Umat Hindu Langsungkan Upacara Melasti 1939 Saka Di Pantai Ngobaran

oleh -
Ritual labuhan sesaji di Paseban Pantai Ngobaran menjadi salah satu rangkaian upacara Melasti Tahun 1939 Saka/ 2017 M. KH/ Kandar
iklan dispar
Ritual labuhan sesaji di Paseban Pantai Ngobaran menjadi salah satu rangkaian upacara Melasti Tahun 1939 Saka/ 2017 M. KH/ Kandar

SAPTOSARI, (KH)Memayu Hayuning Bawana, menjadi tema pelaksanaan upacara Melasti 1939 Saka/ 2017 M oleh umat Hindu Gunungkidul dan beberapa wilayah luar lainnya di Pantai Ngobaran, Minggu, (12/3/2017).

Disampaikan Ketua 1 Wanakerti, Kardi Widianto, Melasti yang dilangsungkan di Pura Segara Wukir Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari kali ini megusung pesan kepada umat agar dalam menjalani hidup selaras dengan alam.

“Dari Gunungkidul terlibat sekitar 2.500 umat. Wilayah lain sebagai pendukung hanya beberapa saja. Selayaknya hidup di semesta yang begitu indah ini harus saling menjaga, kita semua yang hidup menjaga alam, sebaliknya alam juga akan menjaga kita,” terang Kardi.

Lebih lanjut dijelaskan, upacara melasti juga merupakan simbol manunggaling atau menyatu dengan alam. Adanya perayaan Melasti teriring harapan, hidup yang selaras dengan alam dapat menuju atau menjadikan suatu keadaan gemah ripah loh jinawi, umat manusia sehat bagas waras, kemudian tercapai apa yang diinginkan.

“Tentunya kita sebagai manusia juga dapat menjaga persatuan dan toleransi antar umat beragama. Kita yang hidup adalah satu bersaudara,” jelas warga Ngawen ini.

Pantauan KH, upacara Melasti dilakukan melalui beberapa prosesi dan ritual. Diawali dengan meng-arak Pekuluh dari seluruh pura di Gunungkidul menuju pantai yang diiringi Mantra Suci dan Kidung Suci yang dipimpin oleh Wasi atau Pinandita.

Prosesi ini menggambarkan laku spiritual atau laku prihatin, di mana untuk menuju kesempurnaan, manusia mesti berjalan di jalan kebenaran. Perjalanan manusia dipimpin oleh Tuhan Yang Maha Esa, dengan simbol ‘Asepan’, diikuti oleh umat yang melakukan puja mantra dan ungkapan terimakasih dengan membawa simbol-simbol kemenangan dan gunungan yang diiringi tetabuhan musik khas Jawa-Bali.

Setelah itu, upacara dilanjutkan dengan mengusung Pratima menuju Paseban Pantai Ngobaran untuk disucikan meliputi Buana Agung dan Buana Alit. Dalam ritual ini juga dilaksanakan Labuhan sesaji yang dipersembahkan kepada penguasa laut Pantai Selatan (Kanjeng Ratu Kidul), dengan memohon segala manifestasi Tuhan untuk memberikan anugerah kesucian. dengan menghadap ke samudra sekaligus memohon tirta amerta (air kehidupan). (Kandar)

Komentar

Komentar