Waduh, Atlet PON dari Gunungkidul DIY Berniat Hengkang

oleh -
atlet
Atlet jalan cepat Gunungkidul, Bayu Prasetyo berfoto bersama pelatih, Heri Surahno. (dok. Bayu)
iklan golkar idup fitri

GUNUNGKIDUL, (KH),– Atlet asal Gunungkidul, DIY, Bayu Prasetyo berniat hengkang. Dia berencana tidak ingin membela DIY lagi pada event kejuaraan daerah dan nasional.

Peraih medali perak pada nomor 20.000 meter jalan cepat putra cabang olahraga atletik di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua lalu ini saat dihubungi mengutarakan keinginan pindah dari Gunungkidul, DIY.

“Sebab yang pertama, sampai saat ini belum ada gambaran kejelasan mengenai ‘perhatian’ pemerintah daerah sebagai bentuk apresiasi terhadap atlet berprestasi,” kata Bayu melalui sambungan telepon belum lama ini.

Tanpa basa basi Bayu menyebut, misalnya disiapkan pekerjaan pada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Selama menjadi atlet profesional dia mengaku tak punya banyak kesempatan menyiapkan diri masuk ke dunia kerja. Hari-harinya banyak diisi dengan kegiatan latihan.

“Namun saya sangat berarap setelah saya berhenti berkarir sebagai atlet saya sudah punya pekerjaan. Alasan pertama ini merupakan pertimbangan jangka panjang ke depan apabila saya pensiun sebagai atlet,” kata dia.

Alasan ke dua, lebih jauh Bayu sampaikan, pembinaan oleh daerah dianggap tidak ada arah yang jelas. Atlet hanya disiapkan untuk level Porda saja atau terus difasilitasi hingga level nasional.

Adapun untuk alasan ke tiga masih berkaitan dengan pembinaan. Dia menilai, salah satu asumsi tidak adanya arah pembinaan yakni tidak adanya prioritas antara atlet baru dengan atlet yang sudah berpengalaman di level nasional.

“Misalnya kelasnya dibedakan antara atlet kelas Porda dan nasional. Termasuk dari sisi pembiayaan, uang pembinaan atau gajinya,” tandas Bayu.

Menurutnya, atlet yang berpengalaman layak diberikan perhatian khusus dengan pertimbangan aspek level prestasi. Untuk kelas nasional semestinya ada perbedaan dengan yang level daerah atau propinsi.

Bayu juga membeberkan alasan lain soal tipisnya peluang bertanding di level Porda DIY karena terhalang regulasi. Peraturan dapat ditandingkannya cabang olahraga dengan syarat harus diikuti minimal 4 atlet dari 3 kabupaten atau kota diakui menjadi batu sandungan.

“Seperti pengalaman tahun ini. Padahal cabang olahraga jalan cepat berpeluang meraih medali. Tapi karena aturan gagal dipertandingkan,” keluh Bayu.

Ketua Komite Olahraga Nasional (KONI) Gunungkidul, Jarot Budi Santosa saat ditemui, Senin, (4/4/2022) mengaku telah berbicara langsung dengan Bayu.

Dia memahami kekecewaan yang dialami atlet yang berlatih di Sportif Atletik Club Gunungkidul tersebut.

“Kami menilai itu luapan kekecewaan spontanitas. Kami sudah bicara dengan yang bersangkutan. Termasuk koordinasi singkat dengan KONI DIY,” kata Jarot.

Dia menegaskan, apa yang diminta Bayu bukan semata tanggungjawab kabupaten, namun juga propinsi. Sebab, dia merupakan atlet PON. Bayu saat ini masuk atlet kelas nasional.

“Yang jelas apa yang menjadi persoalan akan ada jalan keluarnya. Permintaan diantaranya pekerjaan sangat memungkinkan diakomodir,” imbuh Jarot.

Dia sangat berharap rencana kepindahan Bayu tidak terjadi. Bayu selama ini telah terbukti punya prestasi di kancah nasional.

“Kami akan koordinasi lagi dengan KONI DIY termasuk bersama Bayu dan membicarakannya baik-baik,” tukas Jarot. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar