Konflik Satwa Liar dan Manusia di Gunungkidul

oleh -
Elang Ular Bido merupakan jenis elang pemangsa yang umum ditemui di Gunungkidul. Makanan kesukaannya adalah reptil seperti: kadal, bunglon, dan ular. namun kadang mereka juga makan tikus, bajing, dan burung kecil.
Elang Ular Bido merupakan jenis elang pemangsa yang umum ditemui di Gunungkidul. Makanan kesukaannya adalah reptil seperti: kadal, bunglon, dan ular. namun kadang mereka juga makan tikus, bajing, dan burung kecil.
iklan dispar

Gunungkidul digambarkan oleh Junghun sebagai kawasan dengan hutan belantara yang lebat, sehingga tak heran beberapa lokasi dinamakan dengan ‘wana’ yang berarti hutan. Namun kini Gunungkidul hanya menyisakan petakan-petakan kecil sisa-sisa hutan, sedangkan selebihnya telah berubah menjadi area pemukiman maupun kawasan berbukit batu yang gersang.

Hutan menyimpan kekayaan jenis keanekaragaman hayati flora dan fauna. Berbagai jenis satwa liar yang dapat dijumpau di Gunungkidul antara lain: monyet ekor panjang, kijang, rusa, landak, kucing hutan, elang, dan berbagai jenis burung. Bahkan satwa liar yang hanya dapat dijumpai di pulau jawa (endemic) masih tersebar di beberapa area di Gunungkidul, misalnya macan tutul (Panthera Pardus), pun juga satwa yang mempunyai status keterancaman tinggi dan menjadi perhatian dunia seperti trenggiling (Manis Javanica).

Trenggiling. Foto:Gun
Trenggiling juga dapat dijumpai di Gunungkidul. Trenggiling termasuk satwa yang dilindungi, kondisinya “sangat terancam punah” (berdasar daftar merah IUCN masuk dalam kategori terancam/’endangered’). Trenggiling sangat aktif di malam hari. Ia pemanjat ulung, penyuka semut dan rayap. Foto:Gun

Satwa-satwa tersebut bergantung dan memanfaatkan sisa-sisa hutan yang ada sebagai tempat mencari perlindungan dan mencari makanan. Namun ketika musim kemarau tiba, banyak di antara mereka yang terpaksa meninggalkan hutan untuk sekedar bertahan hidup. Saat itulah sering terjadi benturan dengan kepentingan manusia karena mereka dianggap mengancam atau bahkan mengganggu tanaman pertanian dan hewan ternak.

Konflik antara manusia dan satwa liar di Gunungkidul diperparah dengan masih maraknya perburuan satwa liar di Gunungkidul. Misalnya perburuan terhadap satwa mangsa (kijang, rusa, atau landak) menyebabkan macan tutul terpaksa masuk ke pemukiman dan memangsa hewan ternak penduduk. Penangkapan ular secara besar-besaran demi permintaan rumah makan, serta perburuan elang untuk memenuhi keinginan para penghobi adalah penyebab terjadinya lonjakan populasi tikus dan monyet ekor panjang. Tingginya jumlah tikus dan monyet ekor panjang menjadi ancaman bagi para petani di Gunungkidul, sehingga setiap tahun mereka dipusingkan dengan ancaman gagal panen akibat serangan tikus atau monyet ekor panjang.

Walaupun beberapa satwa seperti elang, kijang, rusa, trenggiling, dan landak termasuk satwa yang dilindungi peraturan di Indonesia, namun kenyataannya perburuan terhadap mereka masih saja marak terjadi.

Sikep Madu Asia . Foto:Gun
Sikep Madu Asia adalah burung pemangsa yang bermigrasi melintasi Gunungkidul. Setiap tahun mereka menghindari musim dingin di tempat biaknya di kawasan Asia Selatan dan akan kembali lagi ketika musim dingin berlalu . Foto:Gun

Keberadaan burung elang sering digunakan untuk menggambarkan secara sepintas kondisi ekosistem kawasan. Adanya burung elang di satu kawasan menunjukkan bahwa kondisi ekosistem kawasan tersebut masih cukup baik. Hal ini berkaitan dengan peran mereka sebagai pemangsa puncak dalam rantai makanan, sehingga hilangnya burung elang dalam rantai makanan akan mempengaruhi keseimbangan ekosistemnya.

Saat ini, elang di Gunungkidul hanya dapat dijumpai di area yang masih menyisakan hutan, walaupun kadang mereka hanya memanfaatkan pohon di hutan tersebut untuk membangun sarang. Demi keamanan, burung elang biasa memilih pohon yang berada di tebing. Sarang elang diletakkan di pohon tertinggi untuk memudahkan mereka memantau kondisi sekitarnya. Burung elang kebanyakan hanya menghasilkan 1 butir telur pada tiap musim berbiak. Telur tersebut akan dierami selama ±40 hari. Anak burung elang akan berada di sarang selama 10 minggu sampai dia siap untuk terbang pertama kali. Induknya akan kembali bertelur dan menggunakan sarang yang sama pada tahun-tahun selanjutnya.

Burung elang juga banyak digunakan sebagai lambang Negara. Dan Indonesia adalah salah satunya. Garuda Pancasila adalah mahluk mitologi yang tidak pernah ada di dunia. Namun kemudian pemerintah Indonesia menetapkan burung Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) sebagai burung yang dianggap identik dengan Garuda Pancasila.

Bajing. Foto:Gun
Walaupun bajing bukan golongan satwa yang dilindungi, keberadaan mereka di alam berguna sebagai mangsa sehingga elang tidak mengganggu hewan ternak . Foto:Gun

Namun nasib burung Elang Jawa tidak jauh berbeda dengan umumnya satwa liar di Indonesia. Mereka semakin terancam oleh perburuan, perdagangan, dan kehilangan habitat. Pada tahun 2015, tercatat sebanyak 117 ekor Elang Jawa yang diperdagangkan melalui media sosial. Jenis burung yang hanya ada di Indonesia (endemic Pulau Jawa) ini diperkirakan populasinya hanya tersisa 450 pasang, dimana sebagian besar dari itu menempati sisa hutan di pegunungan dan kawasan konservasi (taman nasional, suaka margasatwa, cagar alam, dan taman wisata alam) di Jawa.

Perlu solusi yang tepat agar kelestarian satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya di Gunungkidul khususnya, dan Indonesia pada umumnya, dapat terus terjaga. Penegakan hukum dan kesadaran masyarakat untuk hidup berdampingan dengan alam harus dimulai dari sekarang. Jangan menunggu hingga makin banyak flora dan fauna yang mengalami nasib sama dengan Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaica), yang hanya menyisakan cerita!

————

[Penulis: Gunawan. Belasan tahun berkecimpung dalam dunia konservasi satwa liar, khususnya burung pemangsa, ia banyak melakukan rehabilitasi dan pelepas-liaran elang, serta melakukan penelitian tentang burung pemangsa. Saat ini Gunawan, yang berasal dari Pleyen, bernaung di dalam Yayasan Konservasi Elang Indonesia (YKEI).]

Komentar

Komentar