain. Banyak resan yang akan hidup dan muncul kembali. Resan-resan tidak akan mati. Karena menurut saya, banyak sumber, tuk, sendang, kali, atau telaga, hanya mengambil haknya kembali. Selebihnya, kita lah yang harus lebih banyak instrospeksi diri. Sudah kah kita menanami sumber air kita dengan resan?

Salam Resan, Salam Lestari!

 

[Penulis: E. Padmo]

Komentar

Komentar