Wisata Bertanggung-Jawab dan Wisata Pendidikan

oleh -
Pariwisata pertanian di sekitar Gunung Nglanggeran
Pariwisata pertanian di sekitar Gunung Nglanggeran
iklan dispar

Kawasan Gunungkidul didominasi pegunungan kapur. Ratusan bukit dengan batu-batu karang yang menyembul menjadi ciri khas kawasan ini. Di musim penghujan, bukit-bukit itu terlihat menghijau tertutupi oleh tanaman yang tumbuh di sela-sela batu karang. Danau-danau yang banyak tersebar di Gunungkidul dipenuhi oleh air hujan. Sungai dan anak sungai pun mengalirkan air hujan.

Namun kondisi berubah total di musim kemarau. Bukit-bukit berubah menjadi tumpukan batu karang yang tandus. Danau, sungai dan anak sungai kehilangan airnya. Sumur-sumur yang biasa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan harian penduduk juga kering kerontang, sehingga mereka sering harus berjalan menempuh jarak yang jauh untuk bisa memperoleh air. Hal ini membuat orang malu mengaku berasal dari Gunungkidul karena tak mau dipandang sebagai orang yang jarang mandi.

Kini semua telah berubah. Setelah ada teknologi untuk mengangkat air sungai yang mengalir di bawah tanah. Setelah tak ada lagi cerita penduduk yang harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air di musim kemarau. Setelah tak ada lagi cerita tentang orang yang tidak mandi karena tidak ada air.

Sekarang Gunungkidul telah menjadi daerah yang makmur sehingga menjadi pilihan orang untuk tempat berinvestasi serta salah satu penyumbang APBD terbesar untuk Propinsi DIY dari sektor pariwisata. Dengan mengoptimalkan garis pantai yang panjang dan potensi wisata alam lainnya, membuat Gunungkidul kaya akan destinasi wisata. Tak pelak, setiap hari libur destinasi wisata di Gunungkidul selalu ramai dikunjungi wisatawan domestic dan manca Negara.

Namun sayang, banyak dari tempat tujuan wisata tersebut yang hanya memberikan keuntungan besar kepada para investor dan kurang memberikan peran berarti kepada masyarakat sekitar. Banyak juga pengelolaan wisata di Gunungkidul yang masih kurang memperhatikan masalah lingkungan. Hamparan sampah biasanya menjadi pemandangan yang lumrah dijumpai di tempat-tempat wisata tersebut. Begitu juga jejak vandalisme para pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, wisata konvensional tanpa memperhatikan batasan jumlah pengunjung juga menjadi ancaman bagi dunia wisata di Gunungkidul. Jenis wisata ini biasanya kurang memperhatikan kepuasan pengunjung. Jumlah pengunjung yang berlebihan menyebabkan kenyamanan dan keamanan mereka menjadi kurang diperhatikan.  Kelebihan jumlah pengunjung mempengaruhi daya dukung lingkungan dan keberlangsungan lokasi wisata tersebut.

Oleh karena itu, perlu pengelolaan pariwisata bertanggung jawab yang memperhatikan masalah lingkungan. Yaitu pariwisata yang memperhatikan daya dukung lingkungan, yang memberikan peran lebih besar kepada masyarakat, dan yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

Banyak contoh wisata sebagaimana dimaksud. Salah satunya adalah pengelolaan wisata di Gunung Api Purba Nglanggeran, dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pariwisata di sana. Masyarakat menjadi pemandu wisata misalnya. Mereka yang lebih tahu tentang lokasi tersebut menjadi narasumber bagi para pengunjung, sehingga para pengunjung juga mendapat pengetahuan tambahan selama berwisata.

Para amongtani di wilayah Gunung Api Purba Nglanggeran sedang menanam padi. Foto:WG
Secara berkelompok, para amongtani di wilayah Gunung Api Purba Nglanggeran sedang menanam padi. Foto:WG

Selain itu, optimalisasi pemukiman masyarakat sebagai tempat menginap (home stay) selain dapat meningkatkan pendapatan masyarakat juga dapat mengurangi eksploitasi alam untuk mendirikan bangunan baru.

Perlu kesadaran bersama untuk dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Agar tidak terjadi pengunjung yang mengeluh akibat gangguan saat menuju maupun sedang berwisata di Gunungkidul. Agar tak pernah ada complain pengunjung karena menemukan sampah yang berserakan tidak pada tempatnya. Faktor keamanan dan kebersihan adalah hal yang paling sering menjadi perhatian dalam mewujudkan kenyamanan pengunjung.

Masih ada potensi wisata lain yang belum digarap secara maksimal oleh pemerintah dan masyarakat di Gunungkidul. Salah satunya adalah wisata pendidikan, dimana Yogyakarta sebagai kota pendidikan telah menyediakan pasar yang sangat potensial.

Lahan pertanian kering di wilayah Panggang. Foto:WG
Lahan pertanian kering di wilayah Panggang. Foto:WG

Gunungkidul yang  hanya berjarak sekitar 30 km dari kota Yogyakarta mempunyai peluang yang sangat besar untuk dapat menjadi tujuan wisata pendidikan. Kawasan Gunungkidul mencakup 46,63% dari seluruh wilayah Provinsi DIY. Kawasan ini mempunyai berbagai tipe ekosistem lengkap dengan keanekaragaman hayati di dalamnya, dimana hal ini adalah materi yang menarik untuk pelajaran Ilmu Biologi. Topografi dengan tipe batuan dan sistem sungai bawah tanah yang ada di Gunungkidul juga dapat menjadi salah satu materi dalam pelajaran Geografi. Masyarakat Gunungkidul dengan budaya yang tetap terpelihara hingga saat ini juga bisa menjadi tema yang menarik untuk dipelajari dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pengembangan wisata ini memerlukan pendekatan yang berbeda dengan wisata konvensional sebagaimana yang dijelaskan di atas. Para pelaku wisata harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang memadai agar dapat menjalankan peran sebagai sumber pembelajaran. Masyarakat juga perlu disadarkan untuk menjaga kelestarian kekayaan alam dan budaya sebagai aset penting untuk menjamin agar geliat wisata di wilayah itu dapat berjalan dalam keberlanjutan.


[Penulis: Gunawan, seorang pegiat konservasi satwa liar, khususnya burung pemangsa. Gunawan, yang berasal dari Playen, banyak melakukan rehabilitasi dan pelepas-liaran elang dan penelitian burung pemangsa. Saat ini Gunawan bernaung di dalam Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI)].

Komentar

Komentar