Wahana Paralayang Purwosari, Nikmati Pantai Selatan Dari Atas Awan

oleh -
Paralayang atau terbang tandem dengan parasut dari bukit Watu Gupit Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari. dok: Pokdarwis Cahyo Makmur.
kadhung tresno
Paralayang atau terbang tandem dengan parasut dari bukit Watu Gupit Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari. dok: Pokdarwis Cahyo Makmur.
Paralayang atau terbang tandem dengan parasut dari bukit Watu Gupit Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari. dok: Pokdarwis Cahyo Makmur.

PURWOSARI, (KH)— Bagi yang suka dengan petualangan dan pengalaman ekstrem wahana wisata minat khusus paralayang di bukit Watu Gupit, Padukuhan Gabug, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari ini dapat menjadi pilihan.

Olahraga terbang bebas menggunakan parasut bersama pemandu (pilot) atau disebut terbang Tandem ini makin diminati. Ketua Pokdarwis Cahyo Makmur, Parijo mengatakan, kunjungan ke bukit Watu Gupit pada musim libur ini mengalami peningkatan.

Wisatawan yang hadir dapat menikmati pemandangan dari ketinggian/ puncak dengan view pantai selatan. Selain itu wahana Tandem Flight yang disediakan oleh Persatuan Paralayang DIY memberikan pengalaman baru menikmati pemandangan pantai selatan dari atas awan.

“Kemarin jumlah pengunjung mencapai 600-an. Selain wisatawan domestik sebagian juga dari manca Negara,” kata Parijo, Senin, (2/1/2017).

Parijo menyebutkan, dari keseluruhan pengunjung sedikitnya ada 12 wisatawan yang berani menguji adrenalin dengan menikmati terbang tandem. Dengan dampingan pemandu, wisatawan yang phobia terhadap ketinggian pun dapat mencobanya.

“Terbang dari bukit Watu Gupit dengan durasi selama dua jam lalu turun di Parangtritis,” imbuh Parijo. Dalam sekali terbang wisatawan cukup membayar biaya sekitar Rp. 300 ribuan. Mengenai pelayanan terbang tandem ini secara khusus ditangani oleh komunitas atau persatuan dari DIY.

Sementara itu, Pokdarwis yang telah dirintis melakukan pengelolaan kawasan, termasuk diantaranya jasa parkir, jasa angkut peralatan paralayang untuk kembali ke lokasi start terbang, dan pelayanan lain di seputar kawasan bukit.

Hingga saat ini belum ada peraturan mengenai retribusi masuk kawasan bukit Watu Gupit, sementara Pokdarwis hanya memungut biaya parkir sebesar Rp. 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp. 10 ribu untuk mobil.

Dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Gunungkidul mulai ada. Parijo menyebutkan, pembangunan fasilitas dua unit pendopo, kios, MCK dan Mushola saat ini tengah berlangsung.

Dirinya berharap, wisata pemandangan alam yang dilengkapi dengan paralayang ini semakin dikenal luas sehingga meningkatkan pemasukan bagi Pokdarwis lalu berdampak pula pada kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Anggota kami ada 11 orang, sebagian besar dari Padukuhan Gabug sedangkan sisanya perwakilan dari masing-masing seluruh padukuhan di Giricahyo. Semoga destinasi wisata yang kami kelola semakin ramai dikunjungi,” harap Parijo. (Kandar)

Komentar

Komentar