Warga Desa Ngawu dan Playen Sepakat Ciptakan Kerukunan Beragama

oleh -
Gereja GPDI Ngawu Playen. Foto: Atmaja.
iklan dispar
Gereja GPDI Ngawu Playen. Foto: Atmaja.
Gereja GPDI Ngawu Playen. Foto: Atmaja.

PLAYEN,(KH) — Warga Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Playen kini dapat kembali beribadah, setelah sebelumnya terjadi polemik dengan warga setempat. Melalui musyarawarah bersama dan rasa saling menghormati, polemik dapat teratasi dengan baik.

Parno (56), salah satu warga perbatasan Desa Ngawu dan Desa Playen berharap agar antar warga ¬†yang mempunyai keyakinan berbeda untuk saling menghormati. “Tentunya saling menghormati terhadap warga yang sedang beribadah, dengan tidak mengadakan ibadah secara bersamaan dengan pemeluk agama lain,” ujar warga yang bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi GPdI Playen.

Ia menambahkan, saat ini baik warga Ngawu maupun Playen tidak keberatan dengan aktivitas jemaat gereja tersebut. “Bahkan saat jemaat yang mengadakan kebaktian penuh, mereka dapat menggunakan parkir di depan rumah warga sekitar. Itu tidak masalah bagi kami,” jelas Parno.

Ditemui secara bersamaan, Agus Marsudi, warga Desa Playen mengaku tidak ada masalah dengan kegiatan ibadah jemaat GPdI Playen. Terlebih upaya jemaat GPdI yang bersedia mengganti jadwal ibadah agar tidak bersamaan dengan jadwal sholat maghrib perlu dihargai. “Ini merupakan bentuk rasa saling menghormati dari jemaat GPdI Playen terhadap keyakinan yang lain, sehingga kami juga menghormati saat jemaat GPdI sedang beribadah,” ungkap Agus.

Sementara itu, Kades Playen Surahno mengatakan, musyawarah telah dilakukan dengan adanya putusan karena GPdI Playen sudah mempunyai ijin mendirikan bangunan (IMB). Musyawarah yang melibatkan seluruh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) memutuskan gereja tersebut diakui keberadaannya. “Bahkan pada musyawarah juga hadir Bupati Gunungkidul Hj Badingah,” ujarnya.

Ia berharap, warganya tetap memelihara rasa saling menghormati. “Kami berharap tidak ada gesekan yang terjadi di Desa Playen dan warga dapat hidup berdampingan meski memeluk kepercayaan yang berbeda,” jelasnya

Ditemui di kediamannya, Budi warga Desa Playen selaku pengurus GPdI Playen mengatakan, memang sempat terjadi sedikit permasalahan beberapa waktu lalu, namun permasalahan sudah dapat diselesaikan melalui musyawarah dengan semua tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Lebih lanjut, ia meminta maaf atas kejadian jadwal ibadah yang bersamaan. Jadwal ibadah sudah diganti agar tidak bersamaan dengan jadwal ibadah umat lainnya. Selaku perwakilan dari GPdI, ia mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh lapisan yang memberi izin aktivitas jemaat GPdI di Playen. (Atmaja).

Komentar

Komentar