Daripada Panen Padi Sedikit, Pardio Lebih Untung Tanam Jagung Monokultur

oleh
Pardiyo petani asal Hargosari, Tanjungsari. KH.
Pardiyo, petani asal Hargosari, Tanjungsari. KH.

TANJUNGSARI, (KH),– Petani Gunungkidul di kawasan perbukitan belakangan mengalami perubahan tren pola tanam. Sebelumnya sistem tumpangsari diterapkan di lahan tadah hujan yang mereka miliki.

Dalam satu lahan biasanya terdapat beberapa jenis tanaman. Ada padi, jagung, ketela dan kacang tanah. Karena berada dalam satau lahan, maka jumlah populasi masing-masing jenis tanaman diatur tidak terlalu mendominasi jenis tanaman yang lain. Atau jarak antar tanaman yang sejenis tidak terlalu rapat.

Sistem tumpangsari tersebut dinilai tak memberikan hasil maksimal pada jenis tanaman padi. Memang, di lahan tadah hujan di kawasan perbukitan, padi dinilai tak begitu cocok. terlebih ditanam secara tumpang sari.

Sebagaimana pengalaman Pardiyo. Petani asal Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari ini membuktikan bahwa meniadakan tanaman padi lalu menggantinya dengan populasi tanaman jagung yang lebih banyak memberikan hasil bertani lebih menguntungkan.

Pengalamannya melakukan analisis komparasi yang detail, sistem monokultur jagung lebih memberikan keuntungan. Sebetulnya tak murni monokultur jagung, hanya saja jumlah tanamannya lebih mendominasi dibanding  ketela dan kacang tanah.

“Daripada menanam padi hasilnya sedikit, lebih baik dipenuhi tanaman jagung hasil lebih melimpah,” kata Pardiyo meyakinkan.

Pengakuannya, di lahan 2.400 meter persegi yang dimiliki panenan jagung dapat menghasilkan uang Rp. 5 jutaan.

Baca Juga: Gunungkidul Panen Raya Jagung, Kementan Klaim Telah Kendalikan Import

 

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan beras konsumsi, dari hasil menjual jagung tersebut dibelikan gabah di lain wilayah. Bahkan ia masih dapat menyisihkan uang dari hasil menjual jagung tersebut untuk kebutuhan lain.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono memuji, inisiatif yang dilakukan Pardiyo cukup cerdas.

“Ini petani bisnis. Cukup inspiratif, lebih-lebih untuk daerah-daerah yang endemis hama uret,” Kata Raharjo mengapresiasi. (Kandar)

Komentar

Komentar