1 Warga Meninggal Dunia Suspek Antraks, 540 Warga Diberi Terapi Pencegahan

oleh
ilustrasi. sumber; internet.

PONJONG, (KH),– Dinas Kesehatan melakukan surveilans di Padukuhan Ngrejek Wetan dan Kulon Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul pasca ditemukannya ternak sapi mati mendadak pertengahan Desember tahun lalu.

Hal tersebut dilakukan karena sapi mati diduga terkena bakteri antraks. Sehingga untuk mencegahnya surveilans atau pengumpulan data secara sistematik, analisis dan interpretasi dilakukan selama 120 hari.

Dugaan antraks menguat sebab dalam kurun waktu seminggu, sebagaimana disampaikan Kepala Desa Gombang, Supriyanto ketika dihubungi, Jum’at, (10/1/2020) malam menyebutkan, terdapat hewan ternak menyusul mati mendadak diantaranya 2 sapi dan 6 ekor kambing.

Tak hanya itu saja, pemilik sapi mati untuk yang pertama kali, Sukirat meninggal dunia usai sakit. Sebelumnya dirinya dan warga di sekitar mengkonsumsi sapi mati tersebut.

“Sebelumnya pemilik sapi kerja di Bandung saat pulang sudah sakit. Pasca sapi miliknya mati kemudian dikonsumsi bersama warga sakitnya semakin serius hingga kemudian meninggal dunia,” terang Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan, untuk delapan ekor hewan ternak yang kemudian juga mati mendadak tidak dikonsumsi.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, dr Dewi Irawati menyampaikan, untuk memastikan penyebab sapi mati dan penyebab warga yang kemudian mengalami sakit telah diambil sampel darah dan luka dari warga yang kontak dengan sapi untuk diuji laboratorium.

“41 Sampel darah dan luka dari warga yang kontak dengan sapi mati kami kirim ke Balai Besar Penelelitian verteriner Wates dan Bogor,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, dr Dewi Irawati, Jum’at, (10/1/2020).

Sebagai bentuk antisipasi, Dinas Kesehatan Gunungkidul kemudian melakukan terapi provilaksis atau pencegahan terhadap 540 orang di dua dusun itu. Terapi dengan pemberian antibiotik dilakukan terhadap ratusan warga tersebut karena berisiko terkena bakteri antraks.

Dinas Kesehatan dengan tim One Helth juga melakukan kaporisasi pada sumber-suber air di kawasan yang dicurigai tersebar virus antraks.

Sementara ini pihaknya masih menunggu hasil uji lab dari sampel darah dan luka. Disebutkan, saat ini memang belum dinyatakan penyebab sapi mati dan warga meninggal akibat antraks. Namun beberapa gejala dan peristiwa memiliki kecenderungan adanya penyebaran bakteri antraks.

Lebih jauh disampaikan, orang yang terkena antraks dapat diobati hingga sembuh asal segera terdeteksi sejak awal.

Penanganan kasus ini selain dilakukan Dinas Kesehatan juga dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul. (Kandar)

Komentar

Komentar