Vihara Siraman, Antara Rohani dan Sosial Kemasyarakatan

oleh -
Ketua Muda Mudi Buddhis Gunungkidul, Sugeng Riyanto S Ag . KH/ Kandar
iklan dispar
Ketua Muda Mudi Buddhis Gunungkidul, Sugeng Riyanto S Ag . KH/ Kandar
Ketua Muda Mudi Buddhis Gunungkidul, Sugeng Riyanto S Ag . KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Diprakarsai oleh Sangha Agung Indonesia (SAGIN), Y.A. Bhikku Jinaphallo, Vihara Siraman atau lebih tepatnya bernama Vihara Jhina Dharma Sradha yang berada di Padukuhan Siraman 3, Desa Siraman Kecamatan wonosari, Gunungkidul berdiri pada tahun 1981.

Diresmikan oleh Y.A Stavira Ashin Jinarakita pimpinan SAGIN dengan pusat di Jakarta, Vihara tersebut diperuntukkan sebagai tempat ibadah umat Buddha (puja bhakti) dan tempat pembinaan umat oleh Bhikku Sangha dalam bidang rohani dan Agama, selain itu juga sebagai kegiatan bidang sosial dan kemasyarakatan.

Disampaikan Ketua Muda Mudi Buddhis Gunungkidul, Sugeng Riyanto S Ag beberapa waktu lalu, bahwa Vihara yang menempati lahan seluas 2.443 meter persegi ini diketuai oleh rohaniawan tertinggi yakni Y.A. Bhikku Badra Phala.

Ia paparkan beberapa bangunan yang berada di komplek Vihara, yakni; Bhaktisala berfungsi sebagai tempat puja bhakti (kebaktian), Dhammasala sebagai tempat pembabaran Dhamma, Dhammasekha sebagai kegiatan belajar mengajar anak asuh.

Lalu Kuti sebagai tempat istirahat Rohaniawan/ Bhikku Sangha, aula tempat pertemuan, ruang gamelan dan asrma serta beberapa ruang yang lain layaknya hunian seperti dapur dan kamar mandi. Mengenai kegiatan peribadatan yang dilaksanakan di Vihara ini, jika dilihat dari periode waktunya ada yang bersifat mingguan dan tahunan.

“Puja bakti umum, tiap hari Uposattha dari pukul 18.30 hingga selesai, sedangkan Puja Bakti muda-mudi pada pukul 05.00 WIB hingga selesai. Ini biasanya pada hari-hari dimana disebut bulan gelap dan terang, tanggal 1, 7, atau 15 setiap bulannya,” terangnya.

Sedangkan untuk tahunan seperti pada saat hari-hari besar keagamaan Buddha, seperti; Hari Tri Suci Waisak, Hari Asadha, Hari Magha Puja, dan Hari Ulambana.

Vihara di Siraman ini dapat disebut sebagai Vihara induk, lalu persebaran umatnya di Gunungkidul terdapat di 7 lokasi lain, sehingga di tempat tersebut juga dibangun Vihara sebagai tempat peribadatan. Vihara-vihara tersebut antara lain Vihara Jhina Dharma Tirta berada di Giring 1, Giring, Paliyan, Vihara Jhina Vano Phalo di Monggol, Saptosari, Vihara Dharma Surya berada di Ngentak, Candirejo, Semin, Vihara Giri Surya berada di Wiloso, Girikarto, Panggang, Vihara Bakti Virya Dhamma berada di Pundung, Girikarto, Panggang, Vihara Dharma Ratna berada di Nglaos, Girikarto, Panggang, dan terakhir Vihara Giri Ratana di Giriwungu, Panggang.

Mengenai program pendidikan terutama bagi generasi penerus penganut Buddha, dilaksanakan melalui beberapa bentuk, seperti sekolah minggu di masing-masing vihara. Dirintis pula pendidikan anak usia dini/ TK Giri Paramitha di Girikarto, Panggang.

“Ada juga program Pusdiklat Buddhayana (Kusalamitra), yaitu pemberian fasilitas asrama dan pendidikan bagi anak asuh, layaknya pondok pesantren bagi kaum muslim, mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu akan ditanggung biaya pendidikannya di dekolah formal,” papar Sugeng.

Penanggungjawab bidang anak asuh ini ialah Kusalamitra Foundation/ Yayasan Gunadharma, tujuannya agar anak tersebut memiliki ilmu dan pendidikan yang cukup demi masa depan. Dari tahun 2004 asrama yang disediakan kini berisi 50-an anak baik dari Gunungkidu, luar Gunungkidul, bahkan luar Jawa.

Sumber pembiayaan, lanjut Sugeng, berasal dari donatur tidak mengikat, donatur tetap, simpatisan dan juga kementrian agama.

Selain program kegiatan kerohanian dan pendidikan, Vihara juga melaksanakan kegiatan sosial kemasyarakatan, sosial budaya, peduli lingkungan dan lainnya. Karena sebagai bagian dari warga dalam lingkup RT maupun padukuhan, setiap ada kegiatan kerja bakti atau gotong royong di sekitar, anak asuh Kusala Mitra ikut serta berbaur dengan masyarakat dengan harapan suatu saat nanti anak memiliki sikap tenggang rasa, disiplin dan cinta lingkungan.

“Vihara Jhina Dharma Srada juga melaksanakan donor darah bertepatan dengan hari Khatina yang diikuti segenap umat Buddha se- Gunungkidul,” tambah lelaki yang berasal dari Panggang ini.

Sebagai bentuk dukungan terhadap seni budaya, Dengan adanya seperangkat gamelan di Vihara Siraman, ibu-ibu PKK di Padukuhan Siraman membentuk kelompok seni karawitan Sri Budoyo, mereka mengadakan latihan setiap malam Senin.

Selain itu, ada juga kelompok seni Tari dan Kethoprak dengan nama Merti Budoyo, kelompok ini juga diberikan keleluasaan untuk menggunakan fasilitas kesenian yang disediakan Vihara. Ada lagi beberapa kegiatan yang ditujukan kepada lingkungan dan masyarakat, seperti halnya beberapa kali telah terlaksana, berupa pemberian bantuan ribuan bibit tanaman kepada masyarakat, droping air, serta fasilitas perpustakaan yang dibuka untuk umum.

“Tidak jarang ketika kita memiliki hajatan suatu perayaan, kita mengundang warga sekitar untuk membantu kelancaran, sebagai tenaga masak, atau yang lain layaknya hajatan secara umum,” pungkas Sugeng. (Kandar).

Komentar

Komentar