Berbagai Upaya Dilakukan Demi Bangkitkan UMKM yang Terpuruk Akibat Pandemi

oleh -
Kerajinan
Salah satu pengrajin topeng di Dusun Bobung, Putat, Patuk, Kemiran. (ist)

WONOSARI, (KH),– Dampak Pandemi yang sangat dirasakan oleh masyarakat yakni sektor ekonomi. Kelesuan ekonomi secara umum berimbas juga pada jenis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah(UMKM).

Banyak UMKM gulung tikar, mati suri, beralih bidang usaha, atau hanya bisa sekedar bertahan dengan progres yang tidak menentu.

Setelah Pandemi berlangsung setahun lebih, berbagai upaya telah dilakukan untuk menggairahkan kembali sektor ekonomi khususnya para pelaku UMKM. Pelaku UMKM berusaha melakukan berbagai inovasi dan terobosan kreatif agar bangkit. Pemerintah juga sudah mengupayakan beberapa program pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku usaha.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Gunungkidul, Widadgo menyampaikan, jumlah UMKM di Gunungkidul berdasar update data tahun 2018 ada 22.623 usaha.

“Jumlah ini kemungkinan bertambah, dan bisa dipastikan selama Pandemi, mereka sangat terdampak,” kata Widagdo, Senin (7/6/2021).

Widagdo menambahkan, bahwa UMKM khususnya yang bergerak dibidang produksi kerajinan sangatlah terdampak. Mereka merasakan penurunan pendapatan secara drastis.

“Pesanan hampir tidak ada, kunjungan ke galeri ataupun tempat produksi pun juga sepi. Sehingga beberapa waktu lalu, mereka terpaksa berhenti berproduksi,” lanjutnya.

Widagdo mencontohkan, UMKM bidang kerajinan yang terdampak diantaranya kerajianan topeng di Bobung Patuk dan Perak di Pampang. Pada dua lokasi usaha tersebut dapat dikatakan tidak ada order yang masuk. Sehingga produksi terpaksa berhenti.

UMKM yang bergerak dalam bidang konveksi juga terdampak. Masih beruntung ada sedikit solusi, bahan kain yang dimiliki oleh para pelaku kemudian dialihkan untuk pembuatan masker.

“Untuk sektor yang masih bisa bertahan terus adalah olahan makanan karena sebagai kebutuhan pokok, walaupun secara umum order juga menurun,” lanjut Widagdo.

Widagdo memaparkan mengenai upaya atau program pemerintah untuk menggeliatkan kembali UMKM di Gunungkidul. Salah satu upaya tersebut adalah pendampingan kepada para pelaku usaha.

“Pendampingan ini meliputi pelatihan produksi, peningkatan modal kerja, memperluas segmen pemasaran hingga memanfaatkan teknologi digital. Hal ini dilakukan agar produk mereka lebih dikenal luas,” terang Widagdo

Teknologi digital diterapkan dalamnhal pemasaran. Produk mereka dijual secara online. Sedang untuk program pelatihan meliputi pelatihan olahan produk.

“Saat ini kita sedang berusaha membaca peluang dengan mulai bergeliatnya pariwisata,” imbuh dia.

Saat ini Dinas Koperasi dan UKM mengadakan pameran produk milik pelaku usaha di destinasi wisata bekerjasama dengan pokdarwis. Pihaknya menggelar pameran produk UMKM daerah, diantaranya di telaga Jonge, Semanu, Watu Gendong Ngawen, dan rencanannya di Gunung Punthuk Katongan, Nglipar.

“Bentuk lain upaya kami selain pelatihan dan pendampingan, kami juga bekerjasama dengan bank yang memberikan bunga ringan untuk permodalan UMKM,” pungkas Widagdo. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar