Wirausaha Muda Dan Pelaku UKM Gunungkidul Adakan Kopdar

oleh -
Kopdar dan pertemuan UKM se Gunungkidul. KH/ Kandar
iklan dispar
Kopdar dan pertemuan UKM se Gunungkidul. KH/ Kandar
Kopdar Atau pertemuan UKM se Gunungkidul. KH/ Kandar

PATUK, (KH)— Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang ada di Gunungkidul mesti bersiap membuat produk yang dimiliki harus lebih baik dan berkualitas, sehingga dapat bertahan atau ikut dalam persaingan yang semakin sengit dengan produk dari luar.

Hal tersebut disampaikan Dion, penggagas kelompok atau Forum Wirausaha Muda Gunungkidul pada acara pertemuan atau Kopi Darat (Kopdar) yang diadakan di Resto Jelok Desa Wisata Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Sabtu, (5/3/2016).

Dalam pertemuan tersebut dihadiri sedikitnya 60-an UKM dan wirausahawan se-Gunungkidul. Beberapa hal yang penting dibahas di antaranya terkait permodalan dan pemasaran. Wirausaha Muda sebagai wadah atau kelompok yang baru saja dibentuk akhir Desember lalu memiliki keinginan untuk memaksimalkan pemasaran berbagai produk hasil UKM melalui sebuah tim.

Selain itu, dibahas pula permasalahan permodalan yang dihadapi. Pihaknya mencoba menggandeng salah satu lembaga penyedia jasa keuangan yang kebetulan memiliki program layanan baru di awal tahun ini. “Kita mencoba bermitra dengan salah satu bank. Mudah-mudahan Bank BRI dapat memberikan dukungan perkembangan UKM,” ujarnya di sela acara.

Selain memaparkan layanan program pinjaman kepada UKM peminat Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kepala Cabang BRI Wonosari, Tri Suwardi juga menyinggung UKM di Gunungkidul harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Diakui, memang saat ini perekonomian dalam tataran nasional atau internasional sedang lesu. meski demikian tak perlu risau, hal yang lebih penting ialah mempersiapkan diri dalam waktu dekat ini menghadapi persaingan produk yang semakin terbuka.

“Kita harus berani bersaing agar dapat membendung gempuran produk luar. Budaya konsumtif harus ditekan, jangan sampai kita jadi pengguna saja tetapi juga penghasil produk baik barang dan jasa,” jelas Tri.

Mendorong eksistensi produk lokal, salah satunya dapat dimulai dengan mencintai produk lokal dengan mengurangi penggunaan produk luar. Slogan itu, ungkapnya, akan menjadi slogan semata jika kualitas produk lokal dan harganya kalah dengan barang dari luar.

“Kita gemborkan cinta produk Indonesia tetapi harganya mahal, ini kan sama saja. Maka kita harus memiliki inovasi bagaimana menekan biaya produksi,” kata Tri lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar