Warga Usir Pulung Gantung dengan Gejong Lesung dan Pukul Kenthongan

oleh -
Warga menabuh lesung yang diyakini dapat mengusir Pulung Gantung. KH/ Kandar.
iklan-idul-fitri-smkn3-wno

SAPTOSARI, (KH).– Apa mau dikata, kebiasaan menabuh atau gejog lesung yang diyakini mampu mengusir makhluk halus penyebab orang nekat melakukan gantung diri, yang akrab dikenal dengan pulung gantung masih ada hingga saat ini. Bahkan sebagian yang melakukan masih sangat yakin.

Hal tersebut terjadi di beberapa padukuhan di Desa Monggol Kecamatan Saptosari. Gejog lesung gencar dilakukan semenjak salah satu warga di padukuhan tersebut nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, Sabtu (9/8/2014) lalu.

iklan kejari

Selepas senja, alunan ritmis gejog lesung dari kejauhan sayup-sayup terdengar hingga ke lain desa, terbawa dinginnya hembusan angin musim kemarau.Aalunan khas suara lesung yang ditabuh membuat suasana menyeramkan, sebagian yang lain membunyikan kenthongan atau lebih dikenal dengan sebutan thoklek, sesekali juga terdengar suara cethen (cambuk sapi).

Alunan ritme yang dihasilkan bukan dalam rangka lomba gejog lesung memeriahkan tujuh belasan, juga bukan sebuah pentas untuk melestarikan seni tradisional, tapi dilakukan sebagai pengusir si pulung gantung.

“Kata sesepuh desa, dilakukan supaya tidak ada korban yang menyusul” ujar Sutarman warga Padukuhan Baros Kidul, kamis (14/8/2014). Tersiar kabar Pulung Gantung masih berada di wilayah tersebut. Di rumahnya, kothekan atau gejog lesung dilakukan oleh istrinya bersama tetangga,  dan dikerumuni anak belasan tahun. Meski seperti melihat pertunjukan rasa takut nampak di wajah mereka.

Penuturan lebih mendalam disampaikan Parno, dirinya menggambarkan wujud pulung gantung yang menakutkan bagi sebagian warga. “Seperti cahaya lampu yang terbang memanjang layaknya tali berwarna kuning kemerahan, dibagian ekor berwarna kehijauan,” katanya sambil mengusap bulu kuduk yang berdiri.

Kemudian Samin, keponakan pelaku menceritakan pasca kejadian, banyak yang berspekulasi kenekatan pelaku bunuh diri lantaran frustasi anaknya tidak mau sekolah, padahal telah membayar biaya pendaftaran. Sehingga membuat stres pelaku yang berujung nekat bunuh diri.

Anak Samin menambahkan, anak bungsu pelaku mengaku takut masuk sekolah karena takut atas hukuman yang diberikan ketika Masa Orientasi Sekolah (MOS). “Tidak dihukum kok, cuma latihan upacara saat terik matahari,” ucapnya menirukan teman anak pelaku yang menyangkal bahwa ada hukuman.

Saat berita ini dihimpun si anak tetap belum kembali masuk sekolah. “Malam harinya setelah bapaknya gantung diri dia sempat sakit, sekarang juga belum sekolah,” ucap Samin merasa iba.

Pelaku sempat berwasiat yang tertulis di secarik kertas lengkap dengan tandatangan dan nama terang yang terselip di sakunya. Pesan ditujukan kepada anaknya yang belum lama dinikahkan dan yang masih dikuliahkan kakak pelaku di Jakarta.

“Anakku Budi, semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu, dan Yani segeralah kembali ke Jakarta melanjutkan belajarmu sampai berhasil, semoga keluarga kita tenteram, mungkin ini sudah nasib Bapak,” tutur Samin berusaha menirukan isi wasiat yang pernah dibacanya.

Sementara itu, terlepas dari mitos, warga tetap akan melakukan gejog lesung selama tujuh hari pasca kejadian. (Kandar/Hfs)

hut gk kh

Komentar

Komentar